Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - China mencatat kenaikan harga konsumen pada Januari, sementara tekanan deflasi di tingkat produsen menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.
Data yang dirilis Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS) pada Rabu (11/2/2026) menunjukkan perekonomian terbesar kedua dunia itu masih menghadapi tantangan pemulihan permintaan domestik.
Baca Juga: Yen Menguat Rabu (11/2) Pagi, Dolar Goyah Jelang Data Tenaga Kerja AS
Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) China tercatat naik 0,2% secara tahunan (YoY) pada Januari.
Angka ini melambat dibandingkan kenaikan 0,8% pada Desember, serta berada di bawah ekspektasi survei Reuters yang memperkirakan inflasi sebesar 0,4%.
Secara bulanan (month-on-month), CPI juga naik 0,2%, tidak berubah dari bulan sebelumnya dan kembali meleset dari perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan 0,3%.
Sementara itu, Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) masih berada di zona deflasi, namun dengan laju penurunan yang lebih ringan.
Baca Juga: Harga Emas dan Perak Naik Rabu (11/2) Pagi, Seiring Turunnya Imbal Hasil AS
PPI tercatat turun 1,4% secara tahunan pada Januari, membaik dibandingkan kontraksi 1,9% pada Desember dan sedikit lebih baik dari perkiraan pasar yang memprediksi penurunan 1,5%.
Pelemahan deflasi produsen ini mengindikasikan adanya perbaikan bertahap pada sektor industri, meskipun tekanan terhadap harga masih berlanjut.
Data tersebut menegaskan bahwa pemulihan ekonomi China tetap berjalan tidak merata, dengan permintaan konsumen yang masih relatif lemah di tengah upaya pemerintah menopang pertumbuhan.













