kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.074   -37,00   -0,20%
  • IDX 6.233   46,54   0,75%
  • KOMPAS100 818   7,31   0,90%
  • LQ45 622   3,53   0,57%
  • ISSI 215   1,67   0,78%
  • IDX30 350   1,45   0,42%
  • IDXHIDIV20 431   1,19   0,28%
  • IDX80 93   0,71   0,76%
  • IDXV30 118   0,70   0,59%
  • IDXQ30 112   0,23   0,21%

PBOC Kembali Tekan Yuan, Kurs Tengah Dipatok Jauh di Bawah Estimasi Pasar


Jumat, 31 Juli 2026 / 09:05 WIB
PBOC Kembali Tekan Yuan, Kurs Tengah Dipatok Jauh di Bawah Estimasi Pasar
ILUSTRASI. China (REUTERS/Florence Lo)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bank sentral China menetapkan kurs tengah (midpoint) yuan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lebih lemah dari perkiraan pasar pada Jumat (31/7/2026).

Selisih antara kurs acuan dan estimasi pasar menjadi yang terbesar dalam lima bulan terakhir, meski dolar AS sedang mengalami pelemahan secara global.

Baca Juga: HSBC Jual Portofolio Pinjaman Australia US$ 25,3 Miliar ke Blackstone

Mengutip Reuters, People's Bank of China (PBOC) menetapkan kurs tengah yuan di level 6,7894 per dolar AS, atau 581 pips lebih lemah dibandingkan estimasi Reuters di level 6,7313 per dolar AS. Ini merupakan deviasi ke arah pelemahan terbesar sejak 27 Februari.

Dalam sistem nilai tukar China, yuan di pasar spot diperbolehkan bergerak hingga 2% di atas atau di bawah kurs tengah yang ditetapkan PBOC setiap hari.

Sejak November 2025, PBOC secara konsisten menetapkan kurs tengah yuan lebih lemah dibandingkan perkiraan pasar.

Menurut para analis dan pelaku pasar, kebijakan tersebut mencerminkan upaya bank sentral untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing sekaligus mencegah penguatan yuan yang dinilai terlalu cepat atau berlebihan.

Baca Juga: Microsoft Pecahkan Rekor, Nilai Pasar Melonjak Rp8.100 Triliun dalam Sehari

Strategi tersebut juga menunjukkan bahwa otoritas moneter China masih mengutamakan stabilitas nilai tukar di tengah dinamika pasar global, meskipun dolar AS tengah berada dalam tren pelemahan.


Video Terkait



TERBARU

[X]
×