Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Maskapai Alternatif Raup Untung
Konsultan Alton Aviation menyebut maskapai yang mengoperasikan penerbangan nonstop atau melalui hub di luar kawasan terdampak termasuk Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Turkish Airlines berpotensi meraih keuntungan jangka pendek karena penumpang beralih dari maskapai Teluk.
Pengecekan Reuters pada Selasa menunjukkan ketersediaan kursi jangka pendek sangat terbatas dan harga tinggi untuk penerbangan Asia–London.
Situs Cathay Pacific menunjukkan tidak ada kursi kelas ekonomi rute Hong Kong–London hingga 11 Maret, dengan harga tiket sekali jalan minimal HK$21.158 (sekitar US$2.705), sebelum turun ke level lebih normal HK$5.054 di akhir bulan.
Baca Juga: Inflasi Toko Inggris Melandai, Tekanan Biaya Hidup Belum Usai
Untuk rute Sydney–London, Qantas Airways tidak menawarkan tiket ekonomi melalui rute normal Perth dan Singapura hingga 17 Maret. Tiket sekali jalan pada tanggal tersebut dibanderol A$3.129 (sekitar US$2.220).
Untuk tanggal lebih awal, tersedia opsi mahal dengan transit tidak lazim seperti Los Angeles dan Johannesburg.
Thai Airways juga melaporkan penerbangan ke Eropa penuh dipesan karena wisatawan Eropa memilih rute langsung dibanding transit di Timur Tengah.
Pencarian rute Bangkok–London menunjukkan tiket habis hingga akhir pekan depan, dengan harga ekonomi sekali jalan mencapai 71.190 baht (sekitar US$2.265) pada 15 Maret sebelum turun menjadi 27.045 baht pada 18 Maret.
Baca Juga: Aksi Jual Melanda Pasar Saham Global, Pasar Khawatir Perang Iran Picu Inflasi Tinggi
Maskapai Taiwan EVA Air menyebut, pemesanan penerbangan ke Eropa melonjak karena penumpang Asia dan Eropa mencari rute alternatif.
Situs maskapai China daratan juga menunjukkan tarif rute China–Inggris melonjak jauh di atas normal, dengan kursi ekonomi hampir tidak tersedia dalam waktu dekat.
Tiket pulang-pergi kelas ekonomi Beijing–London biasanya di bawah 10.000 yuan (sekitar US$1.453), namun Air China pada Rabu hanya menawarkan kelas bisnis dengan harga sekali jalan 50.490 yuan.
Lonjakan harga ini menunjukkan betapa sensitifnya konektivitas global terhadap gangguan geopolitik di Timur Tengah, kawasan yang selama ini menjadi simpul utama perjalanan udara jarak jauh antara Asia dan Eropa.













