kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.087.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.892   17,00   0,10%
  • IDX 7.438   -2,48   -0,03%
  • KOMPAS100 1.033   -4,08   -0,39%
  • LQ45 756   -3,87   -0,51%
  • ISSI 263   0,12   0,05%
  • IDX30 400   -1,51   -0,38%
  • IDXHIDIV20 493   -1,97   -0,40%
  • IDX80 116   -0,55   -0,47%
  • IDXV30 134   -0,32   -0,24%
  • IDXQ30 129   -0,35   -0,27%

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran, Pengaruh Militer Diprediksi Menguat


Rabu, 11 Maret 2026 / 09:56 WIB
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran, Pengaruh Militer Diprediksi Menguat
ILUSTRASI. Militer Iran dikhawatirkan mengubah Republik Islam menjadi negara militer. Kebijakan luar negeri dan domestik bisa makin radikal (REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran disebut didorong kuat oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang menganggapnya sebagai sosok yang lebih mudah diarahkan dibandingkan ayahnya, menurut sejumlah sumber senior Iran.

Para sumber mengatakan, Pengawal Revolusi melihat Mojtaba sebagai figur yang akan mendukung kebijakan garis keras mereka. Keputusan tersebut diambil dengan menyingkirkan keberatan dari kalangan pragmatis di dalam sistem politik dan keagamaan Iran.

Kelompok militer elit itu, yang sebelumnya sudah memiliki pengaruh besar, dilaporkan semakin memperluas kekuasaan sejak perang terbaru yang melibatkan Iran. Mereka dengan cepat mengatasi keraguan dari sejumlah tokoh politik dan ulama senior yang sempat menunda pengumuman resmi pemimpin baru selama beberapa jam.

Baca Juga: Bursa Jepang Menguat Didorong Saham AI dan Meredanya Kekhawatiran Pasokan Minyak

Kekhawatiran juga meningkat karena Mojtaba Khamenei belum mengeluarkan pernyataan publik hingga Selasa malam, hampir 48 jam setelah ia dipilih. Hal ini terjadi di tengah konflik yang telah menewaskan lebih dari seribu warga Iran.

Berpotensi Memperkeras Kebijakan Iran

Tiga sumber senior Iran, seorang mantan pejabat reformis, dan satu orang dalam pemerintahan menyebut pemilihan Mojtaba Khamenei—yang direkayasa oleh Pengawal Revolusi—dapat mendorong sikap Iran yang lebih agresif di luar negeri serta pengetatan kontrol di dalam negeri.

Dua dari sumber tersebut bahkan mengkhawatirkan dominasi militer yang semakin kuat dapat mengubah Republik Islam Iran menjadi negara yang pada praktiknya dipimpin oleh militer, dengan legitimasi religius yang semakin tipis.

Situasi tersebut dinilai berpotensi mempersempit basis dukungan publik yang sudah menurun sekaligus menyulitkan Iran menghadapi berbagai ancaman kompleks di masa depan.

Pemimpin Baru Diduga Terluka dalam Serangan

Meski selama puluhan tahun dikenal sebagai operator politik di balik layar yang mengelola kantor ayahnya, Mojtaba Khamenei masih merupakan figur yang relatif tidak dikenal oleh banyak warga Iran.

Ia juga diduga mengalami luka dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei.

Seorang pembawa acara televisi pemerintah tampak mengonfirmasi rumor tersebut dengan menyebut Mojtaba sebagai “janbaz” atau veteran yang terluka dalam konflik yang oleh Iran disebut sebagai Perang Ramadan. Namun kondisi kesehatannya belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Baca Juga: Pasar Global Stabil Rabu (11/3), Meski Harga Minyak Bergejolak Akibat Perang Iran 

Faktor tersebut, ditambah kekhawatiran keamanan setelah pembunuhan ayahnya pada 28 Februari, diduga menjadi alasan di balik sikap diam Mojtaba sejak Assembly of Experts yang beranggotakan 88 ulama mengumumkan pemilihannya pada Minggu malam.

