kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Serangan Trump terhadap Pemimpin Eropa Perburuk Ketegangan Transatlantik


Jumat, 01 Mei 2026 / 17:32 WIB
Serangan Trump terhadap Pemimpin Eropa Perburuk Ketegangan Transatlantik
ILUSTRASI. Presiden Trump kembali melontarkan kritik keras dan ancaman ke Eropa. (REUTERS/Jonathan Ernst)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Hubungan antara Amerika Serikat dan Eropa kembali mengalami tekanan setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan serangkaian kritik keras terhadap sejumlah pemimpin Eropa serta mengisyaratkan potensi perubahan kebijakan militer dan perdagangan di kawasan Atlantik Utara.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dikabarkan meningkatkan ketegangan diplomatik terkait perbedaan pandangan atas perang di Iran. Ia secara terbuka mengkritik Kanselir Jerman Friedrich Merz, menyebutnya “sangat tidak efektif” setelah Merz mengkritik kebijakan AS dalam konflik tersebut.

Trump juga mengancam akan menarik sekitar 36.400 personel militer Amerika Serikat yang ditempatkan di Jerman.

Tidak hanya Jerman, Trump juga melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia menyebut Starmer “bukan Winston Churchill” dan bahkan mengancam akan mengenakan tarif besar terhadap produk impor dari Inggris.

Ancaman terhadap NATO dan Sekutu Eropa

Kekhawatiran di Eropa semakin meningkat setelah Departemen Pertahanan AS di bawah pemerintahan Trump disebut mempertimbangkan langkah-langkah sanksi terhadap negara anggota NATO yang dianggap tidak mendukung operasi militer AS dalam konflik Iran.

Baca Juga: UEA Ragukan Iran Soal Selat Hormuz, Negosiasi Perdamaian Iran–AS Mandek

Langkah tersebut termasuk wacana penangguhan Spanyol dari keanggotaan NATO serta peninjauan ulang pengakuan Amerika Serikat terhadap Kepulauan Falkland sebagai wilayah Inggris.

Seorang diplomat Eropa menyebut situasi ini sebagai kondisi yang mengkhawatirkan.

“Ini sangat mengganggu, setidaknya. Kami bersiap menghadapi apa pun, kapan pun,” ujarnya.

Diplomasi Transatlantik dalam Tekanan

Pernyataan-pernyataan keras dari Washington dinilai membawa hubungan AS–Eropa kembali ke fase awal periode kedua pemerintahan Trump, ketika hubungan kedua pihak sempat mengalami ketegangan serupa.

Seorang diplomat Eropa lainnya menilai pendekatan yang pernah diterapkan mantan Kanselir Jerman Angela Merkel masih relevan hingga kini, yakni tidak bereaksi secara impulsif terhadap pernyataan Trump.

“Kami semua sudah belajar bagaimana menghadapi Trump. Jangan bereaksi langsung, biarkan badai berlalu sambil tetap teguh pada posisi kita,” ujarnya.

Diplomat tersebut juga menambahkan bahwa pendekatan diplomasi berbasis pujian tidak efektif. “Mereka yang mencoba bersikap demikian tetap mendapat kritik. Jadi sekarang jelas bahwa pujian pun tidak menyelesaikan masalah,” katanya.

Dampak Politik dan Ekonomi

Ketegangan ini muncul setelah sebelumnya kebijakan tarif, isu Greenland, serta pengurangan bantuan AS untuk Ukraina telah lebih dulu memperburuk hubungan transatlantik.

Sejumlah pemimpin Eropa seperti Starmer, Merz, dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni sebelumnya berupaya meredakan ketegangan melalui diplomasi intensif dan kerja sama ekonomi. Namun, eskalasi konflik Iran kembali memicu tekanan baru terhadap hubungan tersebut.

Bahkan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte disebut tetap menghadapi tekanan langsung dari Trump dalam pertemuan di Gedung Putih.

Baca Juga: Hormati Raja Charles, Trump Cabut Tarif Whisky Asal Inggris

Kritik Internal di AS

Meski kebijakan Trump mendapat dukungan dari sebagian kalangan, sejumlah anggota Partai Republik di Kongres AS juga menyuarakan kekhawatiran. Mereka menilai kebijakan yang menekan sekutu NATO justru merugikan kepentingan Amerika Serikat sendiri.

Seorang anggota Kongres AS, Don Bacon, menyebut bahwa ancaman terhadap sekutu NATO tidak produktif dan berpotensi merugikan posisi strategis Amerika di dunia.

Eropa Mulai Evaluasi Strategi Pertahanan

Di tengah ketidakpastian tersebut, analis menilai negara-negara Eropa kini mulai mempercepat penguatan kapasitas militer dan mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat.

Menurut Jeffrey Rathke dari American-German Institute, tekanan politik domestik di Eropa membuat sikap terhadap AS menjadi lebih tegas, terutama terkait konflik di Iran dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Seorang diplomat Barat bahkan menyatakan bahwa Eropa tidak lagi bisa bergantung pada status quo pasca-Perang Dunia II.

“Kami tidak bisa lagi bergantung pada tatanan lama. Eropa harus menjadi kekuatan yang tidak hanya berbasis soft power, tetapi juga didukung kekuatan nyata,” ujarnya.


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×