Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tiket penerbangan antara Asia dan Eropa melonjak tajam setelah sejumlah hub utama di Timur Tengah ditutup akibat perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.
Situs maskapai menunjukkan banyak rute populer sudah penuh dipesan selama beberapa hari ke depan.
Hub besar di kawasan Teluk, termasuk Bandara Internasional Dubai bandara internasional tersibuk di dunia yang biasanya melayani lebih dari 1.000 penerbangan per hari masih ditutup untuk hari keempat pada Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: Perang Iran Jadi Ujian Baru Ketahanan Ekonomi Amerika Serikat (AS)
Penutupan ini memangkas kapasitas pada rute-rute favorit seperti Australia–Eropa, yang biasanya didominasi oleh Emirates dan Qatar Airways.
Perusahaan agen perjalanan asal Australia, Flight Centre Travel Group mencatat lonjakan 75% panggilan ke gerai dan jalur bantuan darurat sejak krisis dimulai.
Managing Director Global Andrew Stark mengatakan, warga Australia kini mengalihkan penerbangan melalui hub alternatif di China, Singapura, dan AS.
Charlotte Kennard dan ayahnya Richard termasuk penumpang terdampak. Mereka dijadwalkan terbang dari Birmingham ke Sydney melalui Dubai dengan Emirates pada Minggu, namun terdampak gangguan.
Maskapai sebelumnya menyatakan akan “memantau situasi” dan memberi pembaruan 24 jam sebelum keberangkatan.
Namun, tidak ada kabar lanjutan hingga mereka tiba di bandara dan mendapati penerbangan dibatalkan.
Baca Juga: Indeks Nikkei Anjlok 3%, Seiring Meluasnya Konflik di Timur Tengah
Kennard (20) mengatakan, mereka akhirnya mendapatkan kursi di Singapore Airlines yang berangkat dari London pada Selasa malam, dengan harga 1.900 pound sterling (sekitar A$3.620) per orang untuk tiket sekali jalan.
Ia menyebut harga tiket malam sebelumnya sekitar A$2.500, jauh lebih tinggi dibanding tiket pulang-pergi awal mereka yang hanya A$2.300.
“Tinggal di Australia, kami biasanya cukup jauh dari konflik. Berada lebih dekat dengan situasi ini memunculkan rasa takut dan stres baru,” ujarnya.
“Yang kami inginkan sekarang hanya pulang dan bertemu keluarga serta anjing kami.”
Biaya Naik, Waktu Tempuh Bertambah
Maskapai yang menawarkan penerbangan langsung Asia–Eropa memang dapat menghindari wilayah udara Timur Tengah yang ditutup dengan terbang memutar ke utara melalui Kaukasus dan Afghanistan, atau ke selatan melalui Mesir, Arab Saudi, dan Oman.
Namun rute alternatif ini memperpanjang waktu tempuh dan meningkatkan konsumsi bahan bakar di tengah lonjakan harga minyak yang pada akhirnya berpotensi mendorong tarif tiket lebih tinggi dalam jangka panjang.
Baca Juga: Pasokan Minyak Ketat, Kilang Minyak China ZPC Pangkas Produksi
“Sekarang seluruh Timur Tengah berada di luar jangkauan, dan itu mahal bagi sejumlah maskapai,” kata Subhas Menon, Kepala Association of Asia Pacific Airlines.
“Jika Eropa hanya bisa dilayani dengan biaya tinggi, profitabilitas maskapai akan tertekan. Pada akhirnya, harga yang dibayar adalah konektivitas.”













