kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Dolar AS Terpuruk 9% Setahun: Ada Apa dengan Mata Uang Paling Kuat Dunia?


Rabu, 11 Februari 2026 / 08:12 WIB
Dolar AS Terpuruk 9% Setahun: Ada Apa dengan Mata Uang Paling Kuat Dunia?
ILUSTRASI. Dolar AS melemah drastis, tapi Gedung Putih ingin mempertahankannya. Temukan alasan di balik keraguan investor dan dampaknya pada pasar keuangan dunia. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Yahoo Finance | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Gedung Putih menyatakan ingin mempertahankan dolar Amerika Serikat (AS) yang kuat. Namun, para investor tampaknya belum sepenuhnya percaya.

Melansir Yahoo Finance, pada 2025, dolar AS mencatat penurunan tahunan terbesar dalam delapan tahun terakhir. Meski dalam beberapa hari terakhir sempat menguat, indeks dolar masih turun sekitar 1% sejak awal tahun ini, melanjutkan penurunan tajam sekitar 9% sepanjang 2025.

“Secara fundamental, kami menilai lonjakan ketidakpastian kebijakan yang terjadi belakangan ini akan cukup bertahan lama sehingga membuat dolar sulit kembali ke level sebelumnya,” tulis para analis valuta asing Goldman Sachs dalam catatan kepada klien.

Menurut mereka, investor memasuki awal tahun dengan ekspektasi adanya dukungan yang lebih kuat bagi siklus ekonomi. Namun, serangkaian ancaman tarif baru justru mengguncang ekspektasi tersebut.

Saat Presiden AS Donald Trump pertama kali mengumumkan kebijakan tarif “Liberation Day” pada April tahun lalu, dolar AS, yang selama ini dianggap sebagai pilar utama ekonomi global, langsung melemah lebih dari 5%. Hampir setahun berlalu, mata uang tersebut belum mampu menutup kerugian tersebut.

Selama beberapa dekade, dolar AS dikenal sebagai mata uang cadangan dunia dan kerap disebut sebagai “exorbitant privilege” yang dimiliki Amerika Serikat. Status ini membuat dolar dan aset berbasis dolar sering menjadi aset aman (safe haven) saat pasar global bergejolak.

Baca Juga: Google Terbitkan Obligasi 100 Tahun, Fenomena Langka Sejak 1997

Namun, kondisi itu mulai dipertanyakan. 

“Jika status dolar sebagai mata uang cadangan bergantung pada peran AS sebagai penjamin keamanan global dan tatanan berbasis aturan, maka peristiwa dalam setahun terakhir ini menyimpan benih pergeseran alokasi aset menjauhi dolar dan pencarian alternatif,” ujar Thierry Wizman, analis global dan strategi nilai tukar di Macquarie Bank.

Pasar juga tengah mencermati potensi perubahan arah kebijakan moneter AS menyusul pencalonan Kevin Warsh sebagai pengganti Ketua The Fed Jerome Powell. Warsh, mantan gubernur Federal Reserve yang dikenal berpandangan hawkish, sempat mendorong penguatan dolar sesaat. Namun, sentimen tersebut cepat memudar.

Presiden Trump menegaskan bahwa ia tidak akan menunjuk Warsh jika yang bersangkutan berniat menaikkan suku bunga. Trump menilai tingkat suku bunga saat ini terlalu tinggi dan yakin The Fed akan menurunkannya.

Baca Juga: Goldman Sachs Peringatkan Potensi Aksi Jual Saham US$ 80 Miliar, Kripto Terancam?

Meski dolar masih menjadi jangkar sistem keuangan global, para pelaku pasar kini semakin aktif mencari lindung nilai ke aset dan mata uang lain, seperti euro, franc Swiss, dan emas, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan, yang ironisnya banyak bersumber dari Amerika Serikat sendiri.

“Kami tidak menilai bahwa diversifikasi dari dolar akan berakhir dalam jangka menengah dan panjang,” kata Wizman. 

Menurutnya, fase pelemahan dolar yang dipicu perubahan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan AS bisa berlangsung hingga satu dekade atau lebih.

Ia bahkan menilai, dengan arah kebijakan AS saat ini terhadap dunia, dolar tidak akan mampu mempertahankan statusnya sebagai mata uang cadangan global tanpa batas waktu.

Penguatan harga emas menjadi salah satu cerminan kekhawatiran tersebut. Sepanjang 2025, harga emas melonjak lebih dari 60%, salah satu reli terkuat dalam sejarah, dan masih naik lebih dari 70% dalam setahun terakhir meski sempat terkoreksi.

Logam lain seperti perak, platinum, tembaga, hingga baja juga terus menguat hingga awal 2026.

“Katalis utama di balik meningkatnya permintaan aset keras adalah dolar AS itu sendiri,” tulis Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Sloth Hansen. 

Kekhawatiran terhadap stabilitas AS dan arus modal yang keluar ke pasar lain semakin memperlemah posisi dolar.

Tonton: Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun

Sejumlah mata uang utama seperti euro, pound sterling, dan franc Swiss juga menguat terhadap dolar dalam sebulan terakhir. Mata uang negara berkembang seperti real Brasil, peso Meksiko, dan rand Afrika Selatan turut mengalami penguatan.

Meski demikian, ekonom Bank of America menilai masih terlalu dini menyebut pergerakan ini sebagai tanda pelemahan struktural dolar. Dalam skenario pelemahan serius, dolar biasanya turun bersamaan dengan merosotnya valuasi aset keuangan AS secara luas.

Namun, mereka mengakui adanya tanda-tanda awal perubahan preferensi investor. Dolar dinilai masih berpotensi melemah lebih lanjut karena faktor fundamental seperti potensi kebijakan moneter yang lebih dovish dan dampak lanjutan perang dagang dengan Eropa serta China.

“Untuk saat ini, belum ada alternatif yang benar-benar mampu menggantikan dolar sebagai mata uang global, bahkan euro atau renminbi,” tulis Steven Kamin, mantan kepala keuangan internasional The Fed. 

Ia menambahkan, AS masih memiliki pasar modal terdalam dan paling likuid di dunia.

Namun, jika beberapa tahun lalu sulit membayangkan dunia tanpa dominasi dolar, kini skenario tersebut semakin mudah dibayangkan dalam beberapa dekade mendatang.

Selanjutnya: Google Terbitkan Obligasi 100 Tahun, Fenomena Langka Sejak 1997

Menarik Dibaca: IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham MNC Sekuritas Rabu (11/2)




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×