Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk segera mengakhiri perang dengan Iran masih menghadapi ketidakpastian.
Meski Trump menyatakan kesepakatan damai dapat ditandatangani secepatnya akhir pekan ini, Iran menegaskan belum mengambil keputusan final terkait proposal yang sedang dinegosiasikan.
Baca Juga: SpaceX Pecahkan Rekor IPO Terbesar Dunia, Raup Dana US$ 75 Miliar
Jika tercapai, kesepakatan tersebut akan menjadi terobosan diplomatik terbesar sejak perang meletus lebih dari tiga bulan lalu.
Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar energi global melalui lonjakan harga minyak.
Melansir Reuters, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, sebagian besar isi dokumen kesepakatan memang telah dirampungkan.
Namun, Teheran menegaskan tidak akan mengorbankan kepentingan strategis yang dianggap sebagai "garis merah" negara tersebut.
"Kami belum mencapai kesimpulan akhir mengenai masalah ini. Ini merupakan isu yang sangat penting dan saat ini masih dalam proses peninjauan oleh lembaga-lembaga pengambil keputusan terkait," kata Baghaei seperti dikutip media Iran.
Di sisi lain, Trump justru menunjukkan optimisme tinggi. Dalam keterangannya di Gedung Putih, ia bahkan menyatakan AS telah mencapai penyelesaian besar dalam perang dengan Iran.
Trump mengatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali untuk pelayaran internasional segera setelah kesepakatan ditandatangani, yang menurutnya bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Jatuh Hampir 3% Kamis (11/6), Trump Batalkan Serangan ke Iran
"Selat Hormuz akan dibuka secara resmi segera setelah kami menandatangani kesepakatan. Itu bisa terjadi segera, sangat segera, mungkin akhir pekan ini di Eropa," ujar Trump.
Ia juga mengklaim telah memperoleh informasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mendukung kesepakatan tersebut. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran.
Pasar Sambut Optimisme Damai
Pernyataan Trump disampaikan setelah ia membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran yang sebelumnya sempat diumumkan.
Baca Juga: Harga Emas Naik 2% dan Perak Melonjak 3%, Trump Batalkan Serangan ke Iran
Langkah tersebut langsung disambut positif oleh pasar keuangan. Bursa saham AS melonjak tajam, sementara harga minyak dunia turun karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan meredanya konflik dan terbukanya kembali jalur perdagangan energi global.
Sejak pertengahan Maret, Trump beberapa kali menyatakan kesepakatan damai sudah dekat. Namun pada saat yang sama, kedua negara masih terus terlibat aksi saling serang yang menguji ketahanan gencatan senjata sementara yang berlaku sejak April.
Trump menyebut rancangan kesepakatan yang sedang dibahas sebagai memorandum kesepahaman yang kuat meskipun masih bersifat konseptual.
Salah satu poin utama yang terus ditekankan Washington adalah jaminan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Iran berulang kali membantah memiliki ambisi tersebut.
Sebaliknya, Iran mengajukan sejumlah tuntutan, antara lain pencabutan sanksi internasional, pencairan aset yang dibekukan selama bertahun-tahun, serta pengakuan atas kontrol Teheran terhadap Selat Hormuz.
"Kami memiliki kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Itulah tujuan utama dari seluruh proses yang telah kami lalui," kata Trump.
Baca Juga: Piala Dunia Jadi Ajang Duel Nike vs Adidas, Siapa Lebih Unggul?
Konflik Masih Menyisakan Tantangan
Meski peluang diplomasi terbuka, konflik di lapangan belum sepenuhnya mereda.
Perang yang dimulai setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, terutama di Iran dan Lebanon.
Konflik juga memicu kenaikan harga energi global dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Baca Juga: Mata Uang Tertekan, Bank Sentral Asia Kompak Perketat Pengawasan Spekulasi Valas
Dalam beberapa hari terakhir, pertempuran kembali meningkat setelah sebuah helikopter Apache AS ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz.
Sebagai respons, Washington melancarkan serangan baru ke sejumlah target di sekitar kawasan tersebut.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan seorang anak perempuan berusia 11 tahun mengalami luka ringan dan sejumlah rumah mengalami kerusakan akibat puing-puing drone Iran yang berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam akan menyerang Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran yang menangani sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut.
Baca Juga: Iran–AS Makin Dekat ke Kesepakatan Awal, Ini Isi Negosiasinya
Faktor Politik Domestik
Perang Iran juga mulai menjadi beban politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu AS.
Sejumlah survei menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump menurun akibat tingginya harga bahan bakar yang dipicu konflik berkepanjangan.
Beberapa politisi Partai Republik bahkan khawatir isu tersebut dapat mengurangi peluang partai mempertahankan kendali Kongres pada pemilu November mendatang.
Selain tekanan domestik, Trump juga harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai mampu meyakinkan kelompok garis keras di AS bahwa Iran benar-benar tidak memiliki jalur menuju pengembangan senjata nuklir.
Di tingkat regional, penerimaan negara-negara Timur Tengah terhadap kesepakatan tersebut juga akan menjadi faktor penting.
Baca Juga: Uni Eropa Sepakati Pengendalian Harga yang Lebih Ketat untuk Pasar Karbon yang Baru
Trump menyatakan memorandum kesepahaman telah memperoleh dukungan dari sejumlah negara, termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Namun kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Israel bukan pihak dalam memorandum tersebut.
Meski demikian, Netanyahu disebut mendukung upaya yang dapat menghapus persediaan uranium yang telah diperkaya, membongkar infrastruktur pengayaan nuklir Iran, membatasi produksi rudal, dan menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.
Sementara itu, Iran juga masih menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon, yang hingga kini masih berlangsung dalam konflik terpisah melawan kelompok Hizbullah yang didukung Teheran.













