Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON. Gelombang serangan terhadap kapal, pelabuhan, dan terminal ekspor di kawasan Laut Hitam mulai mengganggu pasokan gandum dan minyak dunia. Eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina menjadikan kawasan tersebut sebagai titik rawan baru dalam jalur perdagangan global, di tengah gangguan yang sebelumnya telah terjadi di Timur Tengah.
Laut Hitam merupakan jalur strategis bagi pengiriman gandum, minyak mentah, dan produk minyak olahan. Perairan ini berbatasan dengan Rusia, Ukraina, Bulgaria, Georgia, Rumania, dan Turki, sehingga memiliki peran penting dalam rantai pasok komoditas dunia.
Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia dan Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas ekspor pertanian serta kapal dagang milik masing-masing di kawasan Laut Hitam. Kyiv juga memperluas serangan terhadap kapal tanker yang terlibat dalam perdagangan minyak Rusia.
Baca Juga: Dolar AS Diproyeksi Tetap Kuat, Intervensi Jepang Dinilai Tak Cukup Selamatkan Yen
Eskalasi tersebut menambah tekanan pada pasar komoditas global yang sebelumnya telah menghadapi gangguan pengiriman melalui Timur Tengah.
Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kayoko Gotoh, mengatakan dampak konflik tersebut sudah mulai terlihat di pasar pertanian dunia.
"Konsekuensinya sudah terlihat di pasar pertanian global. Kita tidak boleh membiarkan spiral eskalasi yang berbahaya ini terus berlanjut," ujarnya dalam sidang Dewan Keamanan PBB pekan lalu.
Sebelumnya, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga terganggu akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, embargo maritim yang diberlakukan kelompok Houthi di Yaman terhadap pelabuhan dan kapal Arab Saudi turut meningkatkan risiko pelayaran di Laut Merah.
Kementerian Infrastruktur Ukraina mencatat sepanjang Juli terjadi 35 serangan terhadap kapal yang sedang bersandar di pelabuhan, 22 serangan terhadap kapal di laut, serta 67 serangan terhadap fasilitas pelabuhan.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 hanya tercatat 14 serangan terhadap kapal. Reuters juga memperkirakan Ukraina telah menargetkan puluhan kapal tanker yang mengangkut minyak Rusia.
Dampak eskalasi mulai terasa pada aktivitas perdagangan. Perusahaan pelayaran Rusia, FESCO, pekan ini menghentikan penerimaan pesanan pengiriman baru melalui Laut Hitam setelah salah satu kapalnya terkena serangan pesawat nirawak Ukraina.
Di sisi lain, Rusia meningkatkan serangan terhadap kapal sipil dan infrastruktur pelabuhan di sekitar Odesa, Ukraina selatan. Pelabuhan tersebut menjadi jalur utama lebih dari 90% ekspor produk pertanian Ukraina.
Baca Juga: Utang Membengkak, Rekening Perusahaan Minyak Iran NIOC Dibekukan Bank Negara
Baik Rusia maupun Ukraina sama-sama menyatakan bahwa serangan mereka hanya ditujukan pada sasaran yang berkaitan dengan kepentingan militer.
Produk pertanian masih menjadi sumber pendapatan ekspor terbesar Ukraina setelah lebih dari empat tahun konflik berlangsung. Pemerintah Ukraina kini berupaya mengembangkan jalur ekspor alternatif. Namun, Menteri Pertanian Ukraina Taras Vysotskyi mengatakan jalur tersebut baru akan beroperasi penuh pada akhir Agustus dan hanya mampu menangani sekitar separuh volume ekspor yang biasanya dikirim melalui pelabuhan Laut Hitam.
Aktivitas pelayaran di Laut Azov, yang terhubung dengan Laut Hitam, juga dibatasi sejak 10 Juli. Pembatasan ini berdampak pada operasional Pelabuhan Taman, salah satu pelabuhan utama ekspor gandum Rusia.
Meski ekspor gandum dari pelabuhan Novorossiysk dan Tuapse masih berlangsung, lajunya dilaporkan lebih lambat dibandingkan sebelumnya.
Gangguan juga terjadi pada ekspor minyak. Serangan Ukraina terhadap kapal tanker sepanjang Juli merusak beberapa kapal dan memaksa penghentian sementara aktivitas pemuatan di Pelabuhan Novorossiysk serta terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC), jalur utama ekspor minyak mentah Kazakhstan.
Perusahaan pialang kapal BRS menyebut sistem CPC menangani sekitar 80% ekspor minyak mentah Kazakhstan sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi pasokan energi di kawasan.
Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, mengimbau kapal-kapal yang masih beroperasi menuju pelabuhan Laut Hitam agar melakukan penilaian risiko pelayaran secara menyeluruh dan memastikan awak kapal berada di titik perlindungan yang telah ditentukan ketika terjadi serangan drone.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal International Transport Workers' Federation (ITF), Stephen Cotton, menegaskan bahwa keselamatan pelaut sipil harus menjadi perhatian utama.
"Terbunuhnya pelaut sipil yang tidak bersalah tidak dapat diterima. Mereka tidak boleh menjadi korban sampingan untuk mencapai tujuan militer. Ini merupakan preseden yang tidak bermoral dan sangat berbahaya," ujarnya.
Meningkatnya risiko keamanan juga mendorong kenaikan biaya pelayaran. Berdasarkan estimasi pasar, biaya sewa harian kapal tanker minyak di Laut Hitam kini melonjak menjadi lebih dari US$ 300.000 per hari, dibandingkan sekitar US$ 200.000 per hari sepekan sebelumnya.
Baca Juga: Serangan Houthi ke Kapal Tanker Saudi Picu Kenaikan Harga Minyak Tembus US$ 80
Sumber industri asuransi menyebut premi asuransi perang untuk kapal yang bersandar di terminal Laut Hitam meningkat hingga sekitar 2% dari nilai kapal, naik dari sekitar 1% dua pekan lalu. Kenaikan tersebut dapat menambah biaya ratusan ribu dolar AS untuk setiap pelayaran.
Analis pelayaran utama BIMCO, Niels Rasmussen, mengatakan apabila volume pengiriman di Laut Hitam terus bertahan pada level rendah seperti dua pekan terakhir, volume pengangkutan minyak mentah global melalui kapal tanker berpotensi turun sekitar 3% di tengah pasar yang sudah menghadapi berbagai tantangan.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
