Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BEIJING. China menyatakan kesiapannya untuk memperkuat komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) di berbagai tingkatan, namun menegaskan tidak akan mengorbankan prinsip dan garis merah yang menjadi kepentingan intinya.
Pernyataan ini muncul di tengah upaya kedua negara menstabilkan hubungan yang kembali diuji oleh konflik geopolitik global.
Juru bicara parlemen China, Lou Qinjian, menyampaikan sikap tersebut menjelang pembukaan sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional.
Momentum ini dinilai penting karena berlangsung saat Beijing dan Washington mempersiapkan kemungkinan pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan akhir Maret di Beijing.
Baca Juga: Garis Merah Dilanggar: Jepang Mantap Kirim Rudal, China Murka
Hubungan bilateral kedua negara sebelumnya telah tertekan oleh ketegangan perdagangan. Situasi kian kompleks setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi di Caracas serta pecahnya perang AS–Israel melawan Iran, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Bagi China, Iran dan Venezuela merupakan pemasok minyak utama sekaligus mitra strategis jangka panjang.
Dalam konteks konflik Iran, China kembali menyerukan gencatan senjata segera dan menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara. Lou menyebut stabilitas global tidak boleh ditentukan sepihak oleh kekuatan tertentu.
“Tidak ada negara yang berhak mengendalikan urusan internasional atau mendikte nasib negara lain,” ujarnya.
Meski mendorong dialog, Beijing menegaskan sikap defensifnya tetap tegas. Lou menyatakan China akan terus membela kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunannya, seraya meminta Kongres AS memandang China secara lebih objektif dan berkontribusi pada perbaikan hubungan.
Baca Juga: Prancis Peringatkan AS soal Greenland, Hubungan Dagang Uni Eropa Terancam
Di sisi lain, seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump berencana melakukan kunjungan ke China pada 31 Maret hingga 2 April, meski Beijing belum mengumumkan secara resmi.
Menjelang agenda tersebut, para perunding dagang utama kedua negara dikabarkan akan bertemu di Paris pekan depan untuk membahas peluang kesepakatan bisnis yang dapat membuka jalan bagi pemulihan hubungan ekonomi.













