kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.988   -10,00   -0,06%
  • IDX 6.122   -26,16   -0,43%
  • KOMPAS100 793   -5,23   -0,65%
  • LQ45 608   -3,65   -0,60%
  • ISSI 212   -0,09   -0,04%
  • IDX30 337   -1,94   -0,57%
  • IDXHIDIV20 427   -0,46   -0,11%
  • IDX80 91   -0,65   -0,71%
  • IDXV30 115   -0,40   -0,35%
  • IDXQ30 110   -0,10   -0,09%

Donald Trump Sebut Iran Akan Menyerah, tetapi Belum Tahu Kapan


Rabu, 30 September 2026 / 05:57 WIB
Donald Trump Sebut Iran Akan Menyerah, tetapi Belum Tahu Kapan
ILUSTRASI. Perang Iran - AS, Donald Trump (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, belum mengetahui apakah Iran akan menyerah dalam perang dengan AS. Namun, Trump menyebut kondisi Iran saat ini sangat buruk.

"Saya tidak tahu apakah mereka akan menyerah sekarang, tetapi mereka akan menyerah," kata Trump kepada wartawan pada Selasa (29/9), seperti dilaporkan Reuters.

Trump menambahkan, "Mereka berada dalam kondisi yang sangat buruk."

Baca Juga: Qatar Dorong Kesepakatan Damai AS-Iran, Selat Hormuz Jadi Kunci

Pernyataan tersebut disampaikan ketika upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran masih berlangsung.

Qatar tengah menjalankan diplomasi bolak-balik antara Washington dan Teheran untuk mencari titik temu yang dapat membuka jalan menuju kesepakatan.

Pejabat AS dan Iran sebelumnya melakukan pembicaraan secara terpisah dengan mediator Qatar.

Perundingan tersebut antara lain berkaitan dengan proposal Iran mengenai penghentian pertempuran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di tengah tekanan militer dan ekonomi, Iran menghadapi gangguan terhadap ekspor minyak yang menjadi sumber penting pendapatan negara.

Konflik juga telah menekan perekonomian Iran dan mempersempit aktivitas perdagangan melalui Selat Hormuz.

Trump sebelumnya menegaskan bahwa salah satu tujuan utama perang adalah memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Teheran sendiri membantah ingin mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya mengatakan Teheran terbuka untuk pembicaraan mengenai program nuklir dan isu lainnya, tetapi menolak negosiasi yang dilakukan melalui tekanan atau paksaan.

Baca Juga: Dolar AS Tembus Level Tertinggi 16 Bulan, Yield US Treasury di Atas 5%

Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar

Konflik AS-Iran juga terus menjadi perhatian pasar energi global karena gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan minyak dan gas dunia. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan LNG global melewati jalur strategis tersebut.

Harga minyak mentah Brent pada Selasa justru turun 2,56% menjadi US$ 102,59 per barel karena investor melihat tanda-tanda pemulihan ekspor minyak Timur Tengah. Ekspor minyak mentah kawasan tersebut pada September mencapai sekitar 16,33 juta barel per hari, tertinggi sejak konflik dimulai.

Pemerintah AS juga menawarkan pinjaman hingga 40 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) kepada perusahaan energi untuk membantu menjaga pasokan di tengah gangguan akibat perang.

Baca Juga: John Williams: The Fed Tak Perlu Terburu-buru Naikkan Suku Bunga

Meski terdapat perkembangan diplomatik, belum ada kesepakatan final antara Washington dan Teheran.

Trump sebelumnya menolak proposal Iran, tetapi mengatakan pembicaraan lanjutan masih dapat berlangsung.




TERBARU

[X]
×