Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahannya kepada negara-negara sekutu setelah mereka menolak permintaan bantuan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Penolakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus meluas.
Trump bahkan menyebut sikap NATO sebagai “kesalahan bodoh” sebelum menegaskan bahwa negaranya tidak membutuhkan bantuan pihak lain.
Sekutu menolak bantu Trump
Trump mengkritik tajam negara-negara anggota NATO yang enggan terlibat dalam operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Ia menyebut bahwa sebagian besar sekutu tidak bersedia ikut dalam operasi melawan Iran.
Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, Trump mengatakan, “Amerika Serikat telah diberi tahu oleh sebagian besar ‘sekutu’ NATO kami bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam operasi militer kami melawan rezim teroris Iran di Timur Tengah.”
Baca Juga: Ratusan Juta iPhone Terancam Malware Darksword, Amankan Data Anda!
Ia juga menambahkan bahwa penolakan tersebut terjadi meskipun banyak negara sebelumnya sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Trump kemudian menyindir hubungan dalam aliansi NATO yang menurutnya tidak seimbang.
“Saya selalu menganggap NATO, di mana kita menghabiskan ratusan miliar dolar setiap tahun untuk melindungi negara-negara ini, sebagai jalan satu arah. Kita melindungi mereka, tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk kita, terutama di saat dibutuhkan,” ujarnya.
“Kami tak butuh bantuan siapa pun”
Di tengah kekecewaannya, Trump tetap menunjukkan sikap percaya diri terhadap kemampuan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa negaranya tidak bergantung pada bantuan sekutu.
“Kami tidak membutuhkan bantuan siapa pun!” tegasnya, sebagaimana dilansir The Independent, Rabu (18/3/2026).
Pernyataan ini muncul setelah NATO secara efektif menolak permintaan AS untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sejak awal konflik, jalur tersebut sebagian besar ditutup setelah pasukan Garda Revolusi Iran mengeklaim telah mengambil “kendali penuh” atas kawasan tersebut.
Pejabat kunci mundur
Di dalam negeri, tekanan terhadap Trump juga meningkat seiring konflik memasuki pekan ketiga.
Situasi semakin rumit setelah sekutu dekatnya, Joe Kent, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS.
Dalam surat pengunduran dirinya, Kent menyatakan tidak bisa lagi mendukung perang tersebut.
“Saya tidak dapat, dengan hati nurani yang bersih, mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran,” tulisnya.
Ia juga menambahkan, “Jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi kuatnya di Amerika.”
Seruan hentikan perang dari Eropa
Di tengah eskalasi konflik, Uni Eropa menyerukan penghentian perang untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan, pihaknya tengah mencari solusi diplomatik.
“Kami telah berkonsultasi dengan negara-negara regional seperti negara-negara Teluk, Yordania, dan Mesir, apakah kami bisa mengajukan proposal agar Iran, Israel, dan AS keluar dari situasi ini sehingga semua pihak bisa menjaga muka,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan, “Masalah dengan perang adalah lebih mudah untuk memulainya daripada menghentikannya.”
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah serta menyeret berbagai kekuatan regional. Dampaknya terasa pada lonjakan harga minyak akibat terganggunya pasokan global.
Baca Juga: Israel Klaim Menteri Intelijen Iran Tewas dalam Serangan
Konflik juga terus berlanjut di berbagai wilayah, termasuk serangan rudal Iran ke fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk.
Sementara itu, jutaan orang dilaporkan mengungsi baik di Iran maupun Lebanon, dengan korban jiwa yang terus bertambah.
Meski demikian, laporan intelijen AS memperkirakan rezim Iran masih akan bertahan meskipun ada operasi gabungan AS-Israel untuk menggulingkannya. Kondisi ini membuat prospek penyelesaian konflik menjadi semakin tidak pasti.













