kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.919   17,00   0,10%
  • IDX 7.577   -362,70   -4,57%
  • KOMPAS100 1.058   -52,77   -4,75%
  • LQ45 772   -33,15   -4,11%
  • ISSI 268   -15,46   -5,46%
  • IDX30 410   -16,83   -3,94%
  • IDXHIDIV20 502   -16,39   -3,16%
  • IDX80 119   -5,62   -4,51%
  • IDXV30 136   -4,86   -3,45%
  • IDXQ30 132   -4,99   -3,63%

Siapakah Mojtaba Khamenei, Calon Terkuat Pemimpin Tertinggi Iran Pasca Khamenei?


Rabu, 04 Maret 2026 / 20:38 WIB
Siapakah Mojtaba Khamenei, Calon Terkuat Pemimpin Tertinggi Iran Pasca Khamenei?


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei, muncul sebagai calon terkuat untuk menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi Iran setelah kematian ayahnya dalam sebuah serangan udara pada Sabtu lalu.

Selama bertahun‑tahun, Mojtaba membangun hubungan erat dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) serta memperkuat pengaruhnya di dalam lingkaran ulama dan elite politik Iran.

Siapa Mojtaba Khamenei?

Mojtaba Khamenei, 56 tahun, dikenal sebagai ulama berperingkat menengah yang memiliki pengaruh signifikan dalam struktur kekuasaan Iran. Ia lahir di kota Mashhad pada tahun 1969 dan tumbuh pada masa ketika ayahnya memimpin oposisi terhadap Shah Iran.

Sebagai pemuda, Mojtaba pernah terlibat dalam Perang Iran–Irak dan kemudian menempuh pendidikan keagamaan di seminari Qom, pusat teologi Syiah di Iran, di mana ia memperoleh gelar Hojjatoleslam.

Baca Juga: AS Berpeluang Naikkan Tarif Impor Global Jadi 15% Pekan Ini

Walaupun tidak pernah menduduki posisi formal dalam pemerintahan Republik Islam Iran, Mojtaba secara luas dipandang sebagai “penjaga gerbang” (gatekeeper) bagi Ayatollah Khamenei—peran yang memberinya akses dan pengaruh di balik layar pemerintahan.

Ia jarang tampil di depan publik, namun sering terlihat dalam aksi loyalis dan kegiatan yang berkaitan dengan elite kekuasaan.

Pengaruh Kuat di IRGC dan Kekuasaan Politik

Kekuatan utama Mojtaba terletak pada hubungan dengan IRGC, terutama di kalangan generasi militan muda dalam organisasi tersebut. Hubungan ini memberikan dia leverage yang signifikan di dalam struktur politik dan keamanan Iran.

Menurut analis kebijakan, dukungan kuat di tubuh IRGC membuat peluang Mojtaba untuk menjadi pemimpin tertinggi sangat besar—selama ia masih hidup dan aktif secara politik.

Hal ini diperkuat oleh posisi strategisnya yang dekat dengan lingkaran elite politik konservatif yang menolak reformasi dan keterlibatan lebih besar dengan Barat, terutama dalam konteks upaya memitigasi program nuklir Iran.

Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Baru

Majelis Ahli (Assembly of Experts), badan yang bertanggung jawab memilih Pemimpin Tertinggi baru, dilaporkan telah mendekati keputusan akhir dan diperkirakan akan segera mengumumkan kandidat terpilih.

Seorang anggota Majelis, Ayatollah Ahmad Khatami, menyatakan kepada televisi negara bahwa proses ini hampir selesai, meskipun belum disebutkan secara resmi nama calon yang akan dipilih.

Baca Juga: Trump Akan Bertemu Pemimpin Perusahaan Teknologi Besar, Bahas Apa?

Sebagai Pemimpin Tertinggi, figur ini akan memiliki wewenang penuh atas kebijakan dalam negeri dan luar negeri Iran, termasuk kebijakan nuklir—isu yang menjadi perhatian utama kekuatan Barat yang mencoba mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran, sementara Iran menegaskan program nuklirnya hanya untuk keperluan sipil.

Tantangan yang Dihadapi Jika Terpilih

Jika terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba kemungkinan besar akan menghadapi sejumlah tantangan besar. Sanksi ketat dari Amerika Serikat telah menekan ekonomi Iran dan memperburuk kondisi sosial.

Selain itu, ada kemungkinan munculnya penentangan dari warga Iran sendiri, terutama mereka yang telah terlibat dalam aksi protes besar dan menuntut kebebasan lebih luas—sebuah gerakan yang pernah disambut oleh penindasan brutal oleh aparat keamanan.

Kontroversi dan Kritik Publik

Peran Mojtaba telah lama menjadi sumber kontroversi di Iran. Banyak kritikus menolak gagasan adanya politik dinasti di sebuah negara yang menggulingkan monarki yang didukung AS pada tahun 1979.

Kritikus berpendapat bahwa gelar Hojjatoleslam yang dimiliki Mojtaba tidak setara dengan gelar Ayatollah yang dimiliki oleh pendahulunya, termasuk Ayatollah Khomeini yang mendirikan Republik Islam.

Mojtaba juga menjadi sasaran kritik selama kerusuhan besar atas kematian seorang wanita muda dalam tahanan polisi pada tahun 2022, setelah penangkapannya terkait dugaan pelanggaran terhadap aturan berpakaian.

Video yang menunjukkan Mojtaba menghentikan kelas hukum Islam yang dia ajarkan di Qom pada tahun 2024 sempat beredar luas, memicu spekulasi tentang motivasi dan perannya di belakang layar.

Baca Juga: Survei ECB, AI Berpotensi Ciptakan Lapangan Kerja dalam Jangka Waktu Terbatas

Sanksi AS terhadap Mojtaba Khamenei

Pada tahun 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Mojtaba, menyatakan bahwa ia bertindak atas nama Ayatollah Khamenei dalam kapasitas resmi, meskipun tidak pernah diangkat atau dipilih untuk posisi pemerintah formal.

Pemerintah AS menuduh Mojtaba bekerja sama dengan komandan Pasukan Quds IRGC dan milisi Basij untuk mendorong ambisi regional yang dinilai mengganggu stabilitas serta mendukung tujuan domestik yang represif.

Warisan Politik dan Pengaruh di Masa Lalu

Sejumlah laporan diplomatik, termasuk kabel AS yang bocor lewat WikiLeaks, menggambarkan Mojtaba sebagai figur penting untuk mengakses Ayatollah Khamenei di masa lalu.

Ia diperkirakan terlibat dalam kebangkitan cepat Presiden hardliner Mahmoud Ahmadinejad pada 2005 dan mendukungnya kembali dalam pemilu 2009 yang kontroversial, yang kemudian memicu protes besar yang berujung pada penindasan oleh Basij.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×