kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Warga AS Banyak Tinggalkan Obamacare karena Premi Mahal


Kamis, 28 Mei 2026 / 18:47 WIB
Warga AS Banyak Tinggalkan Obamacare karena Premi Mahal
ILUSTRASI. Membayar premi asuransi Obamacare kini jadi beban berat. Jutaan warga AS terancam kehilangan perlindungan (NULL/SHANNON STAPLETON)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Semakin banyak warga Amerika Serikat keluar atau dikeluarkan dari program asuransi kesehatan Obamacare akibat gagal membayar premi.

Tren ini tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan berpotensi menjadi beban politik bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Partai Republik menjelang pemilu sela pada November mendatang.

Data hingga April dari sejumlah negara bagian yang mengelola pasar asuransi mereka sendiri menunjukkan lonjakan pembatalan kepesertaan akibat tunggakan pembayaran premi.

Kentucky dan Idaho menjadi dua negara bagian dengan lonjakan paling mencolok. Di Kentucky, jumlah peserta yang membatalkan atau kehilangan perlindungan asuransi meningkat tiga kali lipat. Sementara di Idaho, jumlah peserta menyusut sebanyak 24.402 orang, lebih tinggi dibandingkan penurunan 15.866 peserta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagai perbandingan, pembatalan kepesertaan di California hanya meningkat sekitar 6%.

Baca Juga: AS Waspadai Ancaman Pelacakan Militer via Data Digital

Secara nasional, sekitar 23 juta orang mendaftar atau otomatis diperpanjang kepesertaannya dalam program asuransi kesehatan 2026 yang dibentuk melalui Affordable Care Act (ACA) era Presiden Barack Obama. Namun angka tersebut turun 5% dibandingkan tahun lalu.

Penurunan itu sebagian besar dipicu berakhirnya subsidi tambahan yang diberikan selama pandemi Covid-19 untuk membantu masyarakat mempertahankan kepesertaan asuransi kesehatan.

Tanpa subsidi tersebut, premi asuransi meningkat rata-rata 114% menjadi US$ 1.905 per tahun, berdasarkan data lembaga riset kebijakan kesehatan KFF.

“Konsumen kini menghadapi biaya premi sebenarnya tanpa subsidi dan memilih meninggalkan marketplace asuransi,” ujar analis kebijakan KFF, Matt McGough.

Pusat Layanan Medicare dan Medicaid Amerika Serikat (CMS), yang mengawasi Obamacare dan mengoperasikan HealthCare.gov di sekitar 30 negara bagian, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Isu Keterjangkauan Jadi Sorotan Pemilih

Keterjangkauan biaya asuransi kesehatan kini menjadi salah satu isu utama bagi pemilih di Amerika Serikat.

Profesor kebijakan kesehatan dari University of North Carolina School of Medicine, Jonathan Oberlander, mengatakan dampak persoalan ini akan semakin besar seiring berjalannya tahun, layaknya “badai yang perlahan mendekat”.

Survei KFF menunjukkan layanan kesehatan yang terjangkau tetap menjadi kekhawatiran utama masyarakat, sejajar dengan lonjakan harga bahan bakar dan biaya transportasi akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Baca Juga: Iran dan AS Saling Serang di Tengah Ketegangan Selat Hormuz dan Kebuntuan Negosiasi

Lebih dari tiga perempat pemilih independen yang diperebutkan kedua partai menyatakan biaya layanan kesehatan akan memengaruhi keputusan mereka dalam memilih dan menentukan kandidat partai yang didukung pada pemilu November mendatang.

Juru bicara bursa asuransi kesehatan Idaho mengatakan faktor keterjangkauan menjadi alasan utama meningkatnya penghentian kepesertaan di negara bagian tersebut.

Menurut Oberlander, saat pemilu sela November digelar untuk menentukan penguasaan Kongres AS, semakin banyak warga diperkirakan kehilangan perlindungan asuransi kesehatan dan perhatian media terhadap isu ini akan terus meningkat.

Perusahaan konsultan asuransi kesehatan Wakely Consulting Group memperkirakan total kepesertaan Obamacare turun antara 17% hingga 26% sampai Maret 2026. Estimasi tersebut didasarkan pada analisis data pembayaran premi yang mencakup sekitar 80% pasar individu Obamacare.

Wakely menyebut lebih dari 14% peserta tidak membayar premi Januari mereka, sejalan dengan survei KFF pada Maret yang menemukan sekitar 15% peserta Obamacare menunggak pembayaran premi akibat meningkatnya biaya.

CMS sebelumnya menyatakan akan merilis data jumlah peserta yang membayar premi pada musim semi tahun ini.

Kondisi Berbeda di Tiap Negara Bagian

Dari 20 negara bagian dan District of Columbia yang mengelola marketplace asuransi sendiri dan dihubungi Reuters, sebanyak 12 wilayah memberikan gambaran kondisi beberapa bulan terakhir.

Connecticut, Massachusetts, dan New Mexico melaporkan ribuan konsumen gagal membayar premi pertama mereka atau kehilangan perlindungan asuransi pada awal tahun akibat tunggakan pembayaran.

Baca Juga: Pound Sterling Melemah Tiga Hari Beruntun di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Sebagian besar negara bagian dan pemerintah federal memberikan masa tenggang pembayaran selama 90 hari atau lebih.

Di Kentucky, antara Januari hingga April, sebanyak 15.067 peserta yang memilih paket asuransi 2026 kehilangan perlindungan akibat gagal membayar premi. Angka tersebut melonjak dibandingkan 5.034 pembatalan pada periode yang sama tahun lalu.

Negara bagian itu juga mencatat penurunan total kepesertaan sebesar 8,5% pada Januari, menurut juru bicara Kentucky Cabinet for Health and Family Services.

Menurut Matt McGough dari KFF, Kentucky dan Idaho juga terdampak minimnya jumlah perusahaan asuransi yang umum terjadi di wilayah pedesaan, sehingga kompetisi rendah dan harga premi menjadi lebih mahal.

Juru bicara Kentucky mengatakan marketplace asuransi di negara bagian tersebut kini hanya memiliki tiga perusahaan asuransi pada 2026, turun dari empat perusahaan pada 2025.

Sementara itu, beberapa negara bagian seperti Colorado mampu memberikan dukungan berbasis negara bagian yang membantu menjaga keterjangkauan premi dan menekan penghentian kepesertaan.

Colorado dan Pennsylvania masing-masing hanya mencatat penurunan kepesertaan sebesar 2%.

Direktur Eksekutif Maryland’s Health Benefit Exchange, Michele Eberle, mengatakan jumlah peserta di wilayahnya turun 8% dan lebih dari 60% peserta yang keluar menyebut kenaikan biaya sebagai alasan utama.

Maryland memperkirakan total kepesertaan akan turun hingga 15% tahun ini.

“Kita akan melihat penurunan dari bulan ke bulan, terutama karena harga bensin terus naik,” kata Eberle.

“Kita harus melihat sampai di mana batas kemampuan masyarakat bertahan,” tambahnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×