Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar sepanjang sejarah guna meredam lonjakan harga minyak yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Mengutip laporan The Wall Street Journal pada Selasa (10/3/2026), langkah tersebut berpotensi melampaui pelepasan 182 juta barel minyak yang dilakukan negara-negara anggota IEA pada 2022, ketika Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina.
Baca Juga: Serangan Terbesar Hantam Iran, Pasar Tetap Bertaruh Perang Segera Berakhir
IEA dijadwalkan menggelar pertemuan luar biasa negara-negara anggotanya pada Selasa waktu setempat.
Dalam pertemuan itu, negara anggota diperkirakan akan membahas dan mengambil keputusan terkait proposal tersebut pada Rabu (11/3/2026).
Menurut laporan tersebut, rencana pelepasan cadangan minyak dapat disetujui jika tidak ada negara anggota yang mengajukan keberatan. Namun, satu negara saja yang menolak dapat menunda implementasi rencana tersebut.
Setelah laporan itu muncul, harga minyak langsung merespons dengan penurunan. Kontrak berjangka minyak mentah AS dan minyak mentah global Brent crude tercatat turun.
Baca Juga: Harga Minyak Balik Melemah, IEA Usulkan Pelepasan 182 Juta Barel Cadangan Minyak
Sementara itu, IEA dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters terkait rencana tersebut.
Sebelumnya, harga minyak acuan global sempat melonjak hingga mendekati level tertinggi dalam hampir empat tahun pada Senin (9/3/2026).
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Namun pada Selasa, harga minyak mulai melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang di Timur Tengah berpotensi segera berakhir.
Baca Juga: Maskapai Asia dan Eropa Ramai-Ramai Menaikkan Harga Tiket Akibat Konflik Iran-AS
Di sisi lain, para menteri energi negara-negara Group of Seven (G7) belum mencapai kesepakatan untuk segera melepas cadangan minyak strategis.
Mereka meminta IEA terlebih dahulu melakukan penilaian kondisi pasar energi sebelum mengambil langkah intervensi.













