Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
SINGAPURA/NEW DELHI. Sistem pangan global dinilai lebih tangguh menghadapi fenomena El Nino "super" tahun ini dibandingkan dengan periode serupa pada masa lalu.
Persediaan pangan yang mendekati rekor, kemajuan teknologi pertanian, serta munculnya negara eksportir utama seperti Brasil dan Rusia menjadi sejumlah faktor yang dapat meredam dampak El Nino terhadap produksi dan harga pangan dunia.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan sejumlah analis menyebutkan, produksi pertanian global telah tumbuh lebih cepat dibandingkan konsumsi dan pertumbuhan populasi sejak dekade 1980-an.
Perubahan tersebut didorong oleh penggunaan varietas tanaman dengan produktivitas lebih tinggi, pemakaian pupuk yang semakin luas, serta perbaikan sistem irigasi dan perlindungan tanaman. Perkembangan ini turut meningkatkan hasil produksi komoditas pangan utama seperti beras, gandum, jagung, dan kedelai.
"Meski dalam kondisi kekeringan, pengelolaan irigasi yang lebih baik dan ilmu pengetahuan pertanian memungkinkan kita tetap menghasilkan panen yang dapat dipasarkan," ujar Andrew Whitelaw dari konsultan pertanian Australia, Episode 3.
Baca Juga: Trump Minta Iran Bayar Kompensasi Perang, Selat Hormuz Makin Sulit Dibuka
"Potensi dampak terhadap pasokan dan harga pangan global memang ada, tetapi kesiapan kita yang semakin baik membuat gangguan jauh lebih ringan dibandingkan yang mungkin terjadi pada beberapa dekade sebelumnya," lanjutnya.
El Nino Semakin Menguat
Dampak kekeringan akibat El Nino telah mengganggu penanaman tanaman pangan di berbagai wilayah Asia, termasuk India, Asia Tenggara, dan Australia. Risiko terhadap produksi pangan global juga meningkat akibat kelangkaan pupuk dan diesel yang dipicu oleh perang Iran.
India saat ini menghadapi musim monsun yang lebih lemah dari biasanya. Sementara itu, ancaman cuaca yang lebih kering mulai membayangi wilayah penghasil gandum utama Australia. Sejumlah tanaman pangan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand, juga terdampak kekurangan kelembapan.
Kondisi tersebut berpotensi memburuk. Meteorolog asal Amerika Serikat Chris Hyde dari perusahaan data dan citra satelit SkyFi mengatakan El Nino yang saat ini sudah kuat diperkirakan semakin intensif pada kuartal IV 2026 dan awal tahun depan.
"Perkiraannya adalah fenomena ini akan menjadi salah satu El Nino terkuat yang pernah tercatat, atau bahkan yang terkuat yang pernah terjadi di dunia. Artinya, dampak besar berupa kekeringan masih belum terjadi," kata Hyde.
El Nino merupakan fenomena cuaca yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian timur dan tengah. Fenomena tersebut biasanya menyebabkan kondisi lebih kering di sebagian besar wilayah Asia dan meningkatkan curah hujan di kawasan Amerika.
Pada periode 1997-1998 dan 2015-2016, El Nino yang kuat memangkas produksi sejumlah komoditas pangan utama. Kondisi tersebut kemudian memicu kelangkaan pangan, meningkatkan inflasi, serta menekan pertumbuhan ekonomi.
Harga gula dan minyak sawit melonjak setelah kekeringan memangkas produksi di Brasil, India, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Pada saat yang sama, mengetatnya pasokan beras mendorong sejumlah negara produsen di Asia Tenggara membatasi ekspor.
Baca Juga: Tumpahan Minyak Rusia di Oman Meluas Hampir 400 Kilometer Persegi
Kekeringan juga menekan ekspor gandum Australia dan mendorong negara-negara di Afrika bagian selatan meningkatkan impor jagung.
Stok Pangan Global Mendekati Rekor
Berbeda dengan kondisi pada episode El Nino sebelumnya, dunia saat ini memiliki sejumlah penyangga yang dapat membantu mengurangi dampaknya.
Persediaan biji-bijian global yang mendekati rekor, penggunaan benih tahan kekeringan, prakiraan cuaca yang lebih akurat, pertanian presisi, sistem irigasi yang lebih baik, serta munculnya negara-negara eksportir baru menjadi faktor yang diperkirakan dapat meredam dampak El Nino.
Di India, salah satu negara produsen pangan utama dunia, proses penanaman secara umum kembali sesuai jadwal setelah sebelumnya mengalami keterlambatan cukup besar.
Namun, curah hujan pada Agustus dan September akan menjadi faktor penting bagi proses pematangan tanaman dan pembentukan biji-bijian, kata Ashwini Bansod, Wakil Presiden Riset Komoditas Phillip Capital India di Mumbai.
