kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Pejabat The Fed Ini Sebut Kebijakan Penurunan Suku Bunga Tidak Lagi Tepat


Jumat, 01 Mei 2026 / 19:29 WIB
Pejabat The Fed Ini Sebut Kebijakan Penurunan Suku Bunga Tidak Lagi Tepat
ILUSTRASI. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack secara terbuka menentang bias pelonggaran kebijakan moneter. (REUTERS/Elizabeth Frantz)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menyatakan perbedaan pendapat (dissent) terhadap keputusan kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang masih mempertahankan bias pelonggaran kebijakan moneter pada pekan ini.

Ia menilai kondisi ekonomi dan inflasi saat ini terlalu tidak pasti untuk mempertahankan arah kebijakan tersebut.

Dalam pernyataan resminya pada Jumat, Hammack menegaskan bahwa ketidakpastian terhadap prospek ekonomi meningkat pada 2026, sehingga membuat arah kebijakan moneter ke depan menjadi semakin sulit diprediksi.

“Ketidakpastian terhadap prospek ekonomi meningkat pada 2026 dan membuat arah kebijakan moneter di masa depan menjadi semakin tidak pasti,” ujar Hammack.

Baca Juga: Krisis Iran Hambat Distribusi Bantuan Pengungsi, Biaya Logistik Melonjak

Ia menjelaskan, dirinya menolak pernyataan kebijakan Federal Open Market Committee pada Rabu lalu yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Penolakan tersebut didasarkan pada masih adanya bahasa kebijakan yang mengindikasikan “jeda sementara, bukan akhir dari siklus pelonggaran”.

Menurut Hammack, pandangan tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.

“Menurut saya, kecenderungan pelonggaran yang jelas ini sudah tidak lagi tepat jika melihat prospek yang ada,” tegasnya.

Risiko Inflasi dan Pasar Tenaga Kerja Menguat

Hammack juga menyoroti meningkatnya risiko inflasi ke arah atas (upside risks), sementara pasar tenaga kerja menghadapi tekanan ke arah pelemahan (downside risks). Ia menyebut tekanan inflasi kini bersifat lebih luas atau “broad based”.

Selain itu, ia memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dapat menjadi sumber tambahan tekanan inflasi yang signifikan bagi perekonomian.

“Tekanan inflasi bersifat luas, dan kenaikan harga minyak menjadi sumber tambahan tekanan inflasi,” katanya.

Baca Juga: Serangan Trump terhadap Pemimpin Eropa Perburuk Ketegangan Transatlantik

Perpecahan Langka di Internal The Fed

Perbedaan pendapat Hammack terjadi dalam rapat Federal Open Market Committee yang dinilai tidak biasa karena diwarnai perpecahan suara di antara para pembuat kebijakan.

Selain Hammack, pimpinan Federal Reserve Bank of Minneapolis dan Dallas juga menolak pernyataan kebijakan karena masih mengindikasikan kemungkinan pelonggaran lanjutan oleh bank sentral.

Sementara itu, satu anggota dewan gubernur Stephen Miran justru menyampaikan dissent dengan mendukung pemangkasan suku bunga.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×