kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Trump Manfaatkan UFC dan Piala Dunia untuk Perkuat Citra Politik AS


Jumat, 12 Juni 2026 / 17:46 WIB
Trump Manfaatkan UFC dan Piala Dunia untuk Perkuat Citra Politik AS
ILUSTRASI. Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin memanfaatkan ajang olahraga berskala besar sebagai bagian dari strategi membangun citra (via REUTERS/LAURENT GILLIERON)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin memanfaatkan ajang olahraga berskala besar sebagai bagian dari strategi membangun citra kepemimpinan dan memperkuat pengaruh Amerika Serikat di panggung global.

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump mendorong penyelenggaraan sejumlah acara olahraga prestisius di Washington, mulai dari pertarungan Ultimate Fighting Championship (UFC), balapan IndyCar, hingga memanfaatkan momentum Piala Dunia FIFA untuk menampilkan kekuatan dan citra positif negaranya.

Atas dorongan Trump, UFC akan menggelar rangkaian pertandingan seni bela diri campuran (mixed martial arts/MMA) di halaman Gedung Putih pada Minggu (14/6). Acara tersebut bertepatan dengan Hari Bendera Amerika Serikat yang memperingati adopsi bendera nasional serta ulang tahun ke-80 Donald Trump.

Selain itu, Trump juga berhasil meyakinkan IndyCar untuk menggelar balapan Grand Prix mengelilingi kawasan National Mall di Washington D.C. pada musim panas tahun ini.

Sementara itu, ajang Piala Dunia FIFA yang hak penyelenggaraannya diberikan kepada Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sejak 2018 pada masa pemerintahan pertama Trump juga telah dimulai pekan ini.

Baca Juga: Volkswagen Cs Desak Uni Eropa Wajibkan 70% Kandungan Lokal Mobil

Ketua Freedom 250 Grand Prix sekaligus Presiden Penske Corp, Bud Denker, mengatakan penyelenggaraan ajang tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Amerika Serikat kepada dunia.

"Kami akan menampilkan negara kami sepanjang akhir pekan itu karena lingkungan dan lokasi yang kami miliki. Saya benar-benar yakin hal ini membuat Trump bersemangat karena dapat menghadirkan citra positif bagi negara kami ketika kami membutuhkannya," ujar Denker.

Pemerintah Amerika Serikat juga berharap momentum dari berbagai ajang olahraga tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan Olimpiade Musim Panas 2028 di Los Angeles sekaligus memperkuat citra geopolitik sang presiden.

Freedom 250 dan diplomasi olahraga

Meskipun Kongres telah membentuk komisi nonpartisan untuk mempersiapkan perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, pemerintahan Trump membentuk kelompok tersendiri bernama Freedom 250 yang mengagendakan berbagai kegiatan, termasuk pertandingan UFC dan balapan mobil.

Ketertarikan Trump terhadap olahraga juga mendapat perhatian para pemimpin dunia. Pada Desember 2025, Presiden FIFA Gianni Infantino menganugerahkan Trump penghargaan perdana FIFA Peace Prize.

Tak lama setelah itu, pemerintahan Trump memerintahkan operasi militer di Venezuela untuk menggulingkan Presiden Nicolás Maduro, yang kemudian disusul serangan terhadap Iran beberapa pekan berikutnya.

Usai pertandingan UFC di Gedung Putih, Trump dijadwalkan langsung bertolak ke Prancis untuk menghadiri pertemuan para pemimpin negara-negara G7. Sejumlah media lokal melaporkan bahwa otoritas Prancis bahkan menunda jadwal pembukaan KTT tersebut agar tidak berbenturan dengan acara UFC.

Trump sendiri pernah menyebut pertandingan UFC sebagai "pertunjukan terbesar di dunia" dan membandingkan arena "Claw" milik UFC yang berdiri di halaman selatan Gedung Putih dengan Menara Eiffel di Paris.

Baca Juga: Kursi Kosong Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026, FIFA Dikritik Soal Tiket

Tuduhan sportswashing mencuat

Di sisi lain, sejumlah kalangan menuding Trump melakukan praktik sportswashing, yakni memanfaatkan ajang olahraga untuk memperkuat citra pribadi di tengah sorotan terhadap isu hak asasi manusia, kebijakan imigrasi, maupun konflik luar negeri.

Pakar manajemen olahraga dan hiburan dari University of South Carolina, Nick Watanabe, menilai praktik tersebut juga dapat diterapkan pada Amerika Serikat.

"Biasanya kita berbicara tentang sportswashing ketika membahas rezim otoriter atau negara-negara kaya minyak. Namun konsep itu juga sangat relevan diterapkan pada Amerika Serikat," kata Watanabe.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menggambarkan perkembangan UFC dan penyelenggaraan pertandingan di Gedung Putih sebagai "definisi dari kekuatan diplomasi lunak Amerika Serikat."

