kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.111   28,00   0,15%
  • IDX 6.186   94,98   1,56%
  • KOMPAS100 811   14,88   1,87%
  • LQ45 619   12,34   2,03%
  • ISSI 214   3,34   1,59%
  • IDX30 349   7,21   2,11%
  • IDXHIDIV20 430   7,44   1,76%
  • IDX80 93   1,76   1,94%
  • IDXV30 117   2,05   1,78%
  • IDXQ30 112   2,25   2,06%

Terusan Suez Berpotensi Jadi Medan Baru Konflik AS-Iran setelah Serangan Drone


Kamis, 30 Juli 2026 / 23:29 WIB
Terusan Suez Berpotensi Jadi Medan Baru Konflik AS-Iran setelah Serangan Drone
ILUSTRASI. Terusan Suez-SATELLITE-IMAGES (CNES/AIRBUS DS via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Serangan pesawat nirawak (drone) terhadap kapal-kapal gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, memunculkan ancaman baru dalam konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Insiden tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di sekitar Terusan Suez, salah satu jalur ekspor utama minyak Arab Saudi yang masih beroperasi.

Baca Juga: UEFA Boikot Piala Dunia, Tolak Rencana FIFA Jual Saham ke Investor Swasta

Pemerintah Mesir pada Kamis (30/7/2026) menyatakan, hasil penyelidikan awal menunjukkan sebuah drone tak dikenal menjadi penyebab kebakaran pada dua kapal di Pelabuhan Damietta pada Rabu (29/7).

Pelabuhan tersebut berada di dekat Terusan Suez yang menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah.

Hingga kini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sumber perdagangan yang mengetahui insiden itu mengatakan drone menghantam kapal penyimpanan gas Energos Winter yang dimiliki perusahaan asal AS. Kebakaran kemudian merambat ke kapal lain yang berada di dekatnya.

Di sisi lain, militer AS mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap pusat komando militer dan fasilitas drone milik Korps Garda Revolusi Iran setelah Teheran menembakkan rudal ke pasukan AS di kawasan tersebut.

Baca Juga: Iran Protes Bulgaria atas Penggunaan Pangkalan Bezmer oleh Militer AS

Media pemerintah Iran, mengutip Garda Revolusi, melaporkan serangan AS menewaskan tiga warga sipil dan melukai dua anak di Pulau Qeshm. Selain itu, tiga anggota Garda Revolusi juga dilaporkan tewas di Provinsi Zanjan.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Khuzestan mengatakan dua kompleks asrama mahasiswa di Kota Ahvaz mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Korps Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang Pangkalan Militer Azraq di Yordania sebagai balasan, dengan menargetkan pesawat tempur F-35 milik AS dan menewaskan sejumlah personel militer AS. Namun, Pentagon belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

Belakangan ini, pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania menjadi sasaran utama serangan Iran. Militer Yordania menyatakan berhasil mencegat lima rudal Iran pada Kamis.

Iran juga mengklaim menyerang aset militer AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait hingga menghancurkan dua hanggar drone dan satu fasilitas penyimpanan bahan bakar, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.

Di Kuwait, Kementerian Pertahanan menyebut sebuah bangunan milik perusahaan asal China di wilayah utara negara itu terkena serangan Iran. Insiden tersebut menewaskan satu pekerja dan menyebabkan kerusakan besar.

Baca Juga: BP Bakal Pangkas 700 Karyawan Non-Frontline demi Tingkatkan Profitabilitas

Arab Saudi ikut bergabung

Untuk pertama kalinya sejak perang berlangsung lima bulan terakhir, Arab Saudi secara terbuka bergabung dengan AS dalam melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak timur pada Rabu (29/7).

Serangan tersebut merupakan respons atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang diluncurkan dari Irak.

Baca Juga: Inflasi AS Melandai ke 3,7% pada Juni, Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman Baru

Menurut penilaian Arab Saudi dan sejumlah mitra regional, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan ke Arab Saudi dari wilayah Irak dengan berkoordinasi bersama kelompok bersenjata Irak.

Setelah operasi gabungan tersebut, Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington untuk mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump agar tidak semakin meningkatkan eskalasi konflik, kata dua sumber kepada Reuters.

Konflik ini bermula pada Februari ketika AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman terhadap Iran yang menurut Trump hanya akan berlangsung beberapa pekan.

Gencatan senjata sementara yang sempat tercapai pada Juni akhirnya runtuh setelah pertempuran kembali pecah di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang diklaim kini berada di bawah kendali Iran.

Serangan terbaru di Irak dan Mesir dikhawatirkan akan menyeret lebih banyak negara Timur Tengah ke dalam konflik.

Pekan lalu, kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan mengancam jalur Laut Merah yang menjadi rute alternatif ekspor minyak Saudi menuju Asia.

Baca Juga: Bank Sentral Inggris Tahan Suku Bunga, Lebih Banyak Pembuat Kebijakan Dukung Kenaikan

Serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut juga mendorong pasar asuransi maritim London memperluas zona berisiko tinggi di Laut Merah hingga mencakup wilayah pesisir dekat pelabuhan Arab Saudi.

Presiden Trump mengatakan AS akan memberikan respons keras atas serangan rudal Iran terhadap pasukan AS.

Namun, Washington tetap membuka peluang penyelesaian damai untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi dan keuangan global.

Harga minyak sempat melonjak lebih dari 8% pada Rabu sebelum kembali turun sekitar 1% pada Kamis. Minyak mentah Brent diperdagangkan di bawah level US$ 90 per barel.

Ketegangan di Selat Hormuz

Iran pada Rabu mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang tidak mendapat izin.

Meski demikian, sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang dikendalikan QatarEnergy tercatat berhasil keluar dari Selat Hormuz pada malam hari.

Data pelacakan kapal menunjukkan itu merupakan kapal LNG pertama yang meninggalkan selat tersebut sejak 11 Juli.

Baca Juga: BTS Boikot Grammy 2027, Tolak Kategori Baru Musik Pop Asia

Kantor berita Fars melaporkan Iran memberikan izin bagi kapal tersebut untuk melintas.

Sementara itu, Oman telah mengajukan proposal yang didukung negara-negara Teluk untuk mengelola Selat Hormuz, termasuk melalui skema pungutan sukarela bagi kapal yang melintas.

Iran sempat menolak usulan tersebut pada Rabu. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, seperti dikutip kantor berita ILNA, mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai Selat Hormuz masih terus berlangsung.

Di tengah konflik yang memperlihatkan kelemahan sistem pertahanan Iran, tiga sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Teheran diperkirakan akan menerima pengiriman pertama hingga 400 peluncur rudal pertahanan udara portabel buatan China dalam beberapa pekan ke depan.

Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas laporan itu, sementara Kementerian Luar Negeri China membantah kabar tersebut.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×