Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melonjak lebih dari US$1 pada Rabu (4/3/2026) setelah perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mengganggu produksi dan menghentikan ekspor energi dari kawasan Timur Tengah.
Melansir Reuters, harga minyak mentah acuan Brent naik US$1,11 atau 1,4% menjadi US$82,53 per barel, setelah ditutup pada level tertinggi sejak Januari 2025 pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 79 sen atau 1,1% menjadi US$75,37 per barel, juga berada di level tertinggi sejak Juni.
Baca Juga: Aktivitas Pabrik China Kontraksi Lagi Februari, PMI Turun ke Level Terendah 4 Bulan
Pasukan Israel dan AS menggempur sejumlah target di Iran pada Selasa (3/3), yang dibalas dengan serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan yang menyumbang hampir sepertiga produksi minyak global.
Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari (bph), atau sekitar separuh outputnya, akibat keterbatasan penyimpanan dan tidak adanya jalur ekspor.
Pejabat setempat menyebut produksi hampir 3 juta bph berpotensi dihentikan dalam beberapa hari jika ekspor tidak segera pulih.
Iran juga menargetkan kapal tanker di Strait of Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Lalu lintas di selat tersebut secara efektif masih tertutup untuk hari keempat setelah Iran menyerang lima kapal.
Baca Juga: Pentagon Umumkan Empat Tentara AS Tewas Pertama dalam Perang Iran
Namun, komentar Presiden AS Donald Trump bahwa Angkatan Laut AS dapat mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan membantu menahan lonjakan harga minyak agar tidak lebih tajam.
Trump juga menyatakan telah memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan bagi perdagangan maritim di Teluk.
Meski demikian, sejumlah pemilik kapal dan analis meragukan apakah pengawalan militer dan dukungan asuransi cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Sejumlah negara dan perusahaan mulai mencari rute serta pasokan alternatif. India dan Indonesia menyatakan tengah mengupayakan sumber energi lain, sementara beberapa kilang di China menghentikan operasi atau mempercepat jadwal perawatan.
Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan berupaya mengalihkan sebagian ekspor melalui Laut Merah guna menghindari Selat Hormuz.
Baca Juga: CEO Goldman Sachs Nilai Pasar Butuh “Beberapa Pekan” Cerna Dampak Perang Iran
Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah naik 5,6 juta barel pekan lalu, menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute jauh di atas proyeksi analis sebesar 2,3 juta barel. Data resmi pemerintah AS dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Lonjakan harga minyak di tengah ketidakpastian geopolitik ini meningkatkan risiko inflasi global dan menambah tekanan terhadap pasar keuangan.













