Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - MANILA. Bank sentral Filipina menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,50%, Kamis (23/4/2026). Ini adalah kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir.
Keputusan menaikkan suku bunga ini diambil untuk menekan inflasi yang meningkat, seiring kekhawatiran atas kenaikan biaya bahan bakar yang meroket. Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) mengatakan inflasi diperkirakan akan melonjak menjadi 6,3% tahun ini, melewati target di kisaran 2%-4%.
Gubernur BSP Eli Remolona memperingatkan, kenaikan suku bunga lebih lanjut dapat terjadi karena siklus pelonggaran kebijakan moneter telah berakhir. "Saya pikir kenaikan suku bunga lebih lanjut adalah bagian dari perhitungan, tetapi tentu saja itu akan selalu bergantung pada data yang akan muncul selanjutnya," kata Remolona, Kamis (23/4/2026), seperti dikutip Reuters.
Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru Pangkas Suku Bunga Jadi 2,25%
Kenaikan suku bunga ini secara resmi mengakhiri siklus pelonggaran panjang yang dimulai pada Agustus 2024. Selain itu, keputusan BSP tersebut menegaskan betapa cepatnya risiko meningkat bagi Filipina, yang mengimpor hampir semua kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah.
Remolona mengatakan, keputusan menaikkan suku bunga tersebut bukan keputusan bulat, tetapi mencerminkan konsensus yang baik. "Kenaikan terukur ini dimaksudkan untuk menahan penumpukan efek limpahan dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali," kata dia.
Inflasi Filipina Maret lalu telah melampaui target BSP, mencapai 4,1%. Padahal di Februari, inflasi masih mencapai 2,4%. Inflasi di Maret mencatatkan laju tercepat dalam 20 bulan, sebagian besar disebabkan oleh kenaikan dua digit pada harga bensin dan solar.
Baca Juga: Korea Selatan–Vietnam Perkuat Kerja Sama, Puluhan Kesepakatan Bisnis Siap Diteken
Tahun depan, BSP memperkirakan inflasi melambat menjadi 4,3%. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. telah menangguhkan pengumpulan pajak cukai atas minyak tanah dan gas petroleum cair, yang banyak digunakan untuk memasak. Langkah ini untuk membantu melindungi rumah tangga dari kenaikan biaya yang melonjak.
Sekadar informasi, Maret lalu, BSP menggelar pertemuan pada 26 Maret. Ini merupakan pertemuan di luar jadwal yang sudah direncanakan. Pertemuan ini digelar seiring meningkatnya kekhawatiran soal dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Pada pertemuan tersebut, BSP masih mempertahankan suku bunga, karena menilai kebijakan yang lebih ketat dapat menunda pemulihan ekonomi.












