kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Gelombang Kegagalan Mengintai Ketika Euforia Kripto Mulai Memudar


Minggu, 07 Juni 2026 / 19:40 WIB
Gelombang Kegagalan Mengintai Ketika Euforia Kripto Mulai Memudar
ILUSTRASI. Altcoin crypto (Jakub Porzycki/NurPhoto via REUTERS)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - ZUG. Pasar kripto kembali memasuki masa yang tidak nyaman. Namun kali ini, persoalannya bukan sekadar harga Bitcoin yang turun tajam. Di balik gejolak aset kripto terbesar dunia itu, ada fenomena yang lebih besar dan mungkin lebih penting yakni ratusan hingga ribuan proyek kripto perlahan menghilang dari radar.

Charles Hoskinson, pendiri Cardano, menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka menyuarakan kekhawatiran tersebut. Dalam sebuah video yang diunggah setelah platform analitik kripto terkenal mengumumkan penghentian operasinya, Hoskinson memperingatkan bahwa industri kripto sedang menuju fase penyaringan besar-besaran.

Menurut dia, lebih banyak proyek akan tutup, perusahaan kripto kehabisan dana, dan para pengembang memilih meninggalkan ekosistem yang selama ini mereka bangun.

"Saya menduga akan ada gelombang kegagalan. Tahun ini akan sangat berat," ujarnya dalam laporan Bloomberg (7/6). 

Pernyataan itu muncul di tengah tekanan yang kembali menghantam Bitcoin. Mata uang kripto terbesar di dunia tersebut sempat merosot lebih dari 6% hingga berada di bawah level US$ 60.000. Sepanjang bulan ini, harga Bitcoin telah turun sekitar 17% dan menyentuh level terendah dalam dua tahun terakhir.

Berbagai faktor menjadi pemicunya. Mulai dari aksi jual sebagian kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan Strategy Inc., arus keluar dana yang masih membayangi ETF Bitcoin, hingga meningkatnya kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, berpotensi kembali menaikkan suku bunga.

Akibatnya, investor beramai-ramai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Data CoinGlass menunjukkan nilai likuidasi aset digital dalam sehari mencapai lebih dari US$ 1,7 miliar.

Namun bagi sebagian pengamat, penurunan Bitcoin sebenarnya bukan cerita utama.

Michael Antonelli, ahli strategi pasar Robert W Baird & Co., menilai Bitcoin kini telah kehilangan statusnya sebagai aset baru yang selalu menarik perhatian investor.

"Bitcoin sekarang hanya menjadi salah satu pilihan investasi. Ia bukan lagi fenomena baru yang mampu menarik modal secara otomatis," katanya.

Kondisi tersebut terasa jauh lebih berat bagi altcoin atau aset kripto selain Bitcoin. Jika Bitcoin masih memiliki basis investor yang kuat, banyak proyek kripto lain justru menghadapi persoalan yang lebih mendasar: kehilangan pengguna, kehilangan aktivitas transaksi, dan kehilangan alasan untuk tetap eksis.

Ledakan industri kripto beberapa tahun lalu menciptakan jutaan token baru. Teknologi blockchain yang semakin mudah digunakan membuat siapa pun dapat meluncurkan token dengan biaya relatif murah dan waktu yang singkat.

Baca Juga: Produk Kripto Baru AS Dikritik Keras, Bos CME Sebut Bisa Jadi Bencana

Hasilnya, pasar dibanjiri proyek-proyek baru yang menjanjikan berbagai inovasi. Namun tidak semuanya mampu bertahan.

Laporan terbaru Delphi Digital menunjukkan bahwa dari puluhan juta token yang telah diciptakan dalam beberapa tahun terakhir, kurang dari 1.700 token yang masih memiliki aktivitas perdagangan harian yang signifikan di bursa terdesentralisasi.

Bahkan sebagian besar token yang didukung modal ventura kini diperdagangkan di bawah harga peluncurannya. Banyak yang sudah kehilangan lebih dari 90% nilainya. Secara rata-rata, kinerja kelompok token yang diteliti tersebut mencatatkan penurunan sekitar 80%.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar mulai memasuki fase seleksi alam.

Saat likuiditas melimpah dan suku bunga rendah, investor cenderung memburu hampir semua proyek yang mengusung label blockchain atau kripto. Namun ketika kondisi keuangan global semakin ketat, investor menjadi jauh lebih selektif.

Modal kini lebih banyak mengalir ke proyek yang memiliki penggunaan nyata dan model bisnis yang jelas.

Cosmo Jiang, manajer portofolio Pantera Capital, menilai proses penyaringan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, puncak kejayaan sebagian besar token terjadi pada 2021. Setelah itu, banyak proyek perlahan kehilangan daya tarik.

"Kita sudah melihat proses penyaringan besar-besaran. Banyak token sudah turun 80% hingga 90%. Tetapi masih ada sejumlah token bernilai miliaran dolar yang sebenarnya tidak memiliki alasan kuat untuk tetap ada," ujarnya.

Baca Juga: Bursa Kripto Terbesar Iran Kena Sanksi AS karena Diduga Fasilitasi Transaksi IRGC

Kondisi tersebut juga terlihat pada Cardano. Data Electric Capital menunjukkan jumlah pengembang aktif penuh waktu di jaringan tersebut turun 32% sejak awal tahun. Sementara dana yang tersimpan dalam aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) di ekosistem Cardano menyusut 35%.

Token ADA, aset digital utama Cardano, juga telah kehilangan sekitar 55% nilainya sepanjang tahun ini.

Menariknya, kemunduran pasar token justru terjadi ketika adopsi teknologi blockchain semakin luas.

Stablecoin mulai digunakan dalam sistem pembayaran global. Tether bahkan mendekati posisi Ether sebagai aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar. Di sisi lain, berbagai institusi keuangan Wall Street mulai bereksperimen dengan aset yang ditokenisasi, sementara bank-bank besar terus mengembangkan infrastruktur blockchain.

Artinya, teknologi yang menjadi fondasi industri kripto masih terus berkembang. Yang berubah adalah cara investor menilai proyek-proyek di atasnya.

Jika pada masa lalu hampir semua token dapat menikmati aliran modal, kini investor hanya memberi perhatian kepada segelintir proyek yang mampu menunjukkan manfaat nyata.

Dengan kata lain, pasar kripto sedang bergerak menuju fase yang lebih dewasa. Bukan lagi tentang menciptakan token sebanyak mungkin, melainkan membuktikan apakah sebuah proyek benar-benar dibutuhkan.

Bagi investor, kondisi ini mungkin terasa menyakitkan. Namun bagi industri secara keseluruhan, gelombang penyaringan tersebut bisa menjadi langkah penting untuk memisahkan proyek yang memiliki nilai jangka panjang dari sekadar tren sesaat yang pernah menikmati euforia pasar.

Baca Juga: Coinbase Kembali Ekspansi, Hadirkan Layanan Kripto di India


Tag


TERBARU

[X]
×