Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan akan mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk tidak melancarkan serangan balasan ke Iran.
Langkah ini diambil setelah Teheran menembakkan salvo rudal ke wilayah Israel sebagai bentuk retaliasi atas serangan udara Israel di pinggiran ibu kota Beirut, Lebanon.
Iran berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan damai apa pun dengan AS sangat bergantung pada komitmen gencatan senjata di Lebanon.
Baca Juga: Xi Jinping Kunjungi Pyongyang: Kim Jong Un Tampil Percaya Diri dengan Sokongan Rusia
Wilayah Lebanon sendiri telah diinvasi oleh militer Israel sejak Maret lalu dalam misi memburu pejuang Hizbullah.
Namun, pada Minggu pagi, Israel justru kembali menggempur kawasan Beirut untuk pertama kalinya sejak AS mengumumkan draf rencana gencatan senjata pekan lalu.
Pihak militer Israel mengonfirmasi telah mendeteksi dan mencegat rangkaian rudal yang diluncurkan langsung dari Iran. Sejauh ini, rincian mengenai dampak kerusakan di pihak Israel belum tersedia.
Baca Juga: Tolak Cairkan Aset Iran, Trump: Kesepakatan Damai Harus Tercapai Lebih Dulu!
Trump Peringatkan Israel dan Iran
Trump, yang tengah menghabiskan akhir pekan di klub golf miliknya di Bedminster, New Jersey, telah menerima pengarahan (briefing) intensif mengenai eskalasi terbaru ini.
"Aksi ini jelas sama sekali tidak membantu proses negosiasi," ungkap Trump kepada Fox News pasca-peluncuran rudal Iran Minggu (7/6/2026).
"Apa yang ingin saya sarankan kepada Iran adalah: Anda sudah menembakkan rudal Anda, itu sudah cukup. Sekarang kembali ke meja perundingan dan buat kesepakatan."
Ketika ditanya mengenai serangan udara awal Israel ke Beirut yang memicu kemarahan Teheran, Trump secara terbuka menyatakan kekecewaannya.
"Saya tidak senang dengan hal itu," ketusnya. Kepada media Axios, Trump menegaskan dirinya akan segera menelepon Netanyahu untuk menekan pemimpin Israel tersebut agar membatalkan rencana serangan balasan.
Baca Juga: Gelombang Kegagalan Mengintai Ketika Euforia Kripto Mulai Memudar
Reaksi Keras dari Teheran dan Tel Aviv
Di pihak lawan, kepala negosiator perdamaian sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa basis militer AS dan aset-aset Israel kini menjadi target yang sah karena telah melakukan tindakan bermusuhan, termasuk "melanggar komitmen perjanjian atas Lebanon."
"Mereka menunjukkan bahwa mereka hanya memahami bahasa kekuatan," tulis Qalibaf melalui akun resminya di platform X.
Senada dengan Qalibaf, Ebrahim Rezaei selaku juru bicara komite keamanan nasional parlemen Iran, memperingatkan bahwa Teheran akan memberikan "respons yang tegas dan menyakitkan" atas agresi Israel di Lebanon.
Ini merupakan serangan langsung pertama Iran ke Israel sejak kesepakatan gencatan senjata regional pada April lalu.
Merespons ancaman tersebut, seorang pejabat internal Israel menyatakan kepada Reuters bahwa Tel Aviv tidak akan tinggal diam.
Israel dipastikan akan membalas setiap serangan yang masuk ke wilayah kedaulatannya, dan menganggap situasi ini sebagai "kesempatan untuk memperbarui kampanye militer".
Baca Juga: OpenAI Siapkan Transformasi Besar ChatGPT, Bidik Pasar Korporasi dan IPO
Mandeknya Progres Damai dan Blokade Ekonomi
Hingga saat ini, Washington dan Teheran menunjukkan sangat sedikit kemajuan untuk mengakhiri perang yang dipantik oleh kampanye serangan udara AS-Israel sejak Februari lalu.
Trump bahkan sempat mengancam akan memulai kembali pengeboman skala besar jika draf perjanjian tidak kunjung disepakati.
"Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan, atau saya akan menghancurkan mereka habis-habisan," ujar Trump dalam wawancara bersama NBC News untuk memperingati 100 hari konflik.
Selama sepekan terakhir, Trump sebenarnya telah menekan Israel untuk mereduksi intensitas militernya di Lebanon guna membuka ruang negosiasi dengan Iran, termasuk menegur keras Netanyahu dalam panggilan telepon pekan lalu.
Baca Juga: Rencana Akuisisi SFR, Tiga Raksasa Telekomunikasi Siap Kuasai Pasar Eropa
Pasca-teguran tersebut, Netanyahu sempat membatalkan serangan udara di Beirut, sebelum akhirnya melanggarnya kembali pada hari Minggu ini dengan dalih merespons tembakan roket Hizbullah.
Secara makro, perang regional ini masih berada dalam status jalan buntu (stalemate) sejak awal April. Iran masih memblokade sebagian besar jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, rute utama bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Sebagai aksi balasan, Washington juga menerapkan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan dagang milik Iran.
Trump menegaskan, perjanjian damai final nantinya harus memuat klausul absolut yang melarang Iran mengembangkan senjata nuklir, dengan syarat yang jauh lebih ketat dibanding perjanjian era Barack Obama pada tahun 2015 lalu.
Sementara itu, Iran menuntut pencabutan total sanksi internasional, pengakuan atas kendali mereka di Selat Hormuz, serta pencairan aset miliaran dolar yang dibekukan oleh AS.












