Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan potensi terjadinya El Nino moderat hingga kuat yang dapat meningkatkan suhu global serta memicu cuaca ekstrem dalam beberapa bulan ke depan.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang biasanya berlangsung selama 9 hingga 12 bulan, menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).
Baca Juga: Harga Energi Naik Tajam, Indonesia hingga Jepang Tempuh Langkah Darurat
WMO menyebutkan bahwa suhu laut yang hangat saat ini mendorong perkembangan El Nino, dengan prediksi suhu global di atas normal di sebagian besar wilayah dunia pada periode Juni hingga Agustus. Fenomena ini diperkirakan dapat berlangsung hingga November.
Namun, WMO menegaskan bahwa kekuatan El Nino masih belum pasti karena model iklim menunjukkan hasil yang berbeda.
Meski demikian, lembaga tersebut mengingatkan perlunya kesiapsiagaan global.
“Dunia perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat, yang dapat memperburuk kekeringan, hujan lebat, serta meningkatkan risiko gelombang panas di daratan maupun lautan,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo dilansir Reuters Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: WHO: Kasus Suspek Ebola Turun Jadi 116 Setelah Ratusan Kasus Lain Dikesampingkan
Risiko Cuaca Ekstrem di Berbagai Wilayah
Pola El Nino diketahui dapat mengganggu iklim global, dengan dampak berupa peningkatan suhu di banyak wilayah dunia, peningkatan curah hujan di bagian selatan Amerika Selatan, Amerika Serikat (AS), Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.
Sebaliknya, El Nino juga dapat memicu kekeringan di Australia, Amerika Tengah, Indonesia, serta sebagian Asia Selatan. Fenomena ini juga dapat meningkatkan aktivitas badai di Pasifik tengah dan timur.
WMO menambahkan bahwa El Nino terakhir pada periode 2023–2024 termasuk kategori kuat dan turut berkontribusi menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat.
Baca Juga: IMF Soroti Lemahnya Independensi Bank Sentral di Timur Tengah dan Asia Tengah
Ancaman terhadap Pangan dan Inflasi
WMO juga memperingatkan bahwa dampak gelombang panas dapat memperburuk penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk dan kutu, serta menekan ketersediaan pangan dan air bersih.
Kondisi ini berpotensi memperparah tekanan inflasi global, yang sebelumnya telah dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik Iran.
CEO Barry Callebaut, salah satu perusahaan pengolah kakao terbesar di dunia, Hein Schumacher menyatakan bahwa El Nino dapat memengaruhi produksi kakao di Ekuador dan Afrika Barat yang menyumbang sekitar 60% produksi global.
“Ini sesuatu yang kami pantau dengan sangat hati-hati,” ujarnya.
Sementara itu, harga kakao di pasar berjangka London saat ini berada di sekitar 2.944 pound sterling per ton, turun dari level di atas 9.000 pound pada April 2024.
Baca Juga: Gawat, Persediaan Minyak Bisa Mencapai Level Kritis Jelang Musim Panas
Seruan Pengurangan Emisi
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai, fenomena El Nino menjadi pengingat pentingnya transisi energi global dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.
“Dunia harus menganggap ini sebagai peringatan iklim yang mendesak. Kondisi El Nino akan memperkuat dampak pemanasan global,” katanya.













