Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - LONDON. Persediaan minyak global dapat mencapai tingkat kritis menjelang periode puncak permintaan di musim panas. International Energy Agency (IEA) menyebut ini bisa terjadi jika penarikan stok terus berlanjut dengan kecepatan saat ini.
Permintaan bahan bakar biasanya mencapai puncaknya saat kawasan bumi utara memasuki musim panas. Alasannya, banyak orang pergi berlibur, sehingga kebutuhan bahan bakar untuk kendaraan, baik kendaraan darat hingga pesawat, meningkat.
"Kami melihat penarikan stok terus berlanjut hingga musim panas, dan dengan kemungkinan atau peluang mencapai tingkat kritis atau tingkat terendah dalam sejarah tepat sebelum puncak permintaan musim panas," kata Toril Bosoni, Head of Oil Industry & Markets Division IEA, seperti dikutip Reuters, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Turun 1%, Pasca Trump Tegaskan Negosiasi dengan Iran Masih Berlangsung
Kondisi tersebut membuat IEA berpotensi terpaksa kembali mengordinasikan negara-negara untuk melepas cadangan darurat minyak. Kendati begitu, IEA menyatakan saat ini belum ada pembahasan mengenai hal tersebut.
Alasannya, Bosoni menuturkan, dari pelepasan cadangan darurat minyak sebanyak 400 juta barel yang dilakukan sejak Maret lalu, sekitar setengahnya masih belum masuk ke pasar.
“Bagaimanapun, pelepasan stok darurat hanyalah tindakan sementara, itu tidak akan menyelesaikan masalah ini. Skala kehilangan pasokan sangat besar sehingga pengurangan harus berasal dari sisi permintaan,” kata Bosoni.
Baca Juga: Kapal Minyak dan LNG Mulai Bergerak di Selat Hormuz, Ini Sinyal yang Ditunggu Pasar
Penurunan permintaan bisa terjadi bila harga yang tinggi memaksa konsumen mengurangi pembelian sampai pasokan dan permintaan lebih seimbang. IEA melihat harga yang lebih tinggi dan prospek ekonomi yang lebih lemah akan mengakibatkan permintaan yang lebih rendah untuk bahan bakar transportasi.
Impor minyak mentah China lebih rendah 6 juta barel per hari pada Mei dibandingkan dengan Maret. Kondisi ini menjadi faktor penyeimbang di pasar dan menjadi alasan harga minyak sedikit melemah meskipun Selat Hormuz masih ditutup.
Bosoni menyebut, dalam Konferensi Minyak dan Gas Timur Tengah S&P Global Energy di London, dalam skenario paling optimistis sekalipun, dibutuhkan waktu enam hingga delapan bulan untuk membuka kembali Selat Hormuz jika kesepakatan tercapai saat ini.
Baca Juga: China Izinkan Pemangkasan Produksi Beberapa Kilang yang Merugi
IEA mencatat produsen minyak di Teluk telah kehilangan sekitar 14 juta barel per hari pasokan sejak akhir Februari. Sementara itu, produsen di Amerika telah meningkatkan pasokan, dengan Amerika Serikat, Argentina, Brasil, dan Venezuela semuanya menunjukkan peningkatan yang mengejutkan.
Dalam laporan pasar minyak bulanan terbarunya, IEA memperkirakan pertumbuhan pasokan di Amerika pada tahun ini mencapai 1,5 juta barel per hari. Angka ini naik 600.000 barel per hari dari awal tahun 2026.
Namun, menurut Bosoni, peningkatan tersebut hanya memberikan kompensasi marginal terhadap volume yang hilang dari pasar global di wilayah timur Suez.













