Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BENGALURU. Dolar Amerika Serikat (AS) masih akan bertahan kuat dalam beberapa bulan mendatang sebelum melemah menjelang akhir tahun, berdasarkan survei Reuters terhadap para ahli strategi valuta asing (FX). Dalam survei yang sama, para analis juga menghasilkan proyeksi terhadap yen Jepang yang menjadi salah satu perkiraan terlemah sejak jajak pendapat mulai dilakukan pada awal 1990-an.
Yen sempat menguat sekitar 4% terhadap dolar AS setelah adanya intervensi dari pemerintah Jepang dan langkah koordinasi dengan Washington dalam beberapa hari terakhir. Namun, penguatan tersebut belum mampu kembali mencapai level tertinggi setelah intervensi sebelumnya yang dilakukan otoritas Jepang pada Mei.
Hampir 95% dari sekitar 60 responden dalam survei yang berlangsung pada 31 Juli hingga 5 Agustus menilai intervensi mata uang Jepang di masa depan tidak akan mampu menahan pelemahan yen secara berkelanjutan. Hampir seluruh responden yang berpandangan demikian menyebut Bank of Japan (BOJ) perlu menaikkan suku bunga agar dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap mata uang tersebut.
Baca Juga: Utang Membengkak, Rekening Perusahaan Minyak Iran NIOC Dibekukan Bank Negara
Sejauh ini, BOJ masih berhati-hati dalam menaikkan biaya pinjaman dan cenderung melakukannya tidak lebih cepat dari sekali setiap enam bulan, salah satunya karena kondisi ekonomi Jepang yang masih lemah. Namun, kontrak berjangka suku bunga kini menunjukkan peluang kenaikan suku bunga kembali pada Oktober, setelah BOJ menaikkan suku bunga menjadi 1% pada Juni.
Kinerja ekonomi AS yang relatif kuat membuat Federal Reserve (The Fed) dinilai masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga ketat. Para analis memperkirakan The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan untuk mengendalikan tekanan inflasi yang berasal dari konflik AS-Israel dengan Iran.
Kondisi tersebut membuat kenaikan dolar AS sekitar 2% sepanjang tahun ini berpotensi bertahan untuk sementara waktu.
Berdasarkan hasil survei, euro diperkirakan bergerak di sekitar level US$ 1,15 dalam tiga bulan ke depan sebelum menguat sekitar 1% menjadi US$1,16 pada akhir Januari dan mencapai US$ 1,18 dalam satu tahun.
Hasil tersebut menunjukkan perubahan pandangan analis yang mulai meninggalkan perkiraan pelemahan dolar yang lebih tajam. Dari 53 responden, sebanyak 25 analis memperkirakan posisi long dolar saat ini akan relatif tidak berubah hingga akhir Agustus, sementara 22 analis memperkirakan posisi tersebut akan berkurang. Enam analis lainnya memperkirakan posisi long dolar masih akan meningkat.
"Kami masih memiliki pandangan bahwa dolar akan tetap kuat selama ekonomi AS tetap kuat. Namun, saya tidak berpikir pergerakannya akan terlalu dramatis. Pergerakannya kemungkinan akan berada dalam kisaran tertentu atau kembali menguat, tergantung pada data ekonomi yang masuk," ujar Kit Juckes, Kepala Strategi FX di Societe Generale.
Baca Juga: Serangan Houthi ke Kapal Tanker Saudi Picu Kenaikan Harga Minyak Tembus US$ 80
Menurut Juckes, yen secara fundamental masih tergolong murah karena didukung oleh ekonomi yang lemah, meskipun suku bunga Jepang mulai meningkat. Kekhawatiran terhadap utang jangka panjang serta prospek pertumbuhan akibat faktor demografi juga masih menjadi tekanan terhadap mata uang Jepang.
Intervensi Yen Dinilai Tidak Cukup
Survei Reuters menunjukkan median perkiraan bahwa yen, yang saat ini diperdagangkan sekitar 158 yen per dolar AS, akan melemah ke 159 yen per dolar dalam tiga bulan mendatang. Setelah itu, yen diperkirakan menguat ke 157 yen per dolar dalam enam bulan dan 154 yen per dolar dalam satu tahun seiring dengan pelemahan dolar AS.
Perkiraan median untuk tiga dan enam bulan tersebut mengalami revisi lebih lemah dibandingkan survei sebelumnya, masing-masing dari 158,5 yen dan 156 yen per dolar. Angka tersebut menjadi salah satu proyeksi terlemah terhadap yen sejak survei Reuters dimulai pada 1993.
Sepanjang tahun ini, yen telah melemah sekitar 1% terhadap dolar AS dan turun sekitar 30% sejak awal 2022 meskipun pemerintah Jepang telah melakukan beberapa kali intervensi.
"Intervensi dapat efektif dalam memperlambat laju pelemahan, mengurangi pergerakan pasar yang berlebihan, dan memberikan dukungan jangka pendek. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tanpa perubahan pada faktor fundamental, dampaknya akan cepat memudar," kata Ales Koutny, Kepala Suku Bunga Internasional di Vanguard.
Menurut Koutny, intervensi besar sebelumnya hanya mampu menghasilkan pergerakan signifikan selama beberapa hari atau minggu, bukan dalam jangka waktu berbulan-bulan.
Baca Juga: Lapangan Kerja AS Melambat, Data ADP Juli Hanya Tambah 44.000 Pekerjaan
Ia menambahkan, pemulihan yen yang berkelanjutan membutuhkan kebijakan BOJ yang lebih agresif, penyempitan selisih suku bunga antara AS dan Jepang, penurunan harga energi, atau perlambatan ekonomi global yang mendorong investor Jepang menarik kembali modal ke dalam negeri.
Pandangan tersebut juga didukung Derek Halpenny, Kepala Riset Pasar Global EMEA di Mitsubishi UFJ Financial Group. Ia menilai kemungkinan besar intervensi sudah selesai dan Amerika Serikat tidak akan kembali terlibat dalam langkah serupa.
"Intervensi kemungkinan sudah selesai. Saya tidak berpikir AS akan kembali terlibat. Ini merupakan perkembangan penting dan saya pikir hal tersebut membatasi minat membeli dolar/yen jauh lebih besar dibandingkan episode intervensi sebelumnya ketika hanya Jepang yang bertindak," ujarnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
