kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.891   15,00   0,08%
  • IDX 6.330   62,48   1,00%
  • KOMPAS100 828   6,24   0,76%
  • LQ45 629   2,91   0,46%
  • ISSI 219   2,92   1,35%
  • IDX30 352   0,49   0,14%
  • IDXHIDIV20 427   -1,13   -0,26%
  • IDX80 95   0,69   0,73%
  • IDXV30 118   0,32   0,27%
  • IDXQ30 111   -0,13   -0,12%

Pentagon: Operasi Militer AS Tewaskan 153 Warga Sipil Sepanjang 2025


Rabu, 12 Agustus 2026 / 12:10 WIB
Pentagon: Operasi Militer AS Tewaskan 153 Warga Sipil Sepanjang 2025
ILUSTRASI. Militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah (via REUTERS/U.S. CENTRAL COMMAND)


Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) alias Pentagon, pada Selasa (11/8) melaporkan bahwa operasi militer negara itu telah menewaskan 153 warga sipil dan melukai 243 orang sepanjang 2025.

Pentagon menjelaskan bahwa jumlah korban tersebut meningkat tajam dibandingkan 2024.

Dalam penilaian Pentagon untuk 2024, hanya terdapat dua warga sipil yang tewas dan dua lainnya terluka akibat operasi militer AS.

Laporan terbaru Pentagon yang diserahkan kepada Kongres AS dan dipublikasikan media AS menyebut seluruh korban sipil yang tercatat pada 2025 berkaitan dengan tiga serangan militer AS di Yaman.

Baca Juga: AS Jual Dua Kapal Tanker Minyak Sitaan untuk Dijadikan Besi Tua di India

Tiga Serangan AS di Yaman Tewaskan 153 Warga Sipil

Menurut laporan Pentagon, tiga serangan tersebut terjadi pada April 2025.

Komando Pusat AS atau U.S. Central Command (CENTCOM) menilai ketiga serangan tersebut "lebih mungkin daripada tidak" menyebabkan korban dari kalangan warga sipil.

Total korban yang dikaitkan dengan operasi militer AS pada 2025 mencapai 153 orang tewas dan 243 orang terluka.

Pentagon tidak memberikan rincian lebih jauh mengenai identitas maupun lokasi setiap korban dalam laporan yang dikutip tersebut.

Militer AS menyatakan operasi di Yaman bertujuan mengurangi kemampuan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Pentagon Masih Selidiki 15 Insiden Lain

Selain tiga serangan yang telah dinilai menyebabkan korban sipil, Pentagon masih menyelidiki sejumlah insiden lain di Yaman.

Hingga Februari 2026, terdapat 15 insiden lain yang sedang dinilai oleh CENTCOM. 

Penyelidikan tersebut dilakukan setelah militer AS menerima laporan mengenai dugaan korban sipil dari sejumlah organisasi non-pemerintah.

Artinya, angka 153 korban tewas dan 243 korban luka dalam penilaian Pentagon tersebut belum tentu menjadi angka akhir jika hasil penyelidikan terhadap insiden lainnya kemudian mengonfirmasi adanya korban sipil.

Baca Juga: Hubungan Trump dan Sektor Teknologi Tuai Kritik Usai Agen AI Lepas Kendali

Korban di Karibia dan Pasifik Timur Tidak Masuk Laporan

Laporan Pentagon juga tidak memasukkan korban yang mungkin timbul dari serangan AS terhadap kapal-kapal di kawasan Karibia dan Pasifik Timur.

Mengutip Reuters, pentagon menyebut hingga 1 Februari 2026, CENTCOM menilai tidak ada insiden di wilayah tanggung jawabnya sepanjang 2025 yang "lebih mungkin daripada tidak" menyebabkan korban sipil akibat operasi militer AS.

Namun, pemerintahan Presiden Donald Trump telah melakukan serangkaian serangan terhadap kapal yang dituduh membawa narkotika di kawasan Pasifik Timur.

Pemerintah AS menggambarkan target-target tersebut sebagai "narco-terrorists" atau teroris narkotika.

Menurut penghitungan berdasarkan laporan korban yang diterbitkan setelah setiap serangan, operasi militer AS terhadap kapal-kapal yang dituduh membawa narkotika tersebut telah menewaskan lebih dari 200 orang sejak September 2025.

Organisasi HAM Persoalkan Legalitas Serangan

Human Rights Watch dan Amnesty International menilai serangan terhadap kapal yang dituduh membawa narkotika tersebut sebagai pembunuhan di luar proses hukum yang melanggar hukum.

Sementara itu, American Civil Liberties Union (ACLU) mengkritik dasar tuduhan pemerintah AS terhadap orang-orang yang menjadi target operasi.

ACLU menyebut klaim pemerintahan Trump tersebut sebagai tuduhan yang "tidak terbukti" dan dianggap menimbulkan ketakutan.

Baca Juga: Daftar Bursa Saham Terbesar Dunia 2026, Nilai Pasar AS Tembus Rp1,34 Kuadriliun




TERBARU

[X]
×