kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Analis Morgan Stanley: Kenaikan Harga Bisa Cegah Gelombang PHK di AS


Jumat, 26 Desember 2025 / 17:06 WIB
Analis Morgan Stanley: Kenaikan Harga Bisa Cegah Gelombang PHK di AS
ILUSTRASI. Morgan Stanley Capital International, MSCI (KONTAN/Panji Indra). Analis Morgan Stanley memprediksi perusahaan di Amerika Serikat dapat menghindari gelombang PHK pada 2026 dengan terus menaikkan harga produk sebagai respons terhadap kenaikan biaya produksi akibat tarif impor.


Sumber: Business Insider | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekhawatiran terhadap potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2026 terus menghantui perekonomian Amerika Serikat (AS). 

Namun, analis Morgan Stanley melihat ada peluang bagi perusahaan untuk menahan diri dari pemangkasan tenaga kerja, asalkan mereka tetap berani menaikkan harga produk.

Kepala Ekonom AS Morgan Stanley, Michael T. Gapen, bersama timnya menilai perusahaan dapat menghindari PHK besar-besaran tahun depan apabila strategi penyesuaian harga yang sudah berlangsung sepanjang 2025 terus dilanjutkan pada 2026. 

Baca Juga: Data Klien JPMorgan, Citi, Morgan Stanley Diduga Bocor

Menaikkan harga dianggap sebagai konsekuensi langsung dari tekanan tarif impor yang memukul biaya produksi.

Pada awal 2025, tarif dinilai memaksa banyak perusahaan menekan ekspansi usaha hingga memangkas kebutuhan perekrutan demi menghindari kenaikan harga barang. 

Namun memasuki kuartal ketiga, tren berbalik. Perusahaan mulai menaikkan harga dengan alasan beban tarif, dan langkah itu dinilai mengembalikan ruang profitabilitas.

“Kami memperkirakan sebagian besar dampak kenaikan tarif terhadap harga konsumen akan selesai tahun depan, selama tidak ada kebijakan tarif tambahan,” kata Gapen. 

Baca Juga: Morgan Stanley, Citi, UBS Percaya BoE Bakal Pangkas Suku Bunga Desember 2025

“Dengan demikian, inflasi tetap tinggi secara moderat, profit mulai pulih, dan ekonomi terhindar dari PHK.”

Morgan Stanley memperkirakan tarif yang berlaku bisa mendorong inflasi inti menyentuh 3% pada awal 2026, seiring meningkatnya harga barang konsumsi yang sensitif terhadap kebijakan tarif. 

Analis juga mencatat perusahaan mulai bisa menutup kerugian yang muncul pada paruh awal 2025.

Prediksi tersebut ikut mempertimbangkan minimnya peluang pemerintahan Trump kembali mendorong tarif baru menjelang pemilu paruh waktu 2026. Kendati begitu, bank investasi tersebut menegaskan kenaikan harga barang belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Namun strategi menyelamatkan pekerjaan lewat inflasi ini memiliki syarat krusial: konsumen harus mampu dan bersedia menerima harga yang terus menanjak. Batas kesabaran pasar menjadi faktor penentu kesehatan pasar tenaga kerja.

Baca Juga: Laba Morgan Stanley Melejit, Dealmaking dan Pasar Modal Dorong Rekor Pendapatan

“Jika perusahaan tidak lagi bisa mendorong harga karena resistensi konsumen atau kehilangan pangsa pasar, maka mereka kemungkinan akan beralih memangkas biaya tenaga kerja. Itu bisa memicu PHK,” tulis Morgan Stanley dalam laporannya.

Dengan ketidakpastian ekonomi masih membayangi, pertanyaannya kini beralih pada seberapa jauh konsumen AS bersedia membayar lebih sebelum akhirnya berhenti berbelanja.
 


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×