Rubio juga mengumumkan kemitraan publik-swasta dengan UFC untuk memasukkan olahraga tarung ke dalam berbagai upaya diplomasi Departemen Luar Negeri, meskipun belum merinci skema pendanaannya.

Para pengkritik membandingkan langkah tersebut dengan sejumlah negara Teluk yang berinvestasi besar di organisasi olahraga tarung seperti UFC untuk memperluas pengaruh sekaligus mengalihkan perhatian dari catatan hak asasi manusia mereka.

Menurut Watanabe, langkah Trump juga bertujuan menempatkan dirinya sebagai simbol utama dalam perayaan 250 tahun berdirinya republik Amerika.

"Ini adalah cara dia memanfaatkan momentum tersebut dan berusaha menempatkan dirinya di garis depan peringatan 250 tahun Republik Amerika. Tidak ada yang dilakukan secara halus. Dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Amerika hebat dan dirinya adalah pemimpin yang mewujudkan hal itu."

Pendukung sebut olahraga mampu menyatukan masyarakat

Pendukung Trump menilai rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan kecintaannya terhadap dunia olahraga sejak lama sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun warisan politik sebagai presiden yang membawa perubahan besar.

Baca Juga: Harga Emas Stabil, Tapi Bersiap Mencatat Penurunan Dua Pekan Berturut-turut

Juru bicara Freedom 250, Julia Friedland, mengatakan olahraga selama ini menjadi bahasa universal yang menyatukan masyarakat.

"Olahraga telah lama menjadi bahasa bersama yang menyatukan warga Amerika, dan semangat itu tercermin dalam seluruh rangkaian perayaan 250 tahun bangsa ini."

Mantan bintang Major League Baseball sekaligus politikus Partai Republik dari Texas, Mark Teixeira, juga menilai kritik terhadap penyelenggaraan UFC di Washington terlalu berlebihan.

"Kalau orang sampai begitu marah hanya karena ada acara olahraga di Washington D.C., menurut saya negara ini memiliki persoalan yang jauh lebih besar."

Hubungan panjang Trump dengan UFC

Kedekatan Trump dengan dunia MMA telah berlangsung jauh sebelum dirinya terjun ke dunia politik.

UFC menggelar ajang resmi pertamanya di kasino Trump Taj Mahal di Atlantic City, New Jersey, pada tahun 2000. Trump juga sempat mencoba menjadi promotor MMA pada 2008 dan 2009, sementara sejumlah acara awal UFC juga berlangsung di properti miliknya.

Di luar MMA, Trump beberapa kali mencoba membeli klub National Football League (NFL). Ia bahkan pernah memiliki sebuah tim di liga sepak bola Amerika yang gagal bersaing dengan NFL dalam memperebutkan pemain maupun penonton.

Namun, tidak semua pihak menyambut positif penyelenggaraan UFC di Gedung Putih.

Anggota DPR dari Partai Demokrat asal Kansas sekaligus mantan petarung MMA profesional, Sharice Davids, mengaku khawatir melihat arena besar didirikan di kompleks Gedung Putih ketika biaya hidup masyarakat terus meningkat dan Amerika Serikat sedang terlibat dalam konflik militer.

"Kekhawatiran utama saya adalah melihat olahraga dipolitisasi, padahal saya berharap olahraga ini terus berkembang dan semakin banyak orang yang mencintainya."

Atlet memiliki pandangan berbeda

Sejumlah petarung UFC yang akan tampil juga memiliki pandangan berbeda mengenai nuansa politik dalam acara tersebut.

Petarung kelas ringan Michael Chandler, yang sebelumnya pernah secara terbuka memuji Trump, mengatakan dirinya akan menganggap laga tersebut seperti pertandingan biasa tanpa terlalu memikirkan suasana politik.

Baca Juga: Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia, Didukung Lonjakan Valuasi SpaceX

Sementara itu, petarung kelas bantam asal Kanada Aiemann Zahabi memperkirakan dirinya akan menerima sorakan negatif saat menghadapi petarung Amerika Sean O'Malley yang dikenal sebagai pendukung Trump.

Meski demikian, Zahabi tetap ingin menghormati momen bersejarah tersebut.

"Ini mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Ini adalah kesempatan yang hanya datang sekali. Trump adalah sosok yang eksentrik dan dia memang menyukai MMA serta UFC. Saya menganggapnya sebagai sebuah perayaan besar," ujarnya.

Kelompok advokasi hak asasi manusia juga mengkhawatirkan bahwa penyelenggaraan acara tersebut semakin mencampurkan politik dengan olahraga.

Direktur Eksekutif Sport & Rights Alliance, Andrea Florence, mengatakan meningkatnya otoritarianisme, konflik berskala besar, dan melemahnya multilateralisme global memiliki dampak langsung terhadap dunia olahraga.

"Para aktor global saling berebut pengaruh, tetapi mereka menggunakan olahraga sebagai senjata. Kita telah melihat Donald Trump dan pemerintahannya memanfaatkan olahraga dengan berbagai cara," katanya.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×