India menyumbang sekitar 40% ekspor beras dunia. Negara tersebut saat ini memiliki persediaan beras dalam jumlah sangat besar hingga kapasitas penyimpanan untuk stok yang setara dengan lebih dari satu tahun total ekspor beras global mulai terbatas.
Sementara itu, hampir separuh stok gandum dunia yang melimpah saat ini berada di China, negara produsen sekaligus konsumen gandum terbesar dunia. Persediaan tersebut dapat menjadi cadangan yang membantu membatasi kebutuhan impor apabila kekeringan mengurangi produksi di Australia sebagai salah satu pemasok utama.
Stok minyak sawit global juga berada di dekat level tertinggi dalam sejarah. Namun, program biodiesel Indonesia yang agresif diperkirakan akan mengurangi persediaan tersebut dalam beberapa bulan mendatang.
Minyak sawit menyumbang sekitar 60% dari total ekspor minyak nabati dunia.
Brasil dan Rusia Jadi Penopang Pasokan Pangan
Kemunculan pusat-pusat ekspor baru yang hampir tidak memiliki peran besar beberapa dekade lalu turut menambah pasokan signifikan ke pasar global.
Brasil, misalnya, kini menjadi pemasok kedelai terbesar dunia. Ekspor kedelai negara tersebut telah meningkat lebih dari 13 kali lipat sejak periode 1997-1998.
Sementara itu, ekspor gandum Rusia melonjak menjadi 48 juta ton pada tahun lalu dari sekitar 1 juta ton pada periode 1997-1998.
Baca Juga: AS Perkuat Rantai Pasok Manufaktur di Tengah Lonjakan Investasi Asing
Perkembangan teknologi benih juga meningkatkan ketahanan produksi terhadap cuaca ekstrem. Para peneliti telah mengembangkan hibrida jagung tahan kekeringan yang digunakan secara luas di Afrika dan Amerika sejak 2015. Varietas tersebut membantu petani mempertahankan hasil panen ketika menghadapi periode kering dan curah hujan yang tidak menentu.
Varietas gandum yang tahan terhadap panas dan kekeringan juga semakin banyak digunakan di India dan Australia. Kemajuan dalam pemuliaan tanaman meningkatkan kemampuan tanaman menghadapi tekanan akibat keterbatasan air dan suhu tinggi sehingga mengurangi risiko penurunan produksi secara tajam akibat cuaca buruk.
Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, varietas padi berumur pendek membantu petani beradaptasi dengan pola hujan monsun yang semakin tidak menentu.
Petani saat ini juga memiliki berbagai perangkat digital yang hampir tidak tersedia ketika El Nino 1997-1998 terjadi. Teknologi tersebut mencakup pemantauan tanaman berbasis satelit, prakiraan iklim musiman, peta kelembapan tanah beresolusi tinggi, hingga aplikasi pupuk berbasis GPS yang memungkinkan penggunaan input pertanian secara lebih efisien.
"Para pemerintah memiliki informasi yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya dan mampu melakukan persiapan lebih awal," kata Kepala Ekonom FAO Maximo Torero kepada Reuters.
"Prakiraan kami dan transparansi pasar juga telah meningkat," lanjutnya.
Petani kini semakin banyak menggunakan platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menggabungkan prakiraan cuaca, data tanah, dan informasi tanaman untuk memberikan rekomendasi mengenai waktu tanam, irigasi, penggunaan pupuk, hingga pengendalian hama.
Perang dan Krisis Selat Hormuz Jadi Risiko
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa perang di Timur Tengah dan kawasan Laut Hitam dapat mengurangi optimisme terhadap ketahanan sistem pangan global.
Maximo Torero mengatakan perkembangan kondisi pada paruh kedua 2026 akan menjadi sangat menentukan, terutama karena penggunaan input pertanian berkurang akibat krisis Selat Hormuz dan harga pupuk yang lebih tinggi.
Baca Juga: Bank Sentral Australia Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 4,35%
"Banyak hal akan bergantung pada bagaimana kondisi berkembang selama paruh kedua 2026, khususnya mengingat berkurangnya penggunaan input pertanian yang disebabkan oleh krisis Selat Hormuz dan kenaikan harga pupuk," kata Torero.
Sebelum diblokade dalam perang Iran yang dimulai pada Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Blokade tersebut kemudian mengganggu pasokan bahan bakar dan pupuk global, sehingga menambah risiko terhadap biaya produksi pertanian dan ketahanan pangan dunia.
Dengan demikian, meski stok pangan yang besar, kemajuan teknologi pertanian, dan meningkatnya jumlah negara eksportir dapat menjadi penyangga terhadap dampak El Nino, ketahanan sistem pangan global tetap menghadapi sejumlah risiko.
Perkembangan cuaca pada paruh kedua 2026, ketersediaan pupuk dan bahan bakar, serta dinamika geopolitik akan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar dampak El Nino terhadap produksi dan harga pangan dunia.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
