Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam hampir tujuh pekan pada perdagangan Rabu (5/8/2026), didorong melemahnya dolar Amerika Serikat (AS), turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya harapan terhadap kemajuan perundingan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 4,4% menjadi US$ 4.253,36 per ons pada pukul 14.15 waktu AS (18.15 GMT), setelah sempat menyentuh US$ 4.264,93 per ons, level tertinggi sejak 18 Juni.
Baca Juga: Stok Minyak Mentah AS Naik, Aktivitas Kilang Melambat dan Impor Meningkat
Kenaikan tersebut juga membawa harga emas menembus rata-rata pergerakan (moving average) 50 hari yang kini berada di kisaran US$ 4.160 per ons.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 3,7% menjadi US$ 4.305,20 per ons.
"Investor mulai kembali masuk ke logam mulia karena peluang kenaikan suku bunga telah berkurang dibandingkan pekan lalu. Pelemahan dolar AS dan meredanya ketegangan dengan Iran juga menjadi faktor pendukung," ujar pedagang logam independen, Tai Wong.
Dolar AS diperdagangkan di dekat level terendah dalam enam pekan terhadap mata uang utama lainnya.
Di saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di dekat level terendah dalam sepekan.
Baca Juga: Rusia - Ukraina Saling Serang di Laut Hitam, Pasokan Gandum & Minyak Terganggu
Sentimen tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya menggelar pembahasan yang "sangat baik" dengan Iran dalam perundingan yang berlangsung sepanjang hari.
Pernyataan itu memicu optimisme bahwa konflik yang telah berlangsung selama lima bulan mendekati penyelesaian.
Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sementara turunnya yield obligasi menurunkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Meski demikian, harga emas masih berada sekitar 24% di bawah rekor tertingginya di US$ 5.594,82 per ons yang dicapai pada Januari.
Baca Juga: Dolar AS Diproyeksi Tetap Kuat, Intervensi Jepang Dinilai Tak Cukup Selamatkan Yen
Sejak konflik Iran pecah, harga emas juga masih turun sekitar 19%, setelah kekhawatiran terhadap inflasi energi sempat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Di sisi permintaan, World Gold Council melaporkan pembelian emas oleh bank sentral pada semester pertama 2026 menjadi yang terendah sejak 2022.
Selain itu, dana yang keluar dari produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencapai 45 ton pada kuartal II-2026.
Pada periode tersebut, harga emas mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2013, yakni sekitar 14%.
Analis J.P. Morgan menilai, dengan pembelian bank sentral yang melambat, minat investor ritel yang masih terbatas, serta permintaan fisik di Asia yang belum pulih, arus dana ke ETF yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga kini menjadi faktor utama penggerak harga emas.
Baca Juga: Utang Membengkak, Rekening Perusahaan Minyak Iran NIOC Dibekukan Bank Negara
Tai Wong memperkirakan, reli harga logam mulia akan semakin kuat jika pasar mulai memperhitungkan peluang penurunan suku bunga. Namun, menurutnya, skenario tersebut kemungkinan baru terjadi paling cepat pada 2027.
Logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan. Harga perak spot melonjak 4,4% menjadi US$ 62,11 per ons setelah mencapai level tertinggi sejak 6 Juli.
Sementara itu, platinum naik 0,2% menjadi US$ 1.740,04 per ons dan paladium menguat 1,5% menjadi US$ 1.373,24 per ons.
Keduanya sempat menyentuh level tertinggi masing-masing sejak 17 Juni dan 2 Juni, seiring optimisme terhadap perundingan damai Iran.
Analis Standard Chartered, Suki Cooper mengatakan, platinum dan paladium sebelumnya telah tertekan oleh berbagai sentimen negatif, mulai dari perlambatan produksi otomotif, meningkatnya pangsa pasar kendaraan listrik (EV), hingga potensi kenaikan pasokan dari daur ulang.
Cooper memperkirakan pasar platinum masih akan mengalami defisit pasokan pada tahun ini, sedangkan pasar paladium berpotensi kembali mengalami surplus pada 2027.











![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
