Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kenaikan harga tiket pesawat dan tarif hotel membuat banyak warga Amerika Serikat yang sensitif terhadap harga mulai menunda bahkan membatalkan rencana liburan musim panas mereka. Di sisi lain, kalangan berpenghasilan tinggi tetap melanjutkan agenda perjalanan meski biaya terus meningkat.
Fenomena ini mencerminkan semakin lebarnya kesenjangan dalam pemulihan sektor pariwisata pascapandemi. Kondisi tersebut menjadi contoh terbaru dari ekonomi berbentuk “K-shaped”, di mana kelompok masyarakat kaya tetap kuat secara finansial sementara kelas menengah dan bawah mulai tertekan.
Tren serupa juga terlihat pada sektor konsumsi lain seperti bahan pangan, restoran, hingga pakaian.
Kenaikan inflasi, khususnya biaya bahan bakar yang melonjak akibat perang Amerika Serikat dengan Iran sejak akhir Februari, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan biaya perjalanan.
Survei terbaru Deloitte menunjukkan hanya 45% warga Amerika yang telah membuat rencana perjalanan musim panas tahun ini, menjadi angka terendah dalam enam tahun terakhir. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok berpenghasilan menengah US$ 100.000 hingga US$ 199.000 per tahun, yang turun menjadi 37% dari sebelumnya 45% pada tahun lalu.
Baca Juga: Warga AS Banyak Tinggalkan Obamacare karena Premi Mahal
Berbicara dalam konferensi Bernstein pada Rabu (28/5), CEO American Airlines, Robert Isom, mengatakan bahwa pola permintaan perjalanan memang menunjukkan bentuk “K-shaped”.
“Tidak diragukan lagi bahwa permintaan menunjukkan pola berbentuk K, dengan wisatawan berpenghasilan tinggi melampaui pelanggan kelas menengah dan bawah,” ujarnya.
Meski demikian, Isom menilai permintaan perjalanan masih tumbuh di semua kelompok pendapatan dan permintaan wisata rekreasi tetap “sangat kuat”.
Wisatawan Menunggu Harga Turun
Di kalangan konsumen berpenghasilan rendah dan menengah yang masih bepergian, banyak yang kini menunda pemesanan tiket dengan harapan harga akan turun. Sebagian wisatawan membatalkan perjalanan internasional dan memilih destinasi yang lebih dekat serta lebih murah.
Konsumen yang lebih hemat juga mulai memilih perjalanan darat atau paket kapal pesiar yang mencakup akomodasi, makanan, aktivitas, hingga penerbangan dalam satu harga tetap.
Data pemerintah AS menunjukkan harga tiket pesawat pada April naik lebih dari 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Maskapai penerbangan juga mulai membebankan kenaikan biaya bahan bakar melalui tarif dan biaya tambahan yang lebih membebani penumpang kelas ekonomi.
Sementara itu, data dari agen perjalanan InteleTravel menunjukkan pemesanan perjalanan internasional musim panas dari AS turun sekitar 25% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ada orang-orang yang berkata, ‘Saya ingin melihat seberapa lama saya bisa menunggu untuk mengetahui apakah harga akan turun,’” kata Peter Vlitas, wakil presiden Internova Travel Group.
Baca Juga: AS Waspadai Ancaman Pelacakan Militer via Data Digital
Penurunan permintaan tersebut paling terasa di kabin belakang atau kelas ekonomi.
CEO InteleTravel James Ferrara mengatakan kenaikan tarif kabin premium jauh lebih moderat, hanya sekitar 7%, dibandingkan lonjakan tajam pada tiket ekonomi. Hal itu membuat wisatawan kaya masih mampu menanggung kenaikan biaya perjalanan bisnis dan kelas satu.
Generasi Muda Mulai Mengurangi Liburan
Lulusan baru perguruan tinggi sekaligus atlet anggar profesional, Kamar Andreas (24), mengatakan kepada Reuters bahwa dirinya membatalkan rencana perjalanan ke Spanyol dari Atlanta musim panas ini karena harga tiket mencapai sekitar US$ 2.000. Padahal ia memperkirakan biaya perjalanan hanya sekitar US$ 1.000.
Andreas mengaku masih memiliki beberapa perjalanan penting tahun ini, termasuk latihan di Prancis. Namun ia tetap menunda pemesanan dengan harapan harga turun.
“Saya mencoba melihat apakah harga akan berubah sebelum memesan karena beberapa harga benar-benar tidak masuk akal,” katanya kepada Reuters.
Angka Perjalanan Tinggi Menutupi Kesenjangan
Meski demikian, jutaan warga Amerika diperkirakan tetap bepergian selama puncak musim panas, menunjukkan masih adanya kesediaan masyarakat untuk menyerap kenaikan biaya.
Data Deloitte menunjukkan wisatawan yang tetap bepergian berencana mengeluarkan biaya lebih besar untuk perjalanan musim panas terpanjang mereka tahun ini, meskipun jumlah rumah tangga yang ikut berlibur semakin sedikit.
Baca Juga: Ukraina dan Swedia Matangkan Paket Jet Tempur Gripen
Namun, angka perjalanan yang secara umum masih tinggi dinilai menutupi kesenjangan yang semakin melebar. Agen perjalanan dan platform wisata mulai melihat perubahan pola perjalanan masyarakat akibat tekanan biaya.
Agen perjalanan independen Erika Bullock mengatakan sekitar separuh peserta yang awalnya direncanakan ikut tur grup ke Bali dan Thailand akhirnya membatalkan perjalanan.
“Saya tahu harga tiket penerbangan sangat berpengaruh, tetapi merencanakan perjalanan ke Thailand dan Bali juga memang bukan perjalanan murah,” ujar agen asal Fort Worth, Texas tersebut.
Permintaan hotel ekonomi juga mulai melemah, bahkan beberapa operator memberikan diskon untuk mengisi kamar. Sebaliknya, hotel kelas atas masih mencatat pertumbuhan yang lebih kuat.
“Kaum muda dan mereka yang kurang memiliki pekerjaan tetap semakin sulit mendapatkan pijakan,” kata Aran Ryan, direktur studi industri di Tourism Economics, perusahaan di bawah Oxford Economics.
“Namun kami masih melihat prospek pertumbuhan perjalanan yang positif pada musim panas ini,” tambahnya.













