Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Perusahaan antariksa milik Elon Musk SpaceX resmi menetapkan harga penawaran saham perdana (IPO) sebesar US$ 135 per saham pada Kamis (11/6/2026).
Langkah ini menjadikan SpaceX sebagai perusahaan dengan IPO terbesar dalam sejarah Amerika Serikat sekaligus salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Melalui penjualan sekitar 555,56 juta saham, SpaceX berhasil menghimpun dana segar sebesar US$ 75 miliar.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Jatuh Hampir 3% Kamis (11/6), Trump Batalkan Serangan ke Iran
Nilai tersebut menempatkan valuasi perusahaan di level US$ 1,77 triliun, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Saudi Aramco saat melantai di bursa pada 2019.
Dengan valuasi tersebut, SpaceX akan langsung masuk jajaran tujuh perusahaan publik terbesar di Amerika Serikat ketika sahamnya mulai diperdagangkan di bursa Nasdaq pada Jumat (12/6).
Nilai perusahaan SpaceX bahkan melampaui sejumlah raksasa bisnis global seperti JPMorgan Chase, Berkshire Hathaway, Eli Lilly and Company, Meta Platforms hingga Tesla yang juga dipimpin Elon Musk.
Meski demikian, sejumlah analis mempertanyakan apakah valuasi tersebut sudah mencerminkan fundamental bisnis perusahaan.
Pasalnya, SpaceX masih membukukan kerugian pada tahun lalu dan pendapatannya masih jauh di bawah perusahaan-perusahaan teknologi raksasa lainnya.
Chief Executive Officer 50 Park Investments Adam Sarhan menilai, ujian sesungguhnya baru akan terlihat setelah saham mulai diperdagangkan.
"Harga IPO mungkin sudah ditetapkan dengan cukup tepat. Namun yang lebih penting adalah bagaimana pasar mencerna valuasi tersebut dalam beberapa pekan ke depan," ujarnya.
Baca Juga: Harga Emas Naik 2% dan Perak Melonjak 3%, Trump Batalkan Serangan ke Iran
Pecahkan Rekor IPO Terbesar
IPO SpaceX memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Saudi Aramco. Pada Desember 2019, perusahaan minyak milik Arab Saudi itu berhasil menghimpun dana US$ 25,6 miliar dengan valuasi sekitar US$ 1,71 triliun.
Dengan jumlah saham beredar mencapai sekitar 13,08 miliar lembar, valuasi SpaceX berpotensi meningkat lebih lanjut apabila penjamin emisi menggunakan opsi penjualan saham tambahan (greenshoe option) dalam 30 hari setelah IPO.
Proses penetapan harga IPO SpaceX juga tergolong tidak lazim. Perusahaan mengumumkan harga saham sebelum proses roadshow selesai sepenuhnya dan saat pasar saham AS masih berlangsung.
Langkah tersebut mencerminkan gaya Elon Musk yang kerap menentang praktik konvensional Wall Street.
Selain itu, sekitar 30% saham IPO dialokasikan untuk investor ritel, jauh lebih besar dibandingkan praktik umum di pasar modal AS.
Musk juga mempertahankan kendali yang sangat kuat atas perusahaan. Setelah IPO, ia diperkirakan masih menguasai sekitar 82% hak suara SpaceX.
Baca Juga: Piala Dunia Jadi Ajang Duel Nike vs Adidas, Siapa Lebih Unggul?
Ditopang Starlink dan Ambisi AI
Didirikan pada 2002, SpaceX memiliki visi untuk mengembangkan teknologi yang memungkinkan manusia hidup di lebih dari satu planet.
Saat ini, sumber pendapatan terbesar perusahaan berasal dari layanan internet satelit Starlink, yang melayani jutaan pelanggan individu, korporasi, dan pemerintah di 164 negara serta wilayah.
SpaceX mengklaim telah bertanggung jawab atas lebih dari 80% total massa muatan yang diluncurkan ke orbit dalam tiga tahun terakhir.
Perusahaan juga semakin agresif memperluas bisnis kecerdasan buatan (AI). Pekan lalu, SpaceX mengumumkan kerja sama layanan komputasi awan jangka panjang dengan Google untuk mendukung kebutuhan komputasi yang terus meningkat.
Dalam prospektusnya, SpaceX memperkirakan total peluang pasar yang dapat digarap mencapai US$ 28,5 triliun, yang disebut sebagai peluang ekonomi terbesar dalam sejarah manusia.
Namun sejumlah analis menilai proyeksi tersebut masih sangat spekulatif.
Chief Investment Officer Bokeh Capital Partners Kim Forrest mengatakan, banyak investor membeli saham SpaceX lebih karena keyakinan terhadap visi masa depan Elon Musk dibandingkan kinerja keuangan perusahaan saat ini.
"Investor membeli masa depan dan mimpi manusia untuk menjelajah luar angkasa, bukan semata-mata berinvestasi pada perusahaan berdasarkan fundamental saat ini," ujarnya.
Baca Juga: Mata Uang Tertekan, Bank Sentral Asia Kompak Perketat Pengawasan Spekulasi Valas
Pasar Menanti Debut Perdagangan
Analis Renaissance Capital Matt Kennedy memperkirakan, saham SpaceX berpotensi mencatat lonjakan harga pada hari pertama perdagangan mengingat tingginya antusiasme investor.
Menurutnya, kenaikan kurang dari 10% pada hari pertama bisa dianggap mengecewakan, sementara lonjakan lebih dari 50% menunjukkan saham diperdagangkan berdasarkan euforia semata.
IPO SpaceX juga menjadi sinyal kebangkitan pasar penawaran umum perdana AS. Goldman Sachs memperkirakan total dana yang dihimpun melalui IPO di AS dapat melonjak hingga US$ 160 miliar pada 2026, ditopang oleh sejumlah calon emiten besar, termasuk OpenAI dan Anthropic.













