kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.917.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.789   -61,00   -0,36%
  • IDX 8.975   24,32   0,27%
  • KOMPAS100 1.244   9,59   0,78%
  • LQ45 882   8,84   1,01%
  • ISSI 330   0,91   0,28%
  • IDX30 451   1,60   0,36%
  • IDXHIDIV20 533   1,62   0,31%
  • IDX80 138   1,09   0,79%
  • IDXV30 147   -0,35   -0,24%
  • IDXQ30 145   0,87   0,61%

Bursa Australia Datar Senin (5/1) Pagi, Kenaikan Tambang Tertahan Tekanan Teknologi


Senin, 05 Januari 2026 / 08:37 WIB
Bursa Australia Datar Senin (5/1) Pagi, Kenaikan Tambang Tertahan Tekanan Teknologi
ILUSTRASI. Bursa Asia - Australia (Steven Saphore/AAP Image via Reuters)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia bergerak datar pada perdagangan awal Senin (5/1/2026), seiring penguatan saham-saham tambang yang ditopang lonjakan harga logam berhasil mengimbangi pelemahan di sektor konsumen dan teknologi.

Melansir Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 nyaris tidak berubah di level 8.726,70 pada pukul 00.20 GMT.

Pada perdagangan Jumat, indeks ini menguat 0,2% dan mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 6,8% sepanjang 2025, menjadi tahun ketiga berturut-turut mencetak kinerja positif.

Baca Juga: Rusia Sebut Serangan Trump ke Venezuela Ilegal dan Destabilisasi

Saham sektor tambang naik sekitar 1%, didorong oleh lonjakan harga logam dasar. Harga nikel melonjak ke level tertinggi dalam 14 bulan pada Jumat lalu, menyusul tertundanya persetujuan rencana produksi tahunan Vale Indonesia.

Penundaan tersebut memicu spekulasi bahwa kelebihan pasokan global mulai mereda. Sementara itu, harga tembaga mencetak rekor tertinggi baru.

Dua raksasa tambang, BHP Group dan Rio Tinto, masing-masing menguat 0,9% dan 1,3%.

Saham emiten emas turut menguat 0,3% seiring kenaikan harga emas sekitar 1%.

Sektor energi juga mencatatkan kenaikan 1,5%, dengan saham Santos dan Woodside masing-masing naik 0,8%.

Baca Juga: Efek Domino Larangan Trump: Negara-Negara Afrika Tutup Pintu Total bagi Warga AS

Namun, harga minyak justru melemah pada awal perdagangan Asia karena pasokan global yang melimpah menutupi kekhawatiran gangguan pengiriman akibat gejolak politik di Venezuela, anggota OPEC.

Amerika Serikat pada akhir pekan lalu menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari Caracas.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali atas negara produsen minyak tersebut.

Di sisi lain, saham konsumen diskresioner yang sensitif terhadap suku bunga menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah turun 1,3%.

Saham teknologi merosot 2,1%, diikuti sektor properti yang melemah 0,7%, sementara sektor keuangan turun tipis 0,2%.

Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi bulanan Australia untuk November yang dijadwalkan pada Rabu. Konsensus memperkirakan inflasi melambat tipis menjadi 3,7% dari 3,8% pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Rudal Hipersonik Korut Meluncur ke Laut Timur, Pesan untuk AS?

Di kawasan Asia-Pasifik, indeks Nikkei Jepang naik 2,01%, sementara kontrak berjangka S&P 500 E-mini menguat 0,07%.

Di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 naik tipis 0,3% ke level 13.592,99.

Selanjutnya: Investasi Sejak Dini, 9 Kebiasaan Sehat Usia 30-an yang Membantu Hidup Lebih Panjang

Menarik Dibaca: Investasi Sejak Dini, 9 Kebiasaan Sehat Usia 30-an yang Membantu Hidup Lebih Panjang




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×