kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Konflik Iran-AS Kembali Memanas, Bandara Kuwait Diserang dan Harga Minyak Naik


Rabu, 03 Juni 2026 / 18:27 WIB
Konflik Iran-AS Kembali Memanas, Bandara Kuwait Diserang dan Harga Minyak Naik
ILUSTRASI. Gencatan senjata rapuh, serangan Iran kembali mengguncang Teluk. (AFP/AFP)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat pada Rabu (3/6/2026) setelah serangan rudal Iran merusak Bandara Internasional Kuwait dan militer Amerika Serikat melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz. Di saat yang sama, upaya diplomasi antara Washington dan Teheran masih menunjukkan sedikit kemajuan.

Rangkaian serangan terbaru ini kembali menguji rapuhnya gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Situasi tersebut turut mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 2%, sementara Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup lebih dari tiga bulan setelah serangan awal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Otoritas Kuwait melaporkan penerbangan di Bandara Internasional Kuwait sempat dihentikan setelah serangan drone dan rudal Iran merusak fasilitas bandara serta sejumlah misi diplomatik. Serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.

Otoritas penerbangan sipil Kuwait menyatakan maskapai Kuwait Airways telah kembali mengoperasikan penerbangan dari Terminal 4 setelah melakukan evaluasi kerusakan dan menerapkan langkah-langkah pengamanan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi dalam Sepekan, Dipicu Konflik Iran

Militer Bahrain mengungkapkan telah mencegat tiga rudal dan beberapa drone. Sementara itu, Iran mengklaim telah menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang berada di Bahrain, serta sebuah pangkalan udara dan helikopter di negara lain di kawasan tersebut.

Militer AS menyatakan dua rudal Iran yang diarahkan ke Kuwait gagal mencapai sasaran atau hancur di udara. Selain itu, beberapa rudal balistik Iran juga dilaporkan gagal mengenai targetnya di kawasan Teluk.

Gencatan Senjata Kembali Tertekan

Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, Iran berulang kali melancarkan serangan terhadap berbagai target di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, termasuk sasaran sipil dan militer.

Meski gencatan senjata telah disepakati pada awal April, bentrokan masih beberapa kali terjadi. Amerika Serikat terus mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Pekan lalu, Iran dan AS sempat memberi sinyal kemajuan menuju kesepakatan awal untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun hingga kini kedua pihak belum menandatangani kesepakatan tersebut, sementara negosiasi yang lebih kompleks masih menunggu pembahasan lanjutan.

Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, pada Selasa (2/6/2026) menegaskan Iran tidak akan membiarkan Amerika Serikat "melampaui batas" baik dalam perundingan maupun pengaturan gencatan senjata.

Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Akibat Konflik Iran Tekan Permintaan Bensin dan Solar di India

Melalui unggahan di platform X, ia memperingatkan bahwa setiap tindakan agresif akan dibalas dengan rentetan rudal dan drone.

Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, mengatakan serangan berulang terhadap Kuwait dan Bahrain memerlukan respons Teluk yang tegas, terpadu, dan solid.

"Agresi ini tidak hanya menargetkan satu negara, tetapi seluruh kawasan kita," tulisnya di platform X.

Dalam perkembangan lain yang menunjukkan eskalasi konflik, militer AS menyatakan telah menembak jatuh sejumlah drone yang mengincar kapal sipil di perairan kawasan serta pasukan Amerika Serikat di Kuwait. Washington juga mengaku melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm di dekat Selat Hormuz setelah adanya upaya serangan dari pihak Iran.

Media Iran melaporkan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyerang sebuah kapal yang diidentifikasi sebagai Panaya menggunakan rudal. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas dugaan serangan AS terhadap sebuah kapal tanker Iran di dekat Selat Hormuz.

"Mengganggu keamanan Selat Hormuz akan menimbulkan harga yang sangat mahal bagi militer Amerika Serikat," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran yang dikutip media setempat.

Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran

Sebelumnya, media Iran melaporkan Teheran tidak melakukan kontak dengan Washington selama beberapa hari terakhir. Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negosiasi masih terus berlangsung.

Sejak pertengahan Maret, Trump berulang kali menyatakan dirinya hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka jalan bagi pembahasan isu-isu sensitif, termasuk masa depan program nuklir Iran.

Dalam wawancara podcast yang dirilis Rabu (3/6/2026), Trump menyebut Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir dan mengatakan Ayatollah Khamenei terlibat dalam proses negosiasi.

"Mereka sudah sepakat bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Trump menegaskan prioritas utamanya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Sementara itu, Iran terus membantah sedang mengembangkan bom nuklir dan menyatakan program atomnya ditujukan untuk kepentingan damai.

Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Lonjakan Harga Minyak

Sebagai bagian dari kesepakatan yang tengah dibahas, Teheran menginginkan penghentian konflik di Lebanon, akses terhadap miliaran dolar pendapatan minyak, pelonggaran ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, serta tetap memiliki pengaruh atas Selat Hormuz.

Israel Terus Gempur Lebanon

Perang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik tersebut juga menimbulkan dampak ekonomi global akibat gangguan besar terhadap pasokan energi dan jalur perdagangan internasional.

Konflik ini turut memicu babak terbaru ketegangan antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon. Israel bahkan melancarkan operasi militer terdalam ke wilayah Lebanon dalam 25 tahun terakhir.

Sumber keamanan Lebanon menyebut Israel pada Selasa (2/6/2026) terus melancarkan serangan ke sejumlah kota di wilayah selatan Lebanon, meskipun gencatan senjata parsial yang dimediasi Amerika Serikat telah diumumkan sehari sebelumnya.

Pada Rabu (3/6/2026), militer Israel menyatakan telah mencegat sebuah "pesawat udara bermusuhan" yang memasuki wilayah Israel utara.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×