kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Harga Minyak Anjlok 7% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran


Selasa, 04 Agustus 2026 / 05:30 WIB
Harga Minyak Anjlok 7% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia merosot sekitar 7% dan ditutup di level terendah dalam tiga pekan pada perdagangan Senin (3/8/2026).

Pelemahan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan baru terhadap Iran dengan harapan tercapainya kesepakatan yang dapat meningkatkan pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Baca Juga: Harga Emas Spot Melemah ke US$ 4.030, Investor Menunggu Arah Kebijakan The Fed

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Oktober ditutup turun US$ 6,35 atau 7% menjadi US$ 83,77 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 4,33 atau 5,1% ke level US$ 80,34 per barel.

Penutupan tersebut menjadi yang terendah bagi Brent sejak 13 Juli. Selain dipengaruhi sentimen geopolitik, harga Brent juga tertekan oleh bergantinya kontrak acuan dari September ke Oktober, yang diperdagangkan pada harga lebih rendah.

Iran pada Senin menegaskan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun rencana pertemuan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan itu bertolak belakang dengan klaim Trump yang sebelumnya menyebut pembicaraan akan berlangsung pada hari yang sama dan menjadi alasan penundaan serangan militer terhadap Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran

Sepanjang akhir pekan, Trump kembali menunjukkan pola yang telah berulang selama lima bulan terakhir, yakni mengumumkan rencana "serangan besar-besaran" terhadap Iran, namun membatalkannya pada saat-saat terakhir.

Pada Senin, Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran "sedang berlangsung saat ini" dan memperingatkan bahwa Iran menghadapi ancaman "pemenggalan kepemimpinan" apabila tidak menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah pernyataan tersebut. Ia menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS maupun agenda pertemuan yang dijadwalkan.

Iran juga tidak berencana menerima delegasi asing ataupun mengirim negosiator ke luar negeri dalam beberapa hari mendatang.

Baca Juga: Harga Saham Melesat, Amazon Masuk Klub Saham Kapitalisasi Pasar US$ 3 Triliun

Analis Ritterbusch and Associates menilai, penurunan tajam harga minyak merupakan reaksi pasar yang berlebihan terhadap komentar Trump mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran.

Menurut mereka, Trump kembali menggunakan pernyataannya untuk meredam kenaikan harga minyak dan bensin di Amerika Serikat.

Pada Senin, Trump juga kembali mendesak perusahaan minyak agar menurunkan harga bahan bakar bagi konsumen AS.

Ia bahkan mengkritik Chevron dan Exxon Mobil karena dinilai memperoleh keuntungan yang terlalu besar.

Sejalan dengan pelemahan harga minyak mentah, harga bensin dan diesel di AS juga turun sekitar 5% pada perdagangan Senin.

Baca Juga: PMI Sektor Manufaktur AS Stagnan di Juli, Optimisme Pengusaha Juga Merosot

Jalur pelayaran kembali menjadi perhatian

Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga mulai memengaruhi aktivitas pelayaran.

Data pelacakan kapal menunjukkan enam kapal tanker super berbendera Arab Saudi mengubah rute di Teluk Aden dalam beberapa hari terakhir dan memilih berlayar mengelilingi Afrika bagian selatan setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan menyerang kapal-kapal milik Arab Saudi.

Meski demikian, pada akhir pekan lalu dua kapal tanker yang mengangkut minyak Arab Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Sementara itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis antara Iran dan Oman, melambat setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap sejumlah kapal.

Sebelum konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas pada akhir Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Baca Juga: Rencana Bisnis FIFA Gagal, Gianni Infantino Cari Dukungan Donald Trump

Rusia perkuat perlindungan jalur energi

Di sisi lain, sebuah kapal tanker berbendera Panama yang mengangkut nafta Rusia dilaporkan sempat berupaya melintasi Selat Bab el-Mandeb pada pekan terakhir Juli sebelum akhirnya mengubah rute dan berlayar mengelilingi Afrika.

Pemerintah Rusia pada Senin menyatakan akan meningkatkan perlindungan terhadap kapal-kapal di kawasan Laut Azov dan Laut Hitam, sekaligus mengembangkan jalur pengiriman alternatif. Langkah tersebut diambil setelah meningkatnya serangan terhadap kapal dalam konflik Rusia-Ukraina.

Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi, serta menjadi anggota aliansi OPEC+.

Baca Juga: Bank of Korea Koleksi Emas Lagi Setelah 13 Tahun, Kurangi Ketergantungan Aset Asing

Gangguan ekspor minyak dari kawasan Teluk, Rusia, dan Kazakhstan akibat konflik Iran maupun Ukraina membuat peningkatan kuota produksi OPEC+ sepanjang tahun ini belum sepenuhnya menambah pasokan minyak ke pasar global.

Pada Minggu (2/8), OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari mulai September mendatang.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×