kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.988   -10,00   -0,06%
  • IDX 6.122   -26,16   -0,43%
  • KOMPAS100 793   -5,23   -0,65%
  • LQ45 608   -3,65   -0,60%
  • ISSI 212   -0,09   -0,04%
  • IDX30 337   -1,94   -0,57%
  • IDXHIDIV20 427   -0,46   -0,11%
  • IDX80 91   -0,65   -0,71%
  • IDXV30 115   -0,40   -0,35%
  • IDXQ30 110   -0,10   -0,09%

Qatar Dorong Kesepakatan Damai AS-Iran, Selat Hormuz Jadi Kunci


Rabu, 30 September 2026 / 05:52 WIB
Qatar Dorong Kesepakatan Damai AS-Iran, Selat Hormuz Jadi Kunci
ILUSTRASI. Selat Hormuz (via REUTERS/Amirhosein Khorgooi/ISNA/via WAN)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Qatar kembali mendorong upaya diplomasi untuk mempertemukan Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan.

Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan pihaknya terus melakukan diplomasi bolak-balik atau shuttle diplomacy antara kedua pihak.

Doha berharap upaya tersebut dapat menghasilkan titik temu yang membuka jalan menuju kesepakatan.

Baca Juga: Dolar AS Tembus Level Tertinggi 16 Bulan, Yield US Treasury di Atas 5%

"Kami bertukar pesan antara kedua pihak dan bekerja untuk menemukan titik temu agar dapat mencapai kesepakatan yang menyelamatkan kita semua dari dampak konflik," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari, Selasa (29/9/2026).

Upaya mediasi Qatar berlangsung setelah pejabat AS dan Iran melakukan komunikasi secara terpisah dengan mediator Qatar pada Senin. Namun, belum jelas apakah pertukaran pesan serupa kembali berlangsung pada Selasa.

Negosiasi AS dan Iran semakin intensif dalam beberapa waktu terakhir, terutama di tengah Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Iran sebelumnya mengajukan proposal yang mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dan penghentian pertempuran sebagai bagian dari proses menuju perundingan lebih lanjut.

Namun, Presiden AS Donald Trump telah menolak proposal tersebut. Trump juga membantah laporan media bahwa dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi atau mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas konsesi terkait program nuklir Iran.

"Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump di media sosial, merespons laporan tersebut.

Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran siap membahas program nuklir dan isu lainnya, tetapi menolak negosiasi yang menurutnya didasarkan pada tekanan atau paksaan.

Baca Juga: John Williams: The Fed Tak Perlu Terburu-buru Naikkan Suku Bunga

Selat Hormuz Jadi Kunci

Salah satu isu utama dalam negosiasi adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global.

Gangguan lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut telah menekan pasokan minyak dan mendorong harga energi lebih tinggi.

Konflik juga telah memberikan tekanan terhadap perekonomian Iran dan mengganggu pasokan energi global. Iran membalas serangan dengan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah target di kawasan Teluk serta membatasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 2,5%, Ekspor Timur Tengah Mulai Pulih

Perkembangan diplomasi tersebut menjadi perhatian pasar minyak. Pada Selasa, harga minyak mentah Brent turun 2,56% menjadi US$ 102,59 per barel setelah terdapat tanda-tanda pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah.

Ekspor minyak mentah kawasan tersebut pada September mencapai sekitar 16,33 juta barel per hari, tertinggi sejak konflik dimulai pada Februari.

Arab Saudi juga kembali melakukan pemuatan minyak dari pelabuhan Yanbu setelah operasi East-West Pipeline kembali berjalan. Perkembangan ini meningkatkan prospek pemulihan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pemerintah AS pada Selasa menawarkan pinjaman hingga 40 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) kepada perusahaan energi.

Langkah tersebut merupakan bagian terakhir dari kontribusi AS dalam pelepasan cadangan minyak global setelah pecahnya perang Iran.

Baca Juga: Harga Emas Spot Rebound 1%, tetapi Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed

AS juga memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap 10 individu dan entitas, termasuk yang berbasis di China, Hong Kong dan Pakistan, dengan tuduhan membantu Iran memperoleh senjata dan komponen terkait.

Dengan belum tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz maupun isu nuklir Iran, Qatar masih berupaya menjembatani perbedaan kedua pihak.

Perkembangan negosiasi menjadi salah satu faktor penting bagi pasar energi global karena setiap kemajuan menuju gencatan senjata dan pembukaan jalur pelayaran berpotensi memengaruhi prospek pasokan minyak dari Timur Tengah.




TERBARU

[X]
×