kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.823   40,00   0,22%
  • IDX 6.337   -28,66   -0,45%
  • KOMPAS100 832   -3,74   -0,45%
  • LQ45 631   -2,65   -0,42%
  • ISSI 220   -0,95   -0,43%
  • IDX30 354   -1,47   -0,41%
  • IDXHIDIV20 432   -2,10   -0,48%
  • IDX80 95   -0,35   -0,37%
  • IDXV30 119   -0,56   -0,47%
  • IDXQ30 112   -0,35   -0,31%

Terungkap! Trump Diam-diam Kabur dari Turki Pakai Pesawat Militer, Ada Ancaman Iran


Selasa, 11 Agustus 2026 / 08:37 WIB
Terungkap! Trump Diam-diam Kabur dari Turki Pakai Pesawat Militer, Ada Ancaman Iran
ILUSTRASI. Donald Trump (via REUTERS/White House)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diam-diam meninggalkan Turki menggunakan pesawat militer setelah muncul ancaman pembunuhan dari Iran. Demikian dilaporkan The Washington Post pada Senin (10/8/2026).

Langkah tersebut dilakukan setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, bulan lalu. Saat itu, Gedung Putih menyatakan Trump akan meninggalkan Turki menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One.

Baca Juga: Roket Long March 7A China Gagal Meluncur, Satelit ChinaSat-4B Tak Capai Orbit

Namun, Trump ternyata tidak langsung terbang menggunakan pesawat tersebut. Menurut laporan The Washington Post yang mengutip seorang pejabat AS dan sejumlah bukti yang ditinjau media tersebut, Trump diam-diam dipindahkan dari Air Force One ke pesawat militer yang lebih kecil, Air Force C-32A.

Operasi tersebut disebut dipicu oleh ancaman yang dinilai kredibel terhadap keselamatan Trump.

Sebelumnya, Trump tiba di Ankara menggunakan pesawat jet yang baru direnovasi dan diberikan oleh Qatar.

Pesawat tersebut menjadi sorotan karena merupakan perjalanan internasional pertamanya setelah menjalani proses peningkatan kemampuan dan keamanan.

Namun, saat meninggalkan Turki, Trump secara tak terduga menggunakan Air Force One versi lama. Perubahan tersebut sempat memunculkan pertanyaan mengenai keamanan pesawat baru itu.

Sebelum meninggalkan Ankara, Trump mengatakan melalui Truth Social bahwa ia akan menggunakan Air Force One lama "untuk mengenang masa lalu" menuju RAF Mildenhall di Inggris.

Pesawat baru yang diberikan Qatar juga dijadwalkan berhenti di pangkalan udara tersebut agar personel militer AS dapat melihat pesawat itu.

Baca Juga: Nvidia Gaet Raksasa Wall Street, Siapkan Dana US$ 500 Miliar untuk Infrastruktur AI

Air Force One Lama Jadi Pengalih

Setelah Trump terlihat menaiki Air Force One lama di Ankara di depan kamera, ia ternyata dipindahkan secara diam-diam menggunakan truk katering bandara menuju pesawat C-32A.

Pesawat tersebut kemudian membawa Trump menuju Inggris. Sementara itu, Air Force One lama yang menjadi pengalih tetap terbang bersama rombongan media yang meyakini Trump berada di dalamnya.

Para wartawan yang berada di Air Force One lama bahkan diminta menutup tirai jendela di kabin pers selama penerbangan. Sebagian staf Gedung Putih juga disebut meyakini Trump berada di pesawat tersebut.

Ketika wartawan kemudian menanyakan alasan mereka diminta menutup tirai, Trump mengatakan penerbangan tersebut "mungkin penerbangan yang berbahaya".

"Namun, jika saya pergi, kalian juga pergi. Benar?" ujar Trump.

Pesawat C-32A yang membawa Trump tiba di Inggris sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Air Force One lama yang membawa media tiba beberapa menit kemudian.

Belum diketahui secara jelas bagaimana Trump kemudian dipindahkan dari C-32A kembali ke Air Force One lama.

Rombongan pers Gedung Putih melaporkan Trump turun dari tangga Air Force One lama sekitar pukul 22.56 waktu setempat.

Trump sempat memberikan tanda damai kepada wartawan tanpa menghampiri mereka, kemudian menyapa sejumlah personel militer sebelum berjalan menuju pesawat baru yang diberikan Qatar.

Baca Juga: Investor Ritel Mulai Jual Saham SpaceX di Bawah Harga IPO, Ada Apa?

Gedung Putih: Banyak Musuh Mengincar Trump

Gedung Putih tidak secara langsung mengonfirmasi rincian operasi penerbangan rahasia tersebut.

Namun, ketika dimintai komentar mengenai penggunaan pesawat ketiga, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steve Cheung mengatakan pesawat yang diberikan Qatar telah dilengkapi sistem keamanan tingkat tinggi.

"Seperti yang baru-baru ini disampaikan Presiden, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap alat yang tersedia untuk menghadapi ancaman tersebut," kata Cheung.

Pernyataan tersebut sama dengan pernyataan yang diberikan Gedung Putih kepada The Washington Post.

Baca Juga: AS Perkuat Rantai Pasok, Investasi Asing di Sektor Manufaktur Meningkat

Pentagon belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Operasi pengelabuan semacam ini bukan tanpa preseden. Pada 2000, Presiden AS Bill Clinton juga pernah menggunakan pesawat eksekutif tanpa tanda pengenal untuk melakukan penerbangan ke Pakistan, sementara Air Force One resmi digunakan sebagai pesawat pengalih.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×