Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Alphabet, induk perusahaan Google, pada Selasa (10/2/2026) menerbitkan obligasi berjangka 100 tahun yang langka sebagai bagian dari penggalangan dana global senilai US$31,51 miliar.
Seiring melonjaknya kebutuhan pendanaan raksasa teknologi Amerika Serikat untuk membiayai ekspansi kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan memo dari penjamin emisi utama yang dilihat Reuters, penerbitan obligasi 100 tahun tersebut menjadi yang pertama di industri teknologi sejak Motorola melakukannya pada 1997, menurut data LSEG.
Baca Juga: Saham Mattel Anjlok Hampir 30%, Terseret Prospek Laba yang Mengecewakan
“Kita sedang hidup di periode luar biasa dengan perubahan teknologi yang sangat besar,” kata Jason Granet, Chief Investment Officer BNY.
“Hari ini, perubahan itu datang dalam bentuk penerbitan obligasi 100 tahun oleh Google, yang mencerminkan besarnya belanja modal dan investasi yang mengalir ke sektor teknologi.”
Alphabet menerbitkan obligasi berdenominasi pound sterling senilai 5,5 miliar pound (sekitar US$7,53 miliar) dalam lima seri.
Dari jumlah tersebut, tranche obligasi 100 tahun sebesar 1 miliar pound menawarkan kupon 6,125% dengan imbal hasil sekitar 6,05%. Permintaan investor hampir 10 kali lipat dari nilai yang ditawarkan, menurut data IFR.
Selain itu, Alphabet juga menghimpun 3,055 miliar franc Swiss (sekitar US$3,98 miliar) melalui penerbitan obligasi lain dengan jatuh tempo mulai dari tiga hingga 25 tahun, berdasarkan memo dari penjamin emisi terpisah.
Baca Juga: Goldman Sachs Peringatkan Potensi Aksi Jual Saham US$ 80 Miliar, Kripto Terancam?
Tanpa Covenant Ketat
Obligasi baru Alphabet menarik perhatian pasar karena tidak dilengkapi covenant ketat untuk melindungi investor, sesuatu yang relatif jarang dalam penerbitan obligasi perusahaan teknologi.
Analis dari Covenant Review mencatat bahwa obligasi Alphabet tidak memiliki pembatasan berarti, seperti rasio perlindungan bunga, yang umumnya digunakan untuk memastikan kemampuan perusahaan membayar utang dari laba operasional.
“Obligasi Alphabet tidak memiliki covenant pembatas yang signifikan. Meski penerbit ini tergolong berisiko rendah, hal ini menciptakan preseden pasar yang kurang baik karena raksasa teknologi lain biasanya tetap memiliki covenant,” tulis para analis tersebut.
Selain itu, obligasi tersebut tidak dijamin oleh anak usaha dan tidak memberikan perlindungan terhadap kemungkinan subordinasi di masa depan terhadap utang Alphabet lainnya. Alphabet belum memberikan komentar resmi terkait struktur penerbitan obligasi ini.
Baca Juga: Ramalan Kiyosaki: Perak Bakal Tembus US$ 200, Ini Strategi Belinya
Langka, Tapi Diminati Investor Jangka Panjang
Penerbitan obligasi 100 tahun tergolong jarang dan sempat marak setelah krisis keuangan global 2008 ketika suku bunga berada di level sangat rendah.
Namun, tren tersebut meredup setelah 2022 seiring bank sentral global menaikkan suku bunga pascapandemi COVID-19.
Meski demikian, permintaan terhadap obligasi ultra-jangka panjang tetap kuat, terutama dari perusahaan asuransi jiwa, dana pensiun, dan endowment, yang memiliki kewajiban jangka panjang dan relatif kekurangan pilihan obligasi korporasi dengan tenor sangat panjang.
Saham Alphabet ditutup melemah 1,78% pada perdagangan Selasa.
Sebelumnya, Alphabet juga menerbitkan obligasi senilai US$20 miliar dalam tujuh seri yang jatuh tempo bertahap mulai 2029 hingga 2066.
Baca Juga: Prediksi Harga Perak 2026: Mungkinkah Tembus US$ 200 per Ounce?
Dorongan AI dan Infrastruktur Jangka Panjang
Lonjakan penerbitan utang oleh perusahaan teknologi besar memicu kekhawatiran investor, mengingat imbal hasil dari investasi AI belum sepenuhnya sebanding dengan besarnya belanja modal.
Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Meta Platforms diperkirakan menggelontorkan setidaknya US$630 miliar belanja modal pada tahun ini, terutama untuk pusat data dan chip AI, menurut perhitungan Reuters.
Sejumlah analis menilai langkah Alphabet mencerminkan pergeseran model bisnis Big Tech dari yang sebelumnya ringan aset menjadi berbasis infrastruktur jangka panjang.
“Obligasi 100 tahun biasanya hanya diterbitkan oleh pemerintah atau utilitas dengan arus kas sangat stabil. Penerbitan ini menunjukkan bahwa investor bersedia menanggung risiko jangka sangat panjang yang terkait dengan investasi AI,” kata Lale Akoner, analis pasar global eToro.
Sementara itu, Piers Ronan, Head of Debt Capital Markets Truist Securities, menyebut obligasi 100 tahun sebagai opsi menarik bagi penerbit karena relatif murah, dengan risiko durasi bagi investor yang tidak jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi 30 tahun.













