Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Laba industri China akhirnya kembali tumbuh pada 2025, menandai kenaikan tahunan pertama dalam empat tahun terakhir.
Data resmi pemerintah menunjukkan, perbaikan ini terjadi seiring meredanya perang harga di sejumlah sektor dan menguatnya kinerja ekspor di tengah lemahnya konsumsi domestik.
Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics/NBS) mencatat, laba perusahaan industri naik 0,6% sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Ini menjadi pembalikan arah setelah laba industri terus tertekan sejak 2021. Sebelumnya, hingga November 2025, pertumbuhan laba baru mencapai 0,1%.
Baca Juga: Laba Industri China Naik 21,6% di September, Sinyal Pemulihan Ekonomi Mulai Terlihat
Perbaikan kinerja terlihat jelas pada Desember 2025. Pada bulan tersebut, laba industri melonjak 5,3% secara tahunan, berbalik arah dari kontraksi tajam 13,1% pada November.
Kenaikan laba ini tak lepas dari intervensi pemerintah China yang menekan praktik persaingan berlebihan, terutama perang harga di sektor-sektor seperti otomotif dan panel surya.
Selama beberapa tahun terakhir, strategi mengejar pangsa pasar telah memangkas margin keuntungan perusahaan.
Baca Juga: Laba Industri China Turun Tiga Bulan Berturut-turut pada Juli 2025
Meski tekanan deflasi di tingkat produsen belum sepenuhnya mereda, lonjakan ekspor membantu menopang kinerja industri.
Diversifikasi tujuan ekspor, terutama menjauh dari pasar Amerika Serikat, ikut meredam dampak tarif impor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap produk China.
Sektor otomotif menjadi salah satu contoh pemulihan. Sepanjang 2025, laba industri otomotif naik 0,6%, berbalik dari penurunan 8% pada tahun sebelumnya, berkat kuatnya permintaan ekspor.
Baca Juga: Laba Industri China Naik pada 2025, Pertama dalam Empat Tahun
Namun, otoritas statistik menilai tantangan struktural masih membayangi. “Dampak perubahan lingkungan eksternal semakin terasa,” ujar ahli statistik NBS Yu Weining.
Ia menegaskan bahwa proses transformasi dan peningkatan industri masih menimbulkan tekanan bagi pelaku usaha.
“Ada rasa sakit dalam transformasi industri, dan sebagian perusahaan masih menghadapi kesulitan dalam produksi dan operasional,” kata Yu.
Ke depan, pemerintah China berupaya mendorong konsumsi di sektor jasa untuk menyerap hasil produksi industri. Langkah ini ditujukan untuk mengatasi kelebihan kapasitas industri sekaligus mengurangi ketergantungan pada permintaan luar negeri.
Berdasarkan kepemilikan, laba perusahaan industri milik negara turun 3,9% sepanjang 2025. Sementara itu, laba perusahaan swasta relatif stagnan, dan perusahaan asing mencatat kenaikan laba sebesar 4,2%.
Data laba industri ini mencakup perusahaan dengan pendapatan tahunan minimal 20 juta yuan atau sekitar US$2,88 juta dari kegiatan usaha utama.












