Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Presiden FIFA, Gianni Infantino, menjadi bahan perbincangan yang sangat panas sejak Piala Dunia 2026 bergulir. Kontroversi adalah alasannya.
Selama hampir satu dekade menjabat sebagai Presiden FIFA, Infantino sebenarnya mampu membawa peningkatan pendapatan organisasi.
Di saat yang sama, ia juga rutin terlibat dalam sejumlah kontroversi yang memicu perdebatan di dunia sepak bola.
Pria asal Swiss itu mengambil alih kursi Presiden FIFA pada 2016 setelah organisasi tersebut diguncang skandal korupsi yang melibatkan pendahulunya, Sepp Blatter.
Sejak saat itu, berbagai kebijakan yang diambil Infantino kerap menjadi perhatian, mulai dari pemilihan tuan rumah Piala Dunia hingga rencana komersialisasi turnamen terbesar FIFA.
Berikut rangkuman perjalanan dan kontroversi Gianni Infantino selama memimpin FIFA.
Baca Juga: UEFA Boikot Piala Dunia, Tolak Rencana FIFA Jual Saham ke Investor Swasta
1. Dugaan Pelanggaran Etik
Tak lama setelah terpilih pada 2016, Infantino langsung menjadi objek penyelidikan Komite Etik FIFA.
Kasus tersebut berkaitan dengan penggunaan dua penerbangan jet pribadi. Setelah dilakukan pemeriksaan, FIFA menyatakan tidak menemukan pelanggaran sehingga penyelidikan dihentikan.
Mengutip The Guardian, pada 2017 muncul tuduhan baru yang menyebut Infantino ikut memengaruhi pergantian pimpinan Komite Etik FIFA. Ia juga dituduh berupaya memengaruhi pemilihan Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Komite Etik FIFA akhirnya membebaskan Infantino dari seluruh tuduhan pada Agustus 2020.
Baca Juga: Proposal Kontroversial FIFA Berpotensi Dongkrak Gaji Infantino hingga Rp1,16 T
2. Pernyataan Kontroversial Jelang Piala Dunia Qatar 2022
Saat itu, banyak negara Barat mengkritik FIFA karena menunjuk Qatar sebagai tuan rumah di tengah isu hak pekerja migran dan komunitas LGBTQ+. Infantino justru membalas kritik tersebut dengan menyebut negara-negara Barat bersikap munafik.
Infantino juga mempertanyakan perusahaan-perusahaan Barat yang memperoleh keuntungan besar dari investasi di Qatar, tetapi dinilai tidak pernah menyuarakan hak-hak pekerja migran.
Dalam kesempatan yang sama, ia melontarkan kalimat yang kemudian viral.
"Hari ini saya merasa sebagai orang Qatar. Hari ini saya merasa sebagai orang Arab. Hari ini saya merasa sebagai orang Afrika. Hari ini saya merasa gay. Hari ini saya merasa penyandang disabilitas. Hari ini saya merasa seperti pekerja migran," kata Infantino, dikutip Sporting News.
Baca Juga: FIFA Tawarkan Rp723 Miliar untuk Federasi Pendukung Rencana Infantino
3. Proses Penunjukan Arab Saudi sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2034
Pada 2024, FIFA mengumumkan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Keputusan itu dikritik karena proses pencalonannya dianggap menguntungkan Arab Saudi.
FIFA membatasi proses bidding hanya untuk negara di Asia dan Oseania. Akibatnya, Arab Saudi menjadi satu-satunya kandidat yang bertahan hingga proses pemilihan.
Pengumuman tersebut memicu kritik karena Arab Saudi juga masih menghadapi berbagai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.
Selain itu, hubungan bisnis FIFA dengan Arab Saudi semakin erat melalui kerja sama sponsor bersama Aramco dan Public Investment Fund (PIF).
Baca Juga: Mengenal FIFA Forward Enterprise, Anak Usaha Baru FIFA Bernilai US$20 Miliar
4. Memberikan FIFA Peace Prize kepada Donald Trump
Kontroversi lain muncul ketika Infantino memberikan penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Penghargaan tersebut diberikan pada pengundian Piala Dunia 2026 setelah Infantino sebelumnya secara terbuka mendukung pencalonan Trump untuk Nobel Perdamaian.
Keputusan tersebut memicu kritik karena dianggap terlalu politis dan memperlihatkan kedekatan pribadi antara keduanya.
Baca Juga: Federasi Dunia Kompak Respons Rencana FIFA, Ada yang Mendukung
5. Rencana Menjual Sebagian Hak Komersial Piala Dunia
Kontroversi terbaru datang dari pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Melalui entitas tersebut, FIFA berencana menjual sekitar 20% saham kepada investor swasta untuk mengelola aspek komersial Piala Dunia. Nilai perusahaan itu diperkirakan mencapai US$20 miliar.
Dalam laporan Reuters, sejumlah investor yang dikaitkan dengan proyek tersebut antara lain JP Morgan dan investor teknologi Joshua Kushner.
Baca Juga: Surat Gianni Infantino untuk Argentina Bocor, Perkuat Tudingan FIFA Tak Netral