Pengaruh Pengawal Revolusi Menguat

Dalam struktur kekuasaan Iran, otoritas paling terlihat berada di tangan Pengawal Revolusi serta kantor pemimpin tertinggi yang dikenal sebagai beyt, yang menjalankan jaringan pengaruh paralel di seluruh birokrasi negara.

Ketegangan internal sempat terlihat pada Sabtu ketika Presiden Masoud Pezeshkian, yang menjadi bagian dari kepemimpinan sementara selama masa transisi, terpaksa menarik kembali pernyataannya setelah meminta maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan yang terjadi.

Menurut sumber Reuters, para komandan Pengawal Revolusi sangat marah atas permintaan maaf tersebut.

Salah satu sumber senior mengatakan bahwa Ali Khamenei sebelumnya mampu menyeimbangkan pengaruh Pengawal Revolusi dengan elite politik dan ulama Iran. Namun dengan kepemimpinan baru, militer kemungkinan akan memiliki suara penentu dalam keputusan besar negara.

Analis dari Middle East Institute, Alex Vatanka, mengatakan posisi Mojtaba Khamenei sangat bergantung pada Pengawal Revolusi.

“Mojtaba berutang posisinya kepada Pengawal Revolusi. Karena itu, ia tidak akan sekuat ayahnya sebagai pemimpin tertinggi,” kata Vatanka.

Proses Pemilihan Dipengaruhi Militer

Secara konstitusional, pemilihan pemimpin tertinggi merupakan kewenangan Assembly of Experts. Namun dalam praktiknya, proses tersebut kerap dipengaruhi oleh tokoh kuat di balik layar.

Ketika pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini, meninggal pada 1989, tokoh yang berperan besar dalam penunjukan pengganti adalah politisi berpengaruh Ali Akbar Hashemi Rafsanjani.

Kali ini, menurut lima sumber yang diwawancarai Reuters, peran tersebut diambil oleh Pengawal Revolusi dengan cara yang jauh lebih tegas.

Mereka menekan anggota majelis dengan argumen bahwa situasi perang membutuhkan proses cepat dan pemimpin yang berani menentang Amerika Serikat.

Pertemuan majelis juga berlangsung dalam kondisi tidak biasa. Aula mereka di kota seminari Qom dilaporkan terkena serangan bom sehingga pertemuan harus dipindahkan ke lokasi lain yang tidak diumumkan.

Baca Juga: PayPay SoftBank Diperkirakan Harga IPO di Batas Bawah karena Gejolak Pasar 

Menurut anggota majelis Mohsen Heydari, kuorum dua pertiga anggota berhasil dicapai, dengan sekitar 85%–90% peserta yang hadir mendukung Mojtaba Khamenei.

Namun angka tersebut menunjukkan keputusan yang tidak sepenuhnya bulat.

Kekhawatiran Suksesi Dinasti

Sejumlah ayatollah menentang proses suksesi yang dianggap menyerupai sistem dinasti, serta khawatir pemilihan ini akan menjauhkan bahkan sebagian pendukung sistem pemerintahan Iran.

Di balik layar, beberapa ulama dan tokoh politik sempat mendorong kandidat alternatif dalam diskusi intens selama sepekan terakhir.

Namun seorang mantan pejabat reformis menyebut Pengawal Revolusi mengancam para pengkritik penunjukan Mojtaba Khamenei. Beberapa anggota majelis juga mengaku dihubungi langsung oleh pihak militer sebelum pemungutan suara.

Pengumuman resmi yang awalnya dijadwalkan pada Minggu pagi akhirnya baru dilakukan pada Minggu malam karena adanya perdebatan yang berkepanjangan.

Selama bertahun-tahun memimpin kantor ayahnya, Mojtaba Khamenei diketahui membangun hubungan sangat dekat dengan Pengawal Revolusi, khususnya para komandan tingkat menengah yang kini menggantikan jenderal-jenderal senior yang tewas dalam perang.

Seorang mantan pejabat reformis menilai kondisi ini berpotensi membawa kebijakan luar negeri dan domestik Iran ke arah yang lebih radikal, sekaligus memberi Pengawal Revolusi kendali yang selama ini mereka inginkan: kekuasaan penuh atas sistem politik negara.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×