Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bursa Saham Jepang jatuh dengan laju paling tajam dalam beberapa bulan pada hari ini. Sentimen yang jadi pemberat karena investor tetap waspada untuk hari kedua berturut-turut setelah serangan AS-Israel terhadap Iran.
Selasa (3/3/2026), indeks Topix merosot 3,2% menjadi 3.772,17, penurunan tercepat sejak April, sementara Nikkei turun 3,1% menjadi 56.279,05, penurunan terbesar sejak November tahun lalu, setelah sempat turun hingga 3,4%.
"Kenaikan berkelanjutan pada harga minyak mentah berjangka di tengah memburuknya ketegangan di Timur Tengah, bersamaan dengan dolar AS yang lebih kuat dan yen yang lebih lemah, memicu pandangan bahwa inflasi dapat meningkat," kata Maki Sawada, seorang ahli strategi di Nomura Securities.
"Ketidakpastian ini, yang dipandang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter di masa depan, membebani pasar saham secara keseluruhan."
Baca Juga: Indeks Kospi Anjlok 6%, Bersiap Cetak Hari Terburuk dalam 19 Bulan
Perang udara AS-Israel melawan Iran meningkat tanpa ada tanda-tanda akan berakhir, karena Israel menyerang Lebanon sebagai tanggapan atas serangan Hizbullah dan Teheran terus meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Seluruh 33 subindeks industri di bursa Tokyo mengalami penurunan, dipimpin oleh penurunan 5,5% di sektor minyak dan batubara, diikuti oleh penurunan 5,4% di industri peralatan transportasi.
Toyota Motor, produsen mobil terbesar di dunia berdasarkan penjualan, turun 6,1%, penurunan paling tajam sejak September 2024, sementara maskapai penerbangan terbesar Jepang, ANA Holdings, turun 3,3%.
ENEOS Holdings, penyuling minyak terbesar Jepang, kehilangan 6,3%, penurunan paling tajam sejak April.
Namun, penurunan persentase terbesar tidak ada hubungannya dengan ketegangan di Timur Tengah.
Baca Juga: Citra Satelit Ungkap Dugaan Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran di Natanz
Saham Sumitomo Pharma anjlok 19,1%, penurunan terbesar dalam hampir 12 tahun, karena kekhawatiran investor atas penerbitan saham baru lebih besar daripada revisi ke atas terhadap perkiraan laba bersih setahun penuh untuk tahun fiskal berjalan.
Terdapat 219 saham yang turun di indeks Nikkei, sementara enam saham naik.













