kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.111   28,00   0,15%
  • IDX 6.186   94,98   1,56%
  • KOMPAS100 811   14,88   1,87%
  • LQ45 619   12,34   2,03%
  • ISSI 214   3,34   1,59%
  • IDX30 349   7,21   2,11%
  • IDXHIDIV20 430   7,44   1,76%
  • IDX80 93   1,76   1,94%
  • IDXV30 117   2,05   1,78%
  • IDXQ30 112   2,25   2,06%

Inflasi AS Melandai ke 3,7% pada Juni, Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman Baru


Kamis, 30 Juli 2026 / 20:44 WIB
Inflasi AS Melandai ke 3,7% pada Juni, Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman Baru
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Laju inflasi Amerika Serikat (AS) melambat pada Juni 2026. Namun, pelemahan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara karena memanasnya kembali konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Melansir Reuters, Biro Analisis Ekonomi (Bureau of Economic Analysis/BEA) di bawah Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Kamis (30/7), indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) ukuran inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) naik 3,7% secara tahunan (year on year / YoY) pada Juni.

Baca Juga: Bank Sentral Inggris Tahan Suku Bunga, Lebih Banyak Pembuat Kebijakan Dukung Kenaikan

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kenaikan 4,1% pada Mei yang merupakan laju tertinggi sejak April 2023. Capaian Juni juga sejalan dengan ekspektasi para ekonom.

Secara bulanan (month on month / MoM), indeks PCE turun 0,1% setelah naik 0,5% pada Mei. Penurunan ini menjadi yang terlemah sejak April 2020.

Data inflasi tersebut juga dimasukkan dalam laporan awal produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II-2026 yang dirilis pada hari yang sama.

Perlambatan inflasi pada Juni terutama dipengaruhi oleh turunnya harga minyak ketika gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran masih berlangsung. Namun, kondisi tersebut kini telah berubah setelah konflik kembali memanas.

Harga minyak Brent kini bertahan di atas US$ 90 per barel, sementara harga rata-rata bensin di AS kembali menembus US$ 4 per galon.

Di luar komponen pangan dan energi yang bergejolak, inflasi inti PCE naik 3,3% secara tahunan pada Juni, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,4% pada Mei.

Secara bulanan, inflasi inti hanya naik 0,1%, melambat dari kenaikan 0,3% pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Chelsea Resmi Rekrut Maxence Lacroix dari Crystal Palace hingga 2032

Peluang Kenaikan Suku Bunga Meningkat

The Fed menggunakan, indeks PCE sebagai indikator utama dalam mengejar target inflasi sebesar 2%.

Pada Rabu (29/7), bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.

Meski demikian, tiga anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyatakan berbeda pendapat dan menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan, bank sentral tidak akan mengendurkan komitmennya untuk mengembalikan inflasi ke target.

"Tidak ada target inflasi yang lunak ataupun target implisit yang longgar dalam komite ini," tegas Warsh.

Sejumlah ekonom kini memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Baca Juga: China Andalkan Belanja Infrastruktur untuk Topang Ekonomi, Bukan Stimulus Jumbo

Konsumsi Mulai Kehilangan Tenaga

Di sisi lain, belanja konsumen AS masih tumbuh, meski terdapat tanda-tanda perlambatan.

Pengeluaran konsumen yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS naik 0,3% pada Juni, setelah melonjak 0,9% pada Mei.

Setelah disesuaikan dengan inflasi, belanja konsumen riil meningkat 0,4%, sama seperti bulan sebelumnya.

Sementara itu, pendapatan pribadi naik 0,2%, melambat dari kenaikan 0,7% pada Mei.

Pendapatan riil setelah memperhitungkan inflasi naik 0,3% pada Juni.

Baca Juga: Yield Obligasi AS 30 Tahun Sentuh Level Tertinggi 19 Tahun, Ini Pemicunya

Di sisi lain, tingkat tabungan masyarakat turun menjadi 2,7% dari 2,8% pada Mei, sekaligus menjadi level terendah sejak Juni 2022.

Para ekonom menilai daya beli masyarakat selama ini masih terbantu oleh besarnya pengembalian pajak (tax refund) yang diterima pada tahun ini.

Namun, efek tersebut diperkirakan mulai memudar sehingga konsumsi rumah tangga berpotensi melambat pada paruh kedua 2026.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×