kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Goldman Sachs: Lonjakan Harga Minyak ke US$100 Bisa Pangkas Ekonomi Global


Kamis, 05 Maret 2026 / 17:43 WIB
Goldman Sachs: Lonjakan Harga Minyak ke US$100 Bisa Pangkas Ekonomi Global


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Eskalasi konflik di Iran berpotensi menguji ketahanan ekonomi global melalui lonjakan inflasi dan perlambatan pertumbuhan.

Analis dari Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga minyak yang tajam dapat menekan aktivitas ekonomi dunia.

Dalam laporan yang dirilis Kamis (5/3/2026), Goldman Sachs menyebut lonjakan harga minyak sementara hingga US$100 per barel berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,4 poin persentase.

Baca Juga: Iran Klaim Serang Kapal Tanker AS di Teluk, Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz

Risiko ini muncul jika konflik yang melibatkan Iran meluas dan mengganggu aliran minyak serta gas dari kawasan Timur Tengah.

Dalam skenario dasar (baseline), Goldman memperkirakan harga minyak masih akan naik dalam jangka pendek sebelum kembali melandai.

Rata-rata harga minyak diproyeksikan berada di kisaran US$76 per barel pada kuartal I-2026, kemudian turun menjadi sekitar US$65 per barel pada kuartal IV-2026.

Namun, dalam skenario optimistis atau upside scenario, harga minyak dapat melonjak hingga sekitar US$100 per barel sebelum akhirnya kembali normal secara bertahap sepanjang 2026.

Goldman memperkirakan, pada skenario dasar tersebut, dampaknya terhadap ekonomi global masih relatif terbatas.

Baca Juga: Krisis Iran Ancam Supercycle Cip

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global diperkirakan hanya tertekan sekitar 0,1 poin persentase, sementara inflasi global meningkat sekitar 0,2 poin persentase.

Sebaliknya, jika harga minyak benar-benar menembus US$100 per barel, tekanan inflasi global bisa meningkat lebih signifikan hingga 0,7 poin persentase.

Dari sisi kebijakan moneter, Goldman mencatat bahwa bank sentral biasanya tidak merespons secara langsung lonjakan harga minyak.

Namun, otoritas moneter cenderung memperketat kebijakan secara moderat ketika inflasi sudah tinggi atau ketika guncangan harga energi cukup besar.

Karena itu, prospek kebijakan moneter global diperkirakan tidak banyak berubah dalam skenario dasar.

Meski demikian, bank sentral bisa mengambil sikap lebih hawkish misalnya dengan menunda pemangkasan suku bunga, terutama di negara berkembang jika harga minyak melonjak hingga US$100 per barel atau jika kenaikan biaya energi lebih cepat diteruskan ke harga konsumen.

Baca Juga: Kremlin Sebut Iran Belum Meminta Pasokan Senjata dari Rusia

Selain memicu inflasi, lonjakan harga minyak juga diperkirakan menekan pendapatan riil masyarakat dan belanja konsumen.

Di sisi lain, negara-negara eksportir energi seperti Kanada dan beberapa negara di kawasan Amerika Latin berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas energi tersebut.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×