Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino menjual sebagian kepemilikan bisnis kompetisi FIFA kepada investor swasta terus menuai perhatian.
Setelah FIFA menawarkan insentif hingga US$40 juta (sekitar Rp723 miliar) kepada setiap federasi yang mendukung proposal tersebut, tanggapan berdatangan dari berbagai penjuru dunia sepak bola.
Mulai dari konfederasi, federasi nasional, operator liga, organisasi klub, hingga serikat pemain menyampaikan pandangan mereka.
Sebagian besar mempertanyakan proses penyusunan proposal yang dinilai minim transparansi, meski ada pula pihak yang melihat potensi manfaat dari rencana tersebut.
Baca Juga: Surat Gianni Infantino untuk Argentina Bocor, Perkuat Tudingan FIFA Tak Netral
UEFA: FIFA Mengutamakan Kepentingan Sendiri
UEFA menjadi pihak pertama yang menyampaikan penolakan secara terbuka.
Konfederasi sepak bola Eropa itu menilai FIFA tidak seharusnya menawarkan pembayaran kepada federasi untuk memperoleh dukungan terhadap proposal tersebut.
Menurut UEFA, banyak pemangku kepentingan sepak bola yang juga menolak rencana tersebut.
"FIFA tidak bisa terus menggunakan olahraga ini untuk memperkaya diri mereka sendiri dan teman-teman mereka," tulis UEFA dalam pernyataan resminya hari Rabu (29/7).
UEFA menegaskan pengembangan sepak bola harus tetap mengutamakan kepentingan asosiasi, liga, klub, pemain, dan suporter.
Baca Juga: UEFA Murka FIFA Jual Saham Piala Dunia, Apa yang Sebenarnya Diperdebatkan?
CONCACAF: Prosesnya Dinilai Tidak Tepat
Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) menyatakan prihatin terhadap minimnya proses konsultasi.
Menurut CONCACAF, rincian proposal justru diumumkan ke publik sebelum dibahas bersama badan tata kelola maupun para pemangku kepentingan.
Organisasi tersebut mengingatkan bahwa FIFA bersama konfederasi dan seluruh asosiasi anggota memiliki tanggung jawab menjaga kepentingan terbaik bagi sepak bola.
AFC: Harus Mengedepankan Transparansi
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengaku memahami pentingnya mencari terobosan baru untuk memperkuat masa depan sepak bola dunia.
Mengutip BBC Sport, AFC menegaskan setiap kebijakan berskala besar harus dibangun di atas prinsip tata kelola yang baik, transparansi, dan konsultasi yang bermakna dengan seluruh pihak terkait.
Baca Juga: FIFA Bantah Isu Match Fixing di Piala Dunia 2026, Ini Pernyataan Resminya
Federasi Negara Eropa: Butuh Informasi Lebih Dalam
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengaku sama sekali belum mengetahui isi proposal tersebut sebelum diberitakan ke publik.
FA menyatakan hingga kini belum menerima informasi lengkap, termasuk mengenai isi proposal maupun syarat yang melekat di dalamnya.
Organisasi itu baru akan menyampaikan sikap resmi setelah menerima penjelasan lengkap dari FIFA.
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) menyebut proposal FIFA memunculkan banyak pertanyaan. Menurut FFF, federasi anggota tidak pernah dilibatkan dalam pembahasannya sehingga mereka belum memiliki informasi yang cukup untuk memberikan penilaian.
Federasi Sepak Bola Wales (FAW) juga menyampaikan kekhawatiran serupa.
FAW mengatakan belum menerima penjelasan resmi dari FIFA dan menilai informasi mengenai proposal tersebut justru lebih dulu beredar di publik sebelum disampaikan kepada federasi anggota.
Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Hans-Joachim Watzke, menyebut proposal FIFA sebagai "serangan terhadap sepak bola".
Presiden Borussia Dortmund itu mengatakan batas telah dilampaui dan menilai sikap bersatu dari negara-negara Eropa akan memiliki pengaruh besar terhadap masa depan proposal tersebut.
Republik Ceko Jadi Suara Berbeda
Di tengah derasnya kritik, Presiden Federasi Sepak Bola Republik Ceko David Trunda justru melihat potensi manfaat dari proposal FIFA.
Ia mengatakan rencana tersebut bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan sepak bola Republik Ceko.
Meski demikian, Trunda menegaskan masih membutuhkan informasi yang lebih rinci sebelum memberikan dukungan secara resmi.
Baca Juga: Mengenal FIFA Forward Enterprise, Anak Usaha Baru FIFA Bernilai US$20 Miliar
FIFPro Khawatir terhadap Nasib Pemain
Serikat pemain dunia FIFPro meminta FIFA segera meninjau ulang proposal tersebut.
Menurut FIFPro, rencana menjadikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA sebagai aset investasi swasta berpotensi mengubah arah pengelolaan sepak bola secara permanen.
FIFPro juga menyoroti dampaknya terhadap kesejahteraan pemain, kalender pertandingan internasional, dan tata kelola sepak bola dunia.
Sepp Blatter: Sepak Bola Tidak Boleh Dijual
Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter juga ikut mengkritik rencana tersebut. Menurutnya, tidak seorang pun memiliki hak untuk menjual sepak bola.
Ia menilai hubungan yang terlalu erat antara Presiden FIFA dan Presiden Amerika Serikat telah berkembang ke arah kepentingan finansial yang dapat merugikan olahraga tersebut.
"Sepak bola bukan milik individu atau institusi mana pun. Itu milik rakyat. Jika FIFA menggunakan struktur korpotasi yang mencari keuntungan, maka FIFA akan kehilangan nyawanya," ungkap Blatter, dikutip Reuters.
Baca Juga: Sepp Blatter Kritik Rencana FIFA Bentuk Anak Usaha Pengelola Piala Dunia














