Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan, Federal Reserve (The Fed) tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga lagi setelah kenaikan pada September.
Pernyataan tersebut mendorong pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober.
Williams mengatakan, The Fed masih memiliki waktu untuk mencermati data ekonomi sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 2,5%, Ekspor Timur Tengah Mulai Pulih
Menurut dia, satu kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun kemungkinan cukup untuk membantu membawa inflasi kembali menuju target 2%.
“Dengan kebijakan yang kami ambil pada pertemuan September, tidak ada kebutuhan untuk bertindak terburu-buru,” kata Williams dalam pidatonya di University at Buffalo, Selasa (29/9), seperti dikutip Reuters.
Williams menambahkan, apabila perkembangan ekonomi sesuai dengan proyeksinya, satu kali kenaikan suku bunga lagi pada akhir tahun dapat diperlukan untuk mendukung kembalinya inflasi ke target secara lebih cepat.
Namun, ia menekankan bahwa keputusan tersebut tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Baca Juga: Harga Emas Spot Rebound 1%, tetapi Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed
Komentar Williams langsung memengaruhi ekspektasi pasar. Pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober dan kini memperkirakan hanya ada satu kali kenaikan lagi hingga akhir 2026, dengan Desember menjadi salah satu waktu yang diperhitungkan.
Sebelumnya, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September ke kisaran 3,75%-4%.
Mayoritas pejabat The Fed juga masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan tambahan diperlukan tahun ini.
Pandangan Williams muncul di tengah perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed. Gubernur The Fed Michael Barr pada Selasa kembali menyampaikan perlunya penyesuaian kebijakan lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Rekor Sejarah! Gadis Kecil 11 Tahun Ini Jadi Women Grandmaster Catur Termuda
Inflasi masih menjadi perhatian utama bank sentral AS. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi berdasarkan indikator yang menjadi target The Fed mencapai 3,7% dalam 12 bulan hingga Agustus, hampir dua kali lipat dari target 2%.
Williams mengatakan inflasi diperkirakan berada di sekitar 3,5% pada akhir tahun dan kemudian melandai pada tahun depan sebelum kembali menuju target 2% pada 2028. Ia menekankan bahwa The Fed perlu memastikan tekanan inflasi tidak menjadi semakin menetap.
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee juga menyoroti risiko inflasi yang bertahan di atas target.
Ia mengatakan, The Fed perlu mendapatkan bukti bahwa inflasi kembali turun dan tekanan harga yang sebelumnya dianggap sementara benar-benar mereda.
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem menekankan pentingnya komunikasi bank sentral kepada publik.
Baca Juga: Manchester City Klaim Punya Bukti Kuat, Siap Lawan Putusan Premier League
Menurut dia, kejelasan mengenai alasan dan proses pengambilan kebijakan diperlukan agar masyarakat dan pelaku usaha tidak harus menebak arah kebijakan moneter.
Perbedaan pandangan tersebut membuat data ekonomi AS menjadi semakin penting bagi arah kebijakan The Fed berikutnya.
Pasar akan mencermati perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, harga energi serta aktivitas ekonomi sebelum pertemuan kebijakan selanjutnya.














