Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Raksasa perbankan investasi asal Amerika Serikat, Morgan Stanley, dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 2.500 karyawan di seluruh divisinya. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal pada Rabu (5/3), mengutip sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa PHK menyasar karyawan di tiga divisi utama bank, yaitu investment banking dan trading, wealth management, serta investment management.
Sebagian besar pemangkasan tenaga kerja terjadi pada Rabu (4/3), meskipun perusahaan sebenarnya telah mulai menyampaikan rencana PHK tersebut sejak pekan lalu.
Pihak Morgan Stanley belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari Reuters. Reuters juga menyebut belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Per 31 Desember, Morgan Stanley tercatat memiliki sekitar 82.992 karyawan di seluruh dunia. Dengan jumlah tersebut, pemangkasan 2.500 pekerja setara dengan sekitar 3% dari total tenaga kerja global perusahaan.
Menariknya, langkah efisiensi ini terjadi setelah Morgan Stanley mencatat kinerja yang sangat kuat pada 2025. Bank investasi tersebut membukukan pendapatan tahunan tertinggi sepanjang sejarah.
Baca Juga: Apakah Serangan AS ke Iran Legal? Ini Penjelasan Para Pakar Hukum Dunia
Pada Januari lalu, Morgan Stanley juga melaporkan laba kuartal IV yang melampaui ekspektasi analis di Wall Street. Kinerja ini didorong lonjakan pendapatan investment banking hingga 47%, seiring meningkatnya aktivitas transaksi korporasi dan hampir dua kali lipatnya biaya penjaminan emisi utang.
Para eksekutif perbankan sebelumnya juga menyampaikan optimisme terhadap prospek bisnis pada 2026, didukung oleh pipeline merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana saham (IPO) yang dinilai masih kuat.
Di sisi lain, volatilitas pasar yang dipicu kekhawatiran terhadap disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI) pada bisnis teknologi lama serta ketegangan geopolitik justru meningkatkan aktivitas perdagangan di meja trading. Banyak klien memposisikan ulang portofolio mereka untuk melindungi diri dari berbagai risiko.
Dalam laporan The Wall Street Journal disebutkan bahwa PHK kali ini juga mencakup banker privat dan staf back-office di divisi wealth management. Sebagian dari mereka bertugas menangani penyaluran kredit hipotek bagi nasabah pengelolaan kekayaan.
Tonton: Iran Klaim Tahu Lokasi Netanyahu! IRGC Ancam Serangan Tanpa Henti
Secara lebih luas, sejak awal tahun ini gelombang PHK juga terjadi di berbagai perusahaan di Amerika Serikat. Banyak perusahaan mulai merampingkan operasional mereka seiring meningkatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan.
Bahkan pada akhir bulan lalu, perusahaan pembayaran yang dipimpin oleh Jack Dorsey, yakni Block, mengumumkan pemangkasan lebih dari 4.000 pekerja—hampir setengah dari total karyawannya—sebagai bagian dari restrukturisasi untuk mengintegrasikan teknologi AI ke seluruh operasional perusahaan.













