Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia ditutup menguat ke level tertinggi dalam hampir satu bulan pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Setelah data pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan harapan bahwa bank sentral akan menahan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Baca Juga: BURSA ASIA-IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Rupiah Ambruk ke Rp 17.930
Melansir Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 ditutup naik 0,7% ke level 8.785,70, posisi tertinggi sejak 7 Mei lalu.
Sentimen positif muncul setelah data menunjukkan ekonomi Australia melambat pada kuartal I-2026.
Pertumbuhan investasi bisnis yang kuat gagal mengimbangi tekanan dari sektor perdagangan, sementara tingginya biaya pinjaman dan kenaikan harga bahan bakar mulai mengurangi konsumsi rumah tangga.
Data sebelumnya menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Australia hanya tumbuh 0,3% pada kuartal pertama tahun ini, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 0,9% pada kuartal sebelumnya.
Baca Juga: SpaceX Bidik IPO Terbesar dalam Sejarah, Elon Musk Patok Harga Saham US$135
Analis menilai perlambatan ekonomi tersebut berpotensi berlanjut seiring dampak konflik Timur Tengah dan siklus pengetatan moneter yang agresif.
Kondisi itu mulai tercermin dari melemahnya belanja rumah tangga, stagnasi harga properti, serta meningkatnya tingkat pengangguran.
Kepala Market Insights Convera Steven Dooley mengatakan, kondisi ekonomi yang melunak membuat peluang kenaikan suku bunga tambahan semakin kecil.
"Dengan kondisi ekonomi yang selemah ini, kenaikan suku bunga lanjutan tampaknya tidak terlalu mungkin terjadi," ujarnya.
Sepanjang tahun ini, Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali untuk meredam tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik global.
Baca Juga: Serangan Rudal Iran Hantam Bandara Kuwait, Penerbangan Dialihkan
Langkah tersebut sekaligus menghapus seluruh pelonggaran moneter yang dilakukan pada 2025.
Menurut Dooley, data ekonomi terbaru dapat membantu pasar saham Australia mengejar ketertinggalan dari bursa global.
Selama 2026, kinerja pasar Australia relatif tertinggal dibandingkan pasar internasional karena minimnya katalis dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi, serta dampak kenaikan suku bunga RBA.
Pasar swap kini memperkirakan hampir tidak ada peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan RBA bulan ini.
Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Agustus masih terbelah di kalangan investor.
Baca Juga: AS Usulkan Tarif Baru untuk 60 Negara, Indonesia Masuk Daftar
Saham Perbankan dan Tambang Jadi Penopang
Sektor keuangan menjadi salah satu pendorong utama penguatan indeks setelah berhasil membalikkan pelemahan di awal perdagangan.
Indeks sektor keuangan ditutup naik 0,8%, dengan seluruh empat bank terbesar Australia berakhir di zona hijau.
Di sektor pertambangan, saham-saham emiten besar mencatatkan kinerja yang lebih impresif. Sektor tambang bahkan menorehkan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.
Saham BHP dan Rio Tinto, dua raksasa pertambangan Australia, masing-masing mencetak rekor harga penutupan tertinggi baru.
Sementara itu, sektor energi ikut menguat sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia setelah ketegangan kembali meningkat di kawasan Teluk.
Saham Woodside Energy naik 0,1%, sedangkan Santos menguat 0,8%.
Di sisi lain, sektor kesehatan dan teknologi menjadi pengecualian. Indeks kesehatan turun 0,3%, sementara indeks teknologi melemah 0,8%.
Baca Juga: EBRD Proyeksi Ekonomi Negara Berkembang Melambat, Ini Penyebabnya
Bursa Selandia Baru Melemah
Berbeda dengan Australia, pasar saham Selandia Baru ditutup di zona merah.
Indeks acuan S&P/NZX 50 turun 0,4% ke level 13.115,08, yang merupakan posisi terendah sejak 26 Mei lalu.
Pelemahan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor menjelang sejumlah data ekonomi global dan perkembangan terbaru konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih menjadi perhatian pasar.













