Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga aluminium kembali menguat dan mencatat kenaikan selama enam sesi perdagangan berturut-turut pada Senin (10/8/2026).
Penguatan terjadi di tengah terus menipisnya persediaan aluminium di bursa komoditas.
Baca Juga: Rupiah Melesat ke Level Tertinggi 7 Pekan, Saham Emerging Markets Bangkit
Melansir Reuters, harga aluminium acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 1,2% menjadi US$3.320 per metrik ton dalam perdagangan resmi.
Sebelumnya, harga aluminium sempat menyentuh US$3.336,50 per ton, level tertinggi sejak 23 Juni 2026.
Strategis komoditas ING Ewa Manthey mengatakan, reli harga tembaga yang mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada pekan lalu turut memperkuat sentimen bullish di pasar logam industri.
"Fundamental aluminium sendiri tetap mendukung, dengan persediaan di bursa masih rendah dan pasar diperkirakan tetap mengalami defisit tahun ini," ujar Manthey.
Persediaan aluminium di LME kini berada di level terendah sepanjang abad ini, yakni sekitar 254.900 ton.
Sementara itu, stok yang tersedia atau berstatus on-warrant merupakan yang terendah sejak April 2025.
Di China, konsumen aluminium terbesar dunia, persediaan aluminium di Shanghai Futures Exchange juga berkurang 13.000 ton pada pekan lalu.
Citi menilai permintaan dari pengguna akhir di China memang masih lemah pada paruh pertama tahun ini. Namun, risiko penurunan lebih lanjut dinilai mulai terbatas.
"Persediaan yang rendah membuat pasar semakin sensitif terhadap perubahan permintaan fisik maupun ekspektasi permintaan," tulis Citi dalam catatannya pada Jumat (7/8).
Baca Juga: Redam Kenaikan Harga Gula, India Pertimbangkan Pembatasan Tebu untuk Etanol
Stok Aluminium AS Sangat Terbatas
Berbeda dengan tembaga, persediaan aluminium di bursa AS juga tidak memiliki bantalan stok yang besar.
Saat ini, hanya terdapat sekitar 5 ton aluminium yang tersimpan di fasilitas COMEX di Owensboro, Kentucky.
Baca Juga: Meta Luncurkan AI Baru Muse Glimmer, Zuckerberg Tantang Dominasi China
Di sisi lain, pemerintah AS berencana menggelontorkan investasi sebesar US$3 miliar untuk proyek mineral kritis dan baterai.
Presiden AS Donald Trump mengatakan investasi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan produksi domestik sekaligus memperkuat keamanan nasional dan kebijakan industri AS.
Sementara itu, harga tembaga LME naik 0,5% menjadi US$14.150 per ton. Harga tembaga masih bertahan di atas level US$14.000 setelah mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak Mei pada pekan lalu.
"Tembaga masih mendapat dukungan dari ketatnya pasar fisik, rendahnya persediaan, serta kekhawatiran terhadap pasokan," kata Manthey.
Baca Juga: UEFA, AFC dan CONCACAF Serang Infantino soal Skema Hak Komersial Piala Dunia
Logam industri lainnya juga bergerak bervariasi. Harga seng naik 0,4% menjadi US$3.720 per ton, timbal menguat 0,7% menjadi US$1.900 per ton, sedangkan nikel turun tipis 0,2% menjadi US$16.970 per ton.
Harga timah turut menguat 1,2% menjadi US$56.150 per ton.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
