Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Inflasi konsumen Korea Selatan meningkat pada bulan Mei ke level tertinggi lebih dari dua tahun, melebihi ekspektasi pasar. Hal tersebut terjadi karena harga minyak tinggi, yang dipicu oleh konflik Timur Tengah, mendukung argumen untuk pengetatan moneter dalam beberapa bulan mendatang.
Selasa (2/6/2026), Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan melaporkan, indeks harga konsumen (CPI) naik 3,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini jadi lonjakan terbesar sejak Maret 2024, setelah naik 2,6% pada bulan April 2026.
Realisasi tersebut juga lebih tinggi dari perkiraan median dengan kenaikan 3,0% dalam jajak pendapat Reuters.
Faktor utama inflasi konsumen Korea Selatan adalah harga produk minyak bumi yang melonjak 24,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Alphabet Incar Dana US$ 80 Miliar untuk Kembangkan AI, Berkshire Suntik US$ 10 Miliar
Minggu lalu, Bank Sentral Korea (Bank of Korea) mengisyaratkan akan segera beralih ke kebijakan yang lebih ketat untuk menekan inflasi dan mendukung nilai tukar won yang melemah.
Bank sentral, yang menargetkan inflasi sebesar 2% dalam jangka menengah, memperkirakan harga konsumen akan naik 2,7% tahun ini.
Inflasi inti tahunan, yang tidak termasuk harga pangan dan energi yang fluktuatif, meningkat menjadi 2,5% pada bulan Mei, dari 2,2% pada bulan April, menandai laju tercepat sejak Februari 2024.
Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,5% selama bulan tersebut, laju yang sama dengan bulan sebelumnya, tetapi lebih cepat dari kenaikan 0,3% yang diperkirakan oleh para ekonom.











