Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - MILAN. Tiga produsen otomotif terbesar di Eropa, yakni Volkswagen, Stellantis, dan Renault, mendesak Uni Eropa (UE) segera mengadopsi aturan sederhana bertajuk "Made in Europe" disertai insentif yang lebih kuat guna mendorong produksi kendaraan di kawasan tersebut.
Ketiga perusahaan yang secara kolektif menyumbang sekitar 60% dari total produksi mobil di Eropa itu menyampaikan usulan tersebut melalui surat bersama kepada anggota Parlemen Eropa yang diperoleh Reuters.
Dalam surat tersebut, mereka mengusulkan agar 70% kendaraan yang dijual di Uni Eropa memiliki sedikitnya 70% nilai komponen dan proses produksinya berasal dari dalam blok yang terdiri atas 27 negara anggota tersebut. Ketentuan itu diharapkan mencakup seluruh rantai nilai industri, mulai dari tahap rekayasa (engineering) hingga proses manufaktur.
Usulan tersebut muncul di tengah pembahasan Uni Eropa mengenai kerangka kebijakan "Made in Europe" sebagai bagian dari strategi industri yang lebih luas dalam menghadapi transisi menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Baca Juga: Kursi Kosong Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026, FIFA Dikritik Soal Tiket
Hingga kini belum ada aturan final yang secara khusus mengatur sektor otomotif. Namun, para pembuat kebijakan tengah mengkaji berbagai opsi, termasuk persyaratan kandungan lokal, dukungan pemerintah, serta insentif yang dikaitkan dengan produksi regional guna memperkuat rantai pasok dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Industri Otomotif Eropa Hadapi Tantangan Belum Pernah Terjadi
Volkswagen, Stellantis, dan Renault menegaskan komitmennya untuk mempertahankan basis manufaktur yang kuat di Eropa. Namun, menurut mereka, hal tersebut hanya dapat diwujudkan jika didukung oleh kerangka regulasi yang lebih realistis.
Dalam surat tersebut, mereka menyatakan, "Produsen otomotif Eropa menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap daya saing mereka akibat kesenjangan teknologi yang signifikan di bidang-bidang strategis, tekanan persaingan global yang sangat kuat, serta tingginya biaya energi, manufaktur, dan regulasi yang terus berlanjut."
Inisiatif ini melanjutkan seruan sebelumnya dari Volkswagen dan Stellantis yang meminta Uni Eropa memberikan perlindungan terhadap industri otomotif kawasan melalui insentif dan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi kendaraan listrik yang diproduksi secara lokal.
Penjualan Mobil Eropa Belum Pulih
Ketiga produsen tersebut juga menyoroti lemahnya permintaan kendaraan di Eropa. Menurut mereka, penjualan mobil di kawasan itu masih sekitar 3 juta unit lebih rendah setiap tahun dibandingkan dengan tingkat penjualan pada 2019, sehingga dibutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat untuk memulihkan pasar.
Baca Juga: Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia, Didukung Lonjakan Valuasi SpaceX
Mereka mengusulkan berbagai langkah untuk mendorong manufaktur berbasis Eropa, termasuk dukungan khusus bagi produksi baterai dan fleksibilitas regulasi yang lebih besar, terutama untuk kendaraan berukuran kecil. Kebijakan tersebut dinilai penting agar harga kendaraan listrik menjadi lebih terjangkau sekaligus memperkuat rantai pasok lokal.
Dalam surat itu, mereka menegaskan, "Kami ingin menawarkan mobil yang bersih, terjangkau, dan berteknologi mutakhir kepada masyarakat kelas menengah Eropa."
Bukan Menutup Diri dari Perdagangan Global
Volkswagen, Stellantis, dan Renault juga mengacu pada kondisi pasar otomotif Uni Eropa saat ini, di mana sekitar 26% kendaraan yang beredar berasal dari impor.
Meski mengusulkan peningkatan kandungan lokal, mereka menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan bertujuan untuk menutup pasar Eropa dari perdagangan internasional.
Sebaliknya, mereka menyatakan, "Eropa tidak sedang menutup diri. Eropa hanya menghentikan tren semakin banyaknya alih daya produksi industri ke negara-negara ketiga."
Melalui kebijakan "Made in Europe", ketiga produsen berharap Uni Eropa mampu memperkuat daya saing industri otomotif regional, menjaga lapangan kerja, serta mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik yang lebih mandiri di tengah persaingan global yang semakin ketat.













