Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan permintaan bahan bakar minyak (BBM) di India diperkirakan melambat pada tahun ini setelah serangkaian kenaikan harga bensin dan solar pada bulan lalu. Kenaikan harga tersebut mencerminkan lonjakan biaya minyak mentah akibat perang Iran yang telah mendorong harga energi global lebih tinggi.
Dampak perlambatan tersebut mulai terlihat, terutama pada sektor transportasi dan logistik, yang menjadi salah satu indikator utama aktivitas ekonomi di negara dengan populasi terbesar di dunia tersebut.
Perusahaan-perusahaan pemasaran bahan bakar milik negara, yakni Indian Oil Corporation (IOC), Bharat Petroleum Corporation Ltd (BPCL), dan Hindustan Petroleum Corporation Ltd (HPCL), telah melakukan empat kali kenaikan harga BBM sejak pertengahan Mei 2026. Sebelumnya, kenaikan harga sempat ditahan karena pertimbangan politik menjelang pemilu.
Akibat penyesuaian tersebut, harga bensin di India kini naik sekitar 7,8%, sementara harga solar meningkat 8,6%.
Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Lonjakan Harga Minyak
Para analis memperkirakan masih ada ruang bagi kenaikan harga lebih lanjut. Pasalnya, perusahaan-perusahaan tersebut masih menjual BBM di bawah harga pasar dan secara kolektif menanggung kerugian sekitar 5,5 miliar rupee atau setara US$57 juta per hari.
Perlambatan pertumbuhan konsumsi BBM di India, yang merupakan importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, berpotensi memengaruhi prospek permintaan energi global. Kondisi ini menjadi semakin penting mengingat konsumsi bahan bakar transportasi di China telah mencapai puncaknya dan mulai menunjukkan tren perlambatan.
Dylan Sim, analis dari FGE NexantECA, mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan bensin India diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
"Kami memperkirakan pertumbuhan permintaan bensin India turun menjadi sekitar 3,5%-3,7% pada 2026 akibat berkurangnya perjalanan kendaraan untuk kebutuhan non-prioritas," ujarnya.
Sebelumnya, lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan permintaan bensin mencapai 4%. Selain itu, proyeksi pertumbuhan permintaan solar juga diturunkan menjadi 2% dari sebelumnya 2,5%.
Lembaga pemeringkat ICRA, unit pemeringkat Moody's di India, turut merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan bensin untuk tahun fiskal berjalan menjadi 3%-4%, dari sebelumnya 5%-6% sebelum perang Iran pecah.
Untuk solar, ICRA bahkan memperkirakan permintaan akan stagnan atau mengalami penurunan dibandingkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan 2%-3%.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Minyak dan Pangkalan Angkatan Laut di St Petersburg
Senior Vice President ICRA, Prashant Vashisth, menilai kenaikan harga bensin dan solar berpotensi memperburuk tekanan inflasi sehingga dapat menekan permintaan konsumen akhir.
Menurutnya, kenaikan biaya logistik dan pengiriman yang juga dipicu oleh konflik di Timur Tengah dapat menyebabkan perlambatan aktivitas industri.
"Pertumbuhan industri yang lemah akan berdampak negatif terhadap permintaan solar," kata Vashisth.
Aktivitas Truk Melambat
Lonjakan harga minyak global menjadi faktor utama di balik kenaikan harga BBM di India. Harga minyak dunia telah melonjak sekitar 40% hingga mendekati US$100 per barel sejak perang mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Sebelum konflik terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.
Tanda-tanda melemahnya permintaan solar akibat perlambatan aktivitas industri kini mulai terlihat di sektor angkutan barang.
Senior Fellow Indian Foundation of Transport Research and Training, SP Singh, mengungkapkan bahwa tarif angkutan barang telah turun antara 13%-15% di sekitar tiga perempat jalur utama angkutan jarak jauh. Penurunan tersebut terjadi meskipun harga BBM eceran justru mengalami kenaikan.
Baca Juga: Apparel Group Pertimbangkan IPO Unit India Awal 2027
Singh juga mencatat bahwa para pengemudi truk kini harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan muatan balik setelah mengantarkan barang ke tujuan.
"Operator truk tidak mendapatkan muatan balik yang cukup. Terjadi keterlambatan 3 hingga 5 hari karena aktivitas manufaktur melambat. Kondisi ini mengurangi pendapatan mereka karena jumlah perjalanan pulang-pergi per bulan ikut berkurang," jelasnya.
Data awal menunjukkan penjualan bensin oleh perusahaan ritel BBM di India pada Mei 2026 hanya tumbuh 2,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,8% yang tercatat pada April 2026.
Sementara itu, penjualan solar naik tipis 0,9% pada Mei 2026, dibandingkan kenaikan 0,8% pada April